Menonton Film di Bioskop Pertama yang Ada di Riyadh

Status Suami Istri Dicek, Tempat Duduk Tanpa Nomor Kursi

Foto-Foto: Istimewa

COWASJP.COM – Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Kholid Fathoni mendapat pengalaman menarik di Riyadh. Di sela-sela menghadiri malam diplomasi budaya bertajuk Indonesia Night in Bamboo Harmony, 3 dan 4 Mei 2018, Kholid berkesempatan menonton film di bioskop pertama yang dibuka di Saudi Arabia.

Bioskop pertama tersebut ada di ibukota Saudi Arabia, Riyadh. Namanya Cinema Noon.  “Gedung bioskop Cinema Noon merupakan bioskop satu-satunya dan pertama dalam sejarah negeri ini," jelas Staf Khusus Duta Besar RI untuk Saudi Arabia Ashady yang mendampingi Kholid menonton.

Pembangunan bioskop ini, tambah Ashady, seiring dengan arus reformasi yang digelindingkan oleh Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz saat ini. “Kerajaan sebentar lagi juga akan membuka bioskop di Mal Riyadh Park serta puluhan lainnya di seluruh kota di Saudi,” tambah alumni UIN Sunan Kalijaga Jogja ini.

Kholid memilih waktu menonton di saat matahari mulai mengurangi sangatannya di langit Riyadh, yaitu pukul 15.00. Jam ini merupakan jadwal pertama dengan kategori penonton khusus keluarga. Keluarga?

bioskop1af1ee.jpg

Ya. Harus satu keluarga yakni ada pasangan suami-istri. Informasi seperti itu sudah didapat sejak di Wisma KBRI. Maka, Kholid dan Ashady pun mengajak staf KBRI yang istrinya mau diajak nonton. 

Persyaratan harus ada istri ini benar-benar dikontrol sejak mobil penonton memasuki koridor luar gedung. Terdapat cukup banyak deretan penjaga berbaju polisi memeriksa tiket, status keluarga, hingga penggantian tiket dengan gelang kuning. 

Kalau yang jomblo atau bujangan bagaimana? Bagi penonton jomblo atau bukan keluarga, waktu menonton di bioskop hanya boleh di jadwal pukul 23.30. Waktu yang bagi penonton Indonesia sangat malam. 

Cinema Noon yang dibuka sejak 18  April lalu, baru memutar dua judul film. Yakni Black Phanter (sudah turun tayang) dan Avengers yang ditonton Kholid Fathoni. Film ini berbarengan dengan masa putar di Indonesia.

Bagaimana kesan Kholid terhadap Gedung Bioskop di Riyadh ini? "Untuk ukuran kawasan hiburan, gedung Cinema Noon ini tergolong mewah dan eklusif. Selain interior bioskop yang elegan, gedung sebesar itu hanya dipergunakan untuk tujuan bioskop saja," ujar Kholid.

Cinema Noon dibangun bersama gedung-gedung lain. Beberapa gedung  di sebelahnya masih kosong dan menurut rencana akan menjadi kasawan niaga terpadu yang cukup bergengsi di kota Riyadh. 

Meski baru dibuka, setting layar dan unsur pendukung lainnya semisal sound, sarana kedap suara, posisi toilet, hingga kantin memberi kesan bahwa garapan pengembangan bioskop di Saudi Arabia tidaklah mulai dari level amatir.  Bahkan bisa dikatakan sudah setara dengan kemajuan gedung film, katakanlah di Indonesia. 

bioskop21448a.jpg

Kholid yang bertugas pada lembaga penyusunan kebijakan teknis di bidang pengembangan perfilman ini  sempat mengintip lebih dalam. Menurutnya, pembangunan gedung film di Saudi ternyata memang tidak saja sudah ditopang dengan riset yang memadai dan persiapan yang matang, namun pengembangnya tidak main-main. Yakni dengan diterjunkannya langsung perancang dari negeri paman Sam, Adam Aroon. Di bawah bendera perusahaan AMC sebagai the entertainment holding company.

Aura bioskop Riyadh tak ubahnya bioskop-bioskop terkemuka di Amerika. Tiketnya sudah langsung menggunakan sistem pembelian on-line, di dalamnya ada penjual pop corn dan sofdrink yang melekat dengan interior studio film.
 
"Kami hanya sedikit kurang nyaman dengan  jumlah kursi yang mencapai seribuan untuk satu layar. Jok kursinya juga sayang masih menggunakan plastik sintesis. Saat masuk terlihat sedikit semrawut karena nomor kursi belum diberlakukan," ungkap alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak ini.

bioskop3.jpg

Namun semua kekurangan itu tertutup oleh fenomena pembaruan sosial masyarakat Saudi dewasa ini yang sangat membelalakkan mata.  Pelayan tiket hingga penjual popcorn ikut menyertakan peran wanita Saudi sebagai pramusaji. Beberapa bahkan membiarkan rambut mereka tergerai di balik kerudung hitam yang dibiarkan melorot. 

Sungguh luar biasa, karena fenomena itu baru terjadi sekarang. Di dalam bioskop para wanita juga bebas membuka cadar dan kerudung.

Kedatangan Kholid ke Riyadh juga dalam rangka penjajagan kerjasama perfilman Indonesia di Saudi. Kemendikbud hadir atas undangan Duta Besar RI di Riyadh, Agus Maftuh Abegebriel. Pembahasan kerjasama bidang perfilman ini dalam kerangka kerjasama kebudayaan Indonesia-Saudi Arabia, dalam bingkai diplomasi Saunesia yang diusung Dubes Agus Maftuh.

Selama 48 tahun Indonesia belum pernah punya hubungan bernuansa kebudayaan dengan Saudi. Kesuksesan parade budaya 20 negara yang melibatkan pertama kalinya untuk Indonesia di Jandariyyah tahun lalu penting untuk diteruskan. 

biokop4120dc.jpg

“Baru saja kita menggelar diplomasi bambu dengan penampilan seni angklung yang sangat memukau di sini. Saatnya film Indonesia kita usung untuk lebih mempererat lagi keterikatan budaya kedua negara," tandas Dubes Agus.

Dalam satu perbincangan, Dubes Agus Maftuh mengatakan KBRI berencana menggelar pemutaran film-film Indonesia. Semacam Festival Film Indonesia. Semoga di tahun 2018 ini bisa terlaksana. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda