Mengunjungi Ruhama, Shelter Penampungan bagi WNI Yang Belum Beruntung (2)

Dipulangkan 50 Orang, Masuk 100 Orang

Foto-Foto: Erwan Widyarto/CoWasJP

COWASJP.COM – "Mereka adalah WNI yang belum beruntung," begitu istilah Dubes RI untuk Saudi Arabia Agus Maftuh untuk mengganti kalimat "TKI yang bermasalah." 

Agus Maftuh menggunakan diksi tersebut karena mereka memang bukan pembuat masalah. "Setelah kami dalami banyak kasus, pemasalahan bukan dari mereka," tegas Agus Maftuh.

Permasalahan muncul di tempat lain. Ada di Jakarta, ada di daerah-daerah di Indonesia. KBRI Riyadh yang terkena limbahnya. Dubes Agus Maftuh mengatakan kendati moratorium pengiriman tenaga kerja sudah dihentikan, aliran TKI tak pernah berhenti. 

BACA JUGA: Mata Kiri Cacat, Ikhlaskan Gaji SAR 20 Ribu​

Sejumlah WNI di tempat penampungan menceritakan mengapa ia bisa datang ke Saudi. Kata mereka, saat rekrutmen, mereka dibekali nasehat. "Pokoknya berangkat saja. Kalau nggak kerasan di majikan, lari saja. KBRI pasti akan ngurusi," ungkap Agus Maftuh.

kbri1.jpg

Alumni Pondok Pesantren Futihiyyah Mranggen Demak mencontohkan. Ada yang datang dengan izin visa cleaning service. Tugas mereka harusnya di kantor. "Tapi sampai di sini dialihkan ke majikan selaku pembantu rumah tangga. Maka bayangan kerja kantoran pun hilang dan mereka tidak kerasan tinggal di majikan. Akhirnya lari dari majikan. Dan KBRI-lah yang punya kewajiban mengurus," tambah ayah empat anak ini.

Tak ada yang menyangka bekerja sebagai pembantu. Apalagi ada moratorium. Mereka tahunya kerja sebagai tenaga trampil di kantoran. 

kbri2.jpg

Fakta lain. Masih ada jalur tikus pengiriman WNI ini. Pernyataan ini didukung data oleh Atase Hukum Muhibuddin. Mereka datang dengan izin resmi visa ziarah. Namun, sebenarnya mereka dipekerjakan sebagai TKI. Saat visa habis, mereka yang sebenarnya memang bukan untuk ziarah (umroh), tidak memperpanjang visanya. 

Maka saat ada masalah, posisinya sangat lemah. Mereka tidak memiliki iqomah (izin tinggal) yang sah. Tidak ada pula data yang akurat mengenai keberadaan mereka. Keberadaan baru terdeteksi ketika ada masalah. Atau ada keluarga yang mencari.

Ini yang membuat Ruhama tidak pernah sepi. "KBRI berhasil memulangkan lima puluh orang. Yang masuk seratus orang. Bahkan kami yakin yang ada di rumah singgah ini hanya dua persen dari seluruh WNI yang belum beruntung dan berada di luar jangkauan KBRI," tambah Agus. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda