Melihat Pameran "Sirkuit: Ahli Waris Etape Satu" (3)

Mengkonfirmasi Wawancara 9 Tahun Lalu

(Foto-foto Erwan Widyarto)

COWASJP.COMUSAI menikmati karya-karya di lantai satu, Jeannie Park membawa saya ke lantai dua. Saya benar-benar menjadi tamu spesial. Satu-satunya pengunjung galeri di saat tutup. Kamsia Tet! 

BACA JUGA: Bukti Keberhasilan Bagong Mewariskan Aset

Di lantai dua berwujud letter L inilah karya anak dan cucu Bagong dipajang. Karya seni yang beragam. Dari pintu masuk ke arah kiri, kita disuguhi karya foto Djaduk dan Otok Bima Sidharta. 

foto1.jpg

Otok Bima Sidharta yang lebih dikenal di dunia gamelan (karawitan) dan tari --sesuai pendidikan formalnya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI)-- juga membebaskan diri dalam berkarya seni. Otok pun berkarya lewat kanvas. Karyanya dipajang pada satu sisi di dinding ruangan lantai dua.

BACA JUGA: Bukti Keberhasilan Bagong Mewariskan Aset

Butet Kartaredjasa yang dikenal di seni teater dan sebagai Raja Monolog, memajang karya kriya keramik, sketsa dan lukisan (cat air maupun akrilik). Namun, isu-isu sosial politik dan kritik tajamnya tetap terasa seperti dalam naskah monolognya.

gallery2.jpg

Guna mengkritisi perihal perpolitikan yang diramaikan dengan isu tentara dan partai politik, Butet membuat visualisasi berupa patung. Dua pstung keramik berjudul "Celeng Berburu Doreng" dan "Celeng Berburu Beringin" (karya tahun 2017) merefleksikan situasi tersebut.

gallery3.jpg

Begitu juga karya lukis cat air "Mengencingi Jakarta" yang menggambarkan Gedung DPR/MPR dikucuri air kencing. Atau "Kegedean Cangkem" yang menggambarkan sosok yang mulutnya terlalu besar sehingga selalu nyinyir menyikapi keadaan.

Selain kritis menyikapi keadaan, lewat karya-karyanya ini Butet juga ingin menunjukkan sikap merdeka dari pemenjaraan kreativitas. 

gallery4.jpg

"Karena saya telanjur meyakini kreativitas seni itu tanpa batas teritori, maka ruang untuk mengartikulasikan gagasan, pesan dan sebangsanya, bisa dihadirkan melalui aneka bahasa, media dan jenis seni apapun," tegas Butet.

Melaksanakan ajaran Bagong, Butet menegaskan bahwa kita tidak boleh terjebak dalam kotak medium seni. Kemudian bersetia dan ngendon di "cabang seni" yang ditekuni itu sampai mati. 

gallery5.jpg

Yang ngendon di seni tari, di situ sampai mati. Yang aktif di seni pertunjukan bercokol di situ sampai  mampus. Yang perupa, tabu tampil bermusik, atau main pantomim. Begitu pun sebaliknya. Yang mencoba membebaskan diri dikutuk sedang menyeberang atau berkhianat.

Lewat pameran ini, Butet sebagai ahli waris Bagong menunjukkan bahwa kotak-kotak seni yang memenjarakan kreativitas harus diterabas. Butet menegaskan dirinya hadir melalui seni visual tidak sedang menyeberang apalagi berkhianat. Melainkan menyajikan hasil pengembaraan yang lebih liar dalam membahasakan kreativitas.

gallery6.jpg

Apa yang ditegaskan Butet ini wujud nyata dari wawancara saya dengan Butet pada tahun 2009 yang dimuat Jawa Pos beserta anak perusahannya pada edisi 29 Januari 2009. 

Waktu itu Butet menegaskan sedang mewarisi sebuah gagasan estetik, spirit dan ideologis dari almarhum Bagong dalam berkarya seni.

gallery7.jpg

”Spirit dasar itu adalah mendekatkan seni dengan masyarakat. Pak Bagong juga menghilangkan sekat kesenian. Tak ada kotak seni tari, seni rupa, maupun teater,’’ jelas Butet. (Jawa Pos, 29/1/2009)

Hasil pengembaraan dan upaya menerobos sekat juga bisa dilihat  dalam karya putra bungsu Bagong, G Djaduk Ferianto. Ulasan seputar karya Djaduk ini sudah saya tulis pada seri yang pertama. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda