Reuni Cowas JP IX di Jogja (15)

Wisata Semedi di Desa Pentingsari

COWASJP.COM – Lelaki 86 tahun itu bernama Sumardi, lengkapnya Sumardi Mardisoekismo. Dialah sosok penggagas sekaligus perintis Desa Wisata Pentingsari di Kecamatan Cangkringan, Sleman – DI Yogyakarta.

“Peresmiannya memang tahun 2008, tetapi di desa kami sudah banyak orang datang dan menginap di rumah-rumah warga sejak tahun 70-an,” ujar pria sepuh yang masih tangguh ini. Untuk sekian periode, ialah yang didapuk memimpin Desa Wisata Pentingsari.

Duduk memandangi matahari pagi yang baru terbit, kepada CowasJP ia mengilas masa lalu di desa berhawa sejuk, tak jauh dari objek wisata Kaliurang itu. Tersebutlah sebuah sendang yang terkenal “wingit”, bernama Sendangsari. Masih di desa yang sama, juga mengalir sungai yang dikenal sebagai Kali Kuning. “Dari dulu banyak orang bersemedi di dua objek itu, baik di Kali Kuning maupun di Sendangsari. Termasuk saya,” kata Mbah Mardi, sapaan akrabnya.

Tidak heran jika Sumardi menjadi tempat yang dituju banyak orang, ketika hendak meditasi atau semedi di Sendangsari atau di Kali Kuning. Bukan karena Sumardi warga asli Pentingsari, tetapi dialah warga desa yang lebih dulu “berbau kota”. “Berkat sepakbola, saya jadi sering keluar kota. Bahkan saya salah satu pemain yang memperkuat Timnas waktu Bung Karno mengadakan Ganefo tahun 1963,” ujarnya bangga. 

rumah-sumardi.jpg

Dari situlah ia dikenal dan berkenalan dengan banyak tokoh. Bukan saja bangga pernah bersalaman dengan Bung Karno, Sumardi juga bangga mengenal banyak tokoh lain seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Jenderal M. Jusuf, dan lain-lain. “Pak Jusuf termasuk yang sering ke sini. Setelah itu, hampir semua gubernur Akmil pasti ke sini. Banyak perwira yang kemudian menjadi jenderal pernah ke Pentingsari. Mereka tirakat dengan caranya masing-masing,” katanya.

Adapun tokoh pariwisata yang sangat akrab dengannya adalah mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika. Dia menteri Kabinet Gotong Royong, tahun 2000-2001 semasa Presiden Megawati Soekarnoputri. “Sebelum, selama, dan setelah menjadi menteri pak Ardika sering ke sini. Bahkan beliau mengaku, Desa Pentingsari yang mengilhami desa wisata-desa wisata di Bali. Jadi, desa wisata di Bali itu nyonto Pentingsari, awalnya,” kata Mardi.

Berkat I Gde Ardika pula, Desa Wisata Pentingsari mendapat penghargaan tingkat dunia yang mendasarkan pada penerapan Kode Etik Kepariwisataan Dunia, tahun 2011. Penghargaan diberikan di Pendopo Pentingsari oleh Dr. David de Villers, Ketua Komite Kode Etik Pariwisata Dunia (World Committee on Tourism Ethics – WCTE). Nah, I Gede Ardika adalah salah satu pengurus WCTE ketika itu.

============

Perhatian dunia terhadap Pentingsari, spontan mendatangkan berkah datangnya turis-turis asing yang menginap dan tinggal sementara waktu di Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri). “Saya pernah kedatangan tamu dari Jepang. Dia seorang wartawan, datang ke sini untuk meditasi di Sendangsari. Seminggu lamanya ia tirakatan di Sendangsari. Kalau malam saya menemani, kalau siang saya biarkan sendiri. Di akhir meditasi, ia mendapatkan kembang kanthil sebesar ini, berwarna kuning keemasan,” kata Mardi sambil menjulurkan jempol tangannya.

Berbincang dengan pak Mardi memang mengasyikkan. Terlebih soal pengalaman spiritual yang ia lakukan. Ia pernah dianggap mati suri enam jam lamanya. Padahal, ia sedang “ngrogoh sukma”. Sebuah istilah bagi pelaku spiritual, yang bisa melepas ruh dari tubuh kemudian masuk ke alam kelanggengan. “Saya jumpa Pengeran Diponegoro, berjumpa Panembahan Senopati, sampai Nyi Roro Kidul, Mbah Merapi, dan lain-lain,” ujar Mardi mengisahkan perjalanan spiritualnya.

Dari pengembaraaan spiritualnya pula, ia meyakini kisah Joko Tarub mengintip para bidadari mandi di sendang, terjadinya di Sendangsari, Cangkringan, tak jauh dari rumahnya. “Joko Tarub menikahi salah satu bidadari yang disembunyikan selendangnya sehingga tidak bisa kembali ke Khayangan itu, kejadiannya di sini, bukan di Desa Widodaren, Ngawi seperti banyak ditulis,” kata Mardi yakin.

sumardi1.jpg

Ia bahkan memberi jaminan tentang betapa Pentingsari menjadi area spiritual yang subur dan luhur . “Ajak saja teman yang gemar laku spiritual ke sini. Biar dia saja nanti yang bicara…,” katanya singkat.

Kebetulan, pagi itu, Desa Pentingsari kedatangan tak kurang dari 130 anggota Perkumpulan CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos) yang sedang mengadakan acara Reuni IX sekaligus Ulang Tahun III, Sabtu – Minggu (11-12 Agustus 2018). Salah satu anggota perkumpulan, Ita Nasyi’ah kebagian tempat menginap di rumah Sumardi. 

Ita yang ternyata memiliki indra keenam cukup tajam, dan bisa merasakan hal-hal astral, membenarkan ihwal banyaknya aura spiritual di sekitar rumah Sumardi khususnya dan di area Desa Wisata Pentingsari pada umumnya. 

“Pak, di atas sana ‘ada’ ya? Di sebelah dalam juga ‘ada’….,” kata Ita yang dijawab pak Mardi, “Iya… ‘ada’…. mbaknya bisa ‘lihat’ tho? Yang di atasmu itu apa, hayooo…..”

Ita menjawab, “Ada benda terang… besar…..” Sumardi membenarkan, “Benar… itu pemberian eyang Brawijaya. Wujudnya seperti lampu besar bercahaya terang.”

Ita pun menggosok-gosok lengan tangannya yang mendadak saja merinding. (*)

Pewarta : Roso Daras
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda