Melihat Pameran "Sirkuit: Ahli Waris Etape Satu" (2)

Bukti Keberhasilan Bagong Mewariskan Aset

Patung karya Bagong Kussudiarjo yang dipamerkan di ruang utama. (Foto-foto: Erwan W)

COWASJP.COMDARI tempat saya ngobrol dengan Djaduk, Mbak Jeannie mengajak saya langsung ke galeri. Galeri yang mestinya libur, dibuka "khusus" untuk saya. Galeri dua lantai yang berada di samping Aula Diponegoro yang biasa dipakai latihan menari atau Teater Gandrik.

Galeri buka dari hari Selasa hingga Sabtu pukul 11.00-18.00 WIB. Dalam rangka libur Lebaran, galeri ditutup dari tanggal 13 Juni, dan akan kembali dibuka tanggal 23 Juni 2018. Pameran Sirkuit Ahli Waris Etape Satu berakhir 30 Juni 2018. 

BACA JUGA: Bukti Keberhasilan Bagong Mewariskan Aset

"Senin galeri libur tapi kantor tidak. Jadi saya hanya dari situ ke sini. It's no problem," kata Mbak Jeannie sambil menunjuk bangunan kantor di belakang galeri. Rupanya dia berusaha meyakinkan saya untuk tidak galau kendati datang ke galeri saat jadwal galeri tutup.

Di galeri, saya pun disambut satu lagi perempuan pemandu pameran. Satu tas berisi buku kuratorial disiapkan di samping buku tamu. Usai mengisi buku tamu dan menerima buku panduan kuratorial, saya diajak menuju ke ruang utama lantai satu. Di sinilah karya-karya Bagong Kussudiarjo disajikan.

bagong1.jpg

Menilik judul pameran yang menggunakan istilah Sirkuit, maka kita dibawa ke arena balapan. Kita juga bisa membayangkan arsitek pembangun sirkuit Hermann Tilke.

Maka, dalam pameran ini Bagong Kussudiarjo membuktikan dirinya lebih dari seorang Hermann Tilke. Bagong terbukti tidak hanya menyiapkan arena "balapan" melainkan juga mempersiapkan pembalapnya. Pembalap Etape Satu ini adalah ahli waris biologis maupun ideologis. Yakni anak-anak dan cucunya.

Pameran yang digelar di Ruang Galeri Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo, Kembaran, Kasiihan, Bantul ini diikuti oleh Bagong Kussudiarjo, Otok Bima Sidharta (anak ke-4), Butet Kartaredjasa (anak ke-5), Djaduk Ferianto (anak ke-7) dan Doni Maulistya (cucu, anak dari putri sulung Ida Manutranggono).

bagong2.jpg

"Pak Bagong berhasil melahirkan pebalap yang terdidik dan mental kuat karena berani turun sirkuit. Etape satu, pak Bagong melahirkan aset kesenimanannya sendiri yang diwarisi oleh anak-anaknya dan cucunya,” kata Kurator Pameran Suwarno Wisetrotomo.

Pameran ini menjadi wujud "melaksanakan amanah" Bagong Kussudiarjo yang tidak mengotak-ngotakkan seni. Atau kebebasan memilih sirkuit bagi ahli warisnya. Karya yang ditampilkan berupa lukisan, sketsa, foto, dan kriya.

Almarhum Bagong yang dikenal sebagai koreografer, pencipta berbagai tarian, kali ini memamerkan karya seni rupa --lukisan, sketsa dan patung. Semua karyanya tetap memiliki nafas tari. Lihat saja judul-judulnya. Ada "Penari, Penari Bali (hingga 4 seri lebih), Belajar Menari, Baris (beberapa lukisan berjudul ini), Rangda dan Legong. 

bagong3.jpg

Sketsa dan patung karya Bagong pun menggambarkan berbagai ekspresi tubuh orang yang sedang menari. Menurut Jeannie Park, patung-patung yang dipamerkan itu sebenarnya merupakan suvenir yang diciptakan oleh Bagong. Jadi, sangat personal. Sepertinya Bagong  melihat cantriknya menari saat membuat karya ini. 

Ada satu karya yang "tidak terkait" dengan penari. Berjudul "Ratu Kidul". Namun begitu, sosok dalam lukisan inipun terlihat seperti seorang penari. Perempuan bermahkota dengan tangan gemulai menyibakkan selendang merahnya.

Semua karya Bagong ini diletakkan dalam satu ruangan di lantai satu. Di ruangan ini terpasang pula satu layar televisi yang memutar video dokumentasi mengenai Bagong. Di dalamnya ada pandangan Sardono W Kusuma tentang Bagong. 

Karya Bagong yang dipamerkan kali ini berbeda dengan karya yang dipamerkan pada pameran Sirkuit tahun 2017. Waktu itu karya Bagong yang ditampilkan lebih variatif. Ada potret diri, ada lukisan pantai, wanita nelayan, model hingga yang bernuansa relijius: seputar penyaliban. 

Bagaimana dengan karya Butet, Otok Bima Sidharta dan Donie Maulistya? (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda