Umroh The Power of Silaturahim II (25)

Mencuci Hati di Tanah Suci

Penulis adalah Ketua Harian Paguyuban Budiasi anggota Jamaah Umroh POS II, tinggal di Bogor - Jawa Barat. (Foto: The POS II)

COWASJP.COM – Sulit dipercaya, saya yang sempat ragu dan pesimistis akhirnya bisa juga sampai pada hari yang dinanti-nantikan para anggota Jamaah Umroh The Power of Silaturahim (POS) II. Senin (16/4/2018), saya dapat berkumpul bersama saudara/saudari dari berbagai daerah di Mess Perwakilan Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Seskoad) di Jalan Kesatrian No 4 Berlan, Matraman, Jakarta Timur. 

Allah memang sungguh luar biasa Maha Kuasa. Dia punya cara tak terbilang untuk memuliakan dan mengangkat moril hamba-hamba-Nya. Sebagai muslim, siapa yang tidak mendambakan undangan bertamu ke Rumah Allah (Baitullah) di Mekah dan berziarah ke makam Rosulullah SAW di Masjid Nabawi Madinah? Sebagai prajurit, siapa yang tidak bangga bisa menginap di mess yang diperuntukkan bagi para perwira calon pemimpin TNI/TNI-AD? 

Di titik inilah saya sebagai muslim dan prajurit TNI AD sangat bersyukur mendapat karunia melalui tangan Pak Aqua Dwipayana. Lantaran terpilih menjadi anggota Jamaah Umroh POS II, saya dapat berada di Mess Seskoad itu bersama 38 orang-orang terpilih. Dua malam kami menginap di sana sebelum terbang ke Jeddah, Arab Saudi, untuk menuju Tanah Suci (Madinah dan Mekah) pada Rabu (18/4/2018). Dua malam yang terasa sangat singkat itu menorehkan kesan teramat dalam di relung batin saya sebagai muslim, warga negara, dan prajurit TNI AD. 

Para jamaah berkumpul di mess tersebut dalam suasana penuh persaudaraan dan keakraban seolah sudah saling kenal cukup lama. Padahal sesungguhnya, itulah kali pertama jamaah dipertemukan secara langsung secara tatap muka. Kami saling berkenalan, bertutur sapa, dan berbagi cerita. Bersyukur, pihak Mess Seskoad atas arahan Komandan Seskoad Mayjen TNI Kurnia Dewantara memperlakukan Jamaah POS II dengan cukup istimewa. 

nabawi.jpgFoto: Sukma/The POS II

Pengelola mess yang dikomandoi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan Seskoad Serma TNI Basrin Umasugi bukan sekadar menyiapkan kamar-kamar dan perlengkapannya. Kami disuguhi pula makanan dan minuman. Percakapan Jamaah POS II pun makin gayeng sambil menikmati teh atau kopi dan cemilan yang tersedia. Sungguh, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

Menguatkan keindonesiaan

Kami berbicara tanpa sekat-sekat status sosial ekonomi dan latar belakang etnis maupun kedaerahan. Semua larut dalam persaudaraan sebagai sesama muslim/muslimah Indonesia. Ini tentu berkat turun tangan langsung Pak Aqua dan Pak Nurcholis yang selalu ingin memastikan semua kesiapan dan kelengkapan serta keterpaduan jamaah. 

bni-syariah.jpgSuasana di Mess Sekoad Jakarta  (Foto: Sukma/The POS II)

Saya salut pada Ketua Rombongan, yakni Pak Nurcholis, yang mengatur detil sedemikian rupa sampai formasi kamar. Jamaah yang berbeda latar belakang usia, pendidikan, profesi, etnis, dan daerah ditempatkan dalam satu kamar. Sehingga, berbaurlah jamaah dari berbagai kota di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Pertemuan yang menguatkan keindonesiaan.

Skenario Tuhan memang sungguh sempurna. Mess Seskoad –disadari atau tidak- ternyata bukan hanya sebagai tempat transit jamaah dari berbagai daerah itu (hanya dua orang yang dari Jakarta). Lebih dari itu, Mess Seskoad telah menjadi “Kawah Candradimuka” jamaah sebelum bertolak meninggalkan Tanah Air menuju Tanah Suci. Di sana, kami tidak sekadar bersilaturahim saling mengenal satu sama lain dan berbagi cerita atau pengalaman. Kami juga mendapatkan pembekalan, motivasi, dan manasik. 

sekoad.jpgSuasana di Mess Sekoad Jakarta  (Foto: Sukma/The POS II)

Bersyukur, kami merasakan mendapat berbagai keistimewaan. Saat manasik di Masjid Al Mabrur di Kompleks Dinas Pembinaan Mental (Disnbintal) TNI AD yang sepelemparan batu dari Mess Seskoad, kami mendapatkan pembekalan dari pembimbing terbaik NRA Tour & Travel, yakni Ustadz Ali Nurul Hak. Bukan hanya itu, Kadisbintal TNI AD Brigjen TNI Abdul Karim juga berkenan bergabung bersama kami pada Selasa (17/4/2018) pagi itu. Beliau sempat memberikan suntikan semangat kepada Jamaah POS II. 

Di hari yang sama, selepas manasik, seluruh anggota jamaah dijamu makan siang oleh Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Mayjen TNI Doni Monardo. Mantan Danjen Kopassus dan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVI/Pattimura dan III/Siliwangi itu juga memberikan motivasi kepada jamaah. 

Pengalaman Aneh di Bandara Jeddah

Rabu (18/4/2018) pagi seusai sholat Subuh, kami bergegas ke kamar mengambil barang-barang untuk dibawa ke bus. Dua bus Seskoad yang khusus didatangkan dari Bandung siap mengangkut Jamaah POS II ke Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten. Alhamdulillah, perjalanan ke bandara sangat lancar. 

Kami terbang menumpang pesawat maskapai penerbangan nasional Garuda dengan nomor penerbangan GA 980 pada pukul 11.35 WIB. Jujur saja, selama penerbangan saya masih belum dapat membayangkan suasana beribadah di Masjid Nabawi di Madinah Al Munawwaroh dan umroh di Masjidil Haram, Mekah Al Mukarromah. Maklum, saya –juga rekan-rekan lainnya- belum punya pengalaman. Kami memang sudah mendapatkan pembekalan dari Pak Nurcholis via grup WA maupun Ustadz Ali saat manasik. Namun, bagi kami yang belum pernah sama sekali ke Tanah Suci –atau terpikir dapat ke Tanah Suci, gambaran suasana itu masih serasa mengawang-awang. 

garuda.jpgSuasana rombongan jamaah Umroh The Power of Silaturahim II​ di dalam pesawat Garuda (Foto: Sukma/The POS II)

Setelah menempuh penerbangan sekira sembilan jam, mendaratlah pesawat Garuda yang kami tumpangi itu dengan mulus di Bandara King Abdul Aziz Jeddah sekira pukul 17.30 waktu setempat. Ada pengalaman tak terlupakan saat berhadapan dengan petugas imigrasi di Bandara King Abdul Aziz. Petugas itu memerintahkan saya mengulang-ulang mengucapkan nama belakang saya. Entah apa maksudnya, saya pun tidak tahu.  Apalagi, si petugas menggunakan bahasa Arab yang saya tidak tahu maknanya. Yang jelas, setiap kali saya mengucapkan nama belakang saya itu, dia tertawa seperti ada yang  lucu. 

“Ini petugas kayak enggak ada kerjaan saja,” pikir saya seraya berharap tidak ada konotasi negatif atau jorok terkait dengan nama belakang saya dalam bahasa atau dialek Arab setempat. 

Nikmatnya Beribadah, Tak Kuasa Menahan Banjir Airmata

Sebagai prajurit, saya terlatih tegar menghadapi situasi apapun saat bertugas. Tetapi entah kenapa, itu tidak berlaku saat kami larut dalam kekhusyu’an ibadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Yang saya yakini sepenuhnya, itulah kemahabesaran dan kemahakuasaan Tuhan. Kita ini mahluk yang tidak ada apa-apanya di hadapan Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta dan Penguasa Alam Semesta. 
Lewat tengah malam rombongan kami tiba di Hotel Rawda Al-Aqiq Madinah. Ustadz Ali pembimbing kami memberikan penjelasan singkat seputar Masjid Nabawi dan rencana kegiatan pagi nanti. Beliau menyarankan kami istirahat sejenak di kamar masing-masing dan sejam sebelum subuh harus sudah berangkat ke Masjid Nabawi. 

Saya ke kamar hanya untuk menaruh barang-barang bawaan. Setelah itu, bersama anggota lain Jamaah POS II, kami langsung “orientasi medan” ke Masjid Nabawi yang letaknya kurang lebih 200an meter dari hotel. Pengenalan medan yang akan menjadi pusat tempat ibadah kami selama di Madinah itu sangat penting demi kelancaran kegiatan ibadah itu sendiri. Selain itu, sebagai antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kita sudah tahu tempat terdekat untuk berlari menyelamatkan diri. Maklum, ini insting prajurit yang sudah melekat. 

nabawi1.jpgSuasana di Masjid Nabawi (Foto: Sukma/The POS II)

Terlepas dari itu, Masjid Nabawi seperti punya magnet kuat yang menarik-narik kaum muslim yang tiba di Madinah untuk bersegera ke sana. Apalagi bagi yang baru pertama kali ke sana seperti saya ini. Karena itu, saran beristirahat (tidur) terlebih dahulu diabaikan demi untuk bersegera “lapor” kehadiran di masjid yang luasnya mencapai 100.000 m2 itu. 

Sesampai di Masjid Nabawi, saya benar-benar “tersedot” dalam pusaran yang kemudian membuat saya merasakan sangat sayang kalau hanya datang untuk sekadar survei. Saya langsung tenggelam dalam suasana kebatinan yang mendorong siapa pun yang datang ke situ untuk semata-mata mengoptimalkan kesempatan beribadah. Alhamdulillah, saya dapat masuk sampai ke Raudhoh dan sholat serta berdoa khusyu di tempat mustajab yang oleh Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai Taman Surga itu. 

Di sebelah makam Rosulullah SAW itu, saya mengucap penuh syukur dan haru seraya memuji kebesaran dan kekuasaan Allah. Saya merasakan kenikmatan batiniah yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tanpa terasa, air mata bercucuran. “Yaa Allah Engkau telah mengirimkan malaikatmu berwujud manusia hingga hamba bisa sampai ke rumah-Mu Yaa Allah…..,” tangisan pun pecah. Tak henti hentinya saya mengucap syukur seraya memohon pengampunan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Luas ampunan-Nya. 

nabawi3.jpgSuasana di Masjid Nabawi (Foto: Sukma/The POS II)

Spontan mulut mengucapkan serentetan kata memanjatkan doa kepada Allah untuk Pak Aqua sekeluarga yang telah memberikan kesempatan umroh. Semoga Allah mudahkan rejeki beliau dan beliau selalu mendapatkan kemudahan dan kesehatan. Juga untuk Pak Nurcholis yang membuat saya optimistis dan bisa berada di rumah Allah serta Bapak Mayjen Doni Monardo yang sudah saya anggap orang tua. Terima kasih atas bimbingan dan banyak hal yang dapat saya petik selama melayani beliau. 

Alhamdulillah, selama di Madinah, Allah memanjakan saya dan memberikan kemudahan untuk selalu bisa sholat di Raudhoh, tempat yang diidamkan oleh siapa pun yang berkunjung dan beribadah di Masjid Nabawi. Saya dapat merasakan Allah begitu dekat, sangat deket, lebih dekat daripada urat leher ini.

Bersimpuh di Depan Ka’bah

Itu pula yang saya rasakan ketika kami tiba di Mekah, Sabtu (21/4/2018) malam dalam keadaan memakai kain ihrom. Setelah check in di Swissotel Al-Maqom di Zamzam Tower, kami segera di kamar masing-masing menaruh tas tentengan. Setelah sebelumnya kami masuk hotel dari pintu lobi lain, kali ini kami turun ke pintu yang langsung menghadap Ka’bah.

Hati saya bergetar menatap bangunan suci yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah dan kini menjadi kiblat ummat muslim seluruh dunia itu. Tak kuasa airmata menetes membasahi pipi. Rasanya tidak percaya saya bisa sampai di pelataran depan Ka’bah, bangunan berbentuk kubus yang berdiri megah berselimut kiswah (kain beludru hitam) itu. 

Alhamdulillah, Allah kembali menunjukkan kekuasaan dan kebesaran-Nya serta Rahman dan Rahim-Nya. Saya selalu mendapatkan kemudahan dan kesehatan sehingga bisa melaksanakan ibadah umroh dengan selamat dan lancar dalam kondisi tetap bugar. Sholat lima waktu pun terasa nikmat luar biasa. Saya manfaatkan sepuas-puasnya kesempatan di Mekah untuk sholat dan bersimpuh di depan Ka’bah. Sungguh pengalaman batin yang luar biasa dan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

kaabah-anyar.jpg

Selain berthawaf dan sa’I,  Allah memberikan kesempatan saya sholat di Hijir Ismail, salah satu sisi di dekat dinding Ka’bah yang kami yakini sebagai tempat mustajab untuk menjatkan doa dan memohon ampunan-Nya. Selain itu, saya berkesempatan memegang dan mencium pintu Ka’bah dan memegang Hajar Aswad di tengah lautan ummat yang larut dalam ritual puja puji terhadap Allah Sang Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. 

Kalau bukan karena pertolongan dan kemudahan yang Allah berikan, sulit rasanya mencapai semua itu. Dari situlah saya merasakan syukur yang sangat mendalam dan kepuasan batin tak ternilai. Hati ini pun semakin mantap melangkah untuk berusaha menjadi insan yang lebih baik dalam bertutur kata, sikap, tindakan, dan perilaku, menjaga sholat lima waktu, berbagi ke sesama, dan menjaga tali silahturahim seperti yang konsisten dilakukan Pak Aqua. 

Tak terasa kami harus meninggalkan Tanah Suci itu untuk kembali ke Tanah Air. Alhamdulillah Yaa Allah, Tuhan Maha Kasih yang teramat sangat sayang kepada hamba-hamba-Nya. Maha Suci Engkau Yaa Allah yang telah mempertautkan hati hamba-Mu yang lemah, hina, dan tidak ada apa-apanya di hadapan-Mu ini dengan Ka’bah, kiblat ummat Islam di seluruh penjuru kolong langit. Saya  meninggalkan Tanah Suci dengan berat hati dan penuh rindu untuk dapat kembali bersimpuh di pelataran rumah-Mu di Masjidil Haram, dalam rangkaian ibadah haji/umroh. 

Terima kasih untuk Pak Aqua yang telah memberi hadiah istimewa buat saya. Semoga rizki dan kesehatan tak henti henti Allah kucurkan kepadamu. Begitu juga kepada Pak Nurcholis atas semangat yang disuntikkan ke saya laksana tonikum pembangkit semangat dan rasa percaya diri saya yang semula pesimistis menjadi optimistis untuk beribadah umroh. Terima kasih juga kepada keluarga besar Jamaah The Power of Silahturahim II yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Tawa dan candamu tidak akan saya lupakan.

Salam hormat. Semoga Allah mempertemukan kita di jalan amal untuk terus menebar kebajikan bukan hanya kepada diri dan keluarga melainkan juga sesama anak bangsa serta mahluk Tuhan di muka bumi dan alam semesta ciptan-Nya ini. (*)

 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda