Umroh The Power of Silaturahim II (24)

Sempat Pesimistis, Akhirnya Allah tetap Panggil Saya ke Tanah Suci

Penulis adalah Ketua Harian Paguyuban Budiasi anggota Jamaah Umroh POS II, tinggal di Bogor - Jawa Barat. (Foto-Foto: The POS II)

COWASJP.COM – Setiap peristiwa pasti ada hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran berharga. Begitulah nasihat orang-orang bijak dan para cerdik pandai. Begitu pula yang saya rasakan manakala tersiar kabar mendapat ganjaran umroh gratis ke Tanah Suci. Itu berawal dari kabar yang terpancar via salah satu grup WhatsApp (WA) di awal 2017. Pengirimnya Bapak Aqua Dwipayana. 

Dalam pesan yang bernada undangan itu, ada kalimat yang berbunyi: “Saya sudah ijin ke Pak Doni Monardo untuk memberangkatkan Pak Wayan sebagai salah satu peserta umroh gratis tahun depan.” 

Pak Doni yang dimaksudkan oleh Pak Aqua tidak lain ialah Mayjen TNI Doni Monardo yang ketika itu Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVI/Pattimura. Beliau yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sekjen Wantannas) setelah sebelumnya menduduki posisi Pangdam III/Siliwangi itu atasan saya di Paguyuban Budiasi, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Beliaulah pendiri Peguyuban Budi Daya Trembesi dan pohon-pohon penghijauan lainnya itu. 

doni.jpgMayjen TNI Doni Monardo (kiri depan) saat menerima rombongan Umroh The Power of Silaturahim II yang di pimpin bapak Aqua Dwipayanan (kanan depan)  

Membaca kabar umroh gratis tersebut, saya seperti antara percaya dan tidak percaya karena berangkatnya masih satu tahun lagi. Tentu saja, saya sangat bersyukur. Perasaan haru dan bahagia campur baur dengan berbagai perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam hati, saya pun berkata apa iya diri ini pantas mendapatkan undangan istimewa untuk menjadi tamu Allah pergi ke Baitullah di Mekah Al-Mukarromah, Arab Saudi, dan berziarah ke makam Rosulullah Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawaroh? 

Apa yang menjadi kriteria atau pertimbangan sehingga saya menjadi salah satu di antara 39 anggota rombongan Jamaah Umroh The Power of Silaturahim II yang akhirnya menunaikan rangkaian ibadah umroh pada 18-26 April 2018? Hanya Allah dan Pak Aqua yang tahu persis alasannya. Pertanyaan tersebut mungkin terkesan konyol.

Tetapi harap maklum, rasanya profesi dan kiprah saya sehari-hari seperti tidak nyambung atau tidak ada kaitan langsung dengan ibadah sebagai ummat muslim, terlebih-lebih umroh. Saya bukan pengurus masjid, ustadz, qori, penghafal Al Qur’an atau penjaga masjid. 

wayan2.jpg

Pekerjaan utama saya sesungguhnya ialah sebagai prajurit TNI AD yang sehari hari mendapatkan tugas khusus, yakni lebih banyak menghabiskan waktu di kebun pembibitan Paguyuban Budiasi Bogor. Hingga kini, kami telah mendistribusikan delapan juta pohon trembesi dan pohon keras lainya, termasuk pohon buah-buahan, ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pohon-pohon itu hasil persemaian dan budi daya di kebun bibit Paguyuban Budiasi di Sentul, Bogor. Kami juga menyemai dan membesarkan pohon-pohon langka kekayaan Nusantara kita. 

Hampir Lupa

Banyak teman yang mengirim pesan via jaringan (japri) ke saya mengucapkan selamat. Namun, saya membalasnya dengan nada “dingin” atau normatif saja. Saya katakan bahwa berangkatnya masih lama, yakni satu tahun lagi, dan kita tidak tahu apa yang terjadi dalam setahun ke depan.

Jarum jam pun terus berputar. Waktu juga terus bergulir. Tanpa terasa 2017 sudah sampai pengujung tahun. Karena kesibukan tugas dan urusan rumah tangga, saya sudah hampir lupa dengan janji umroh gratis dari Pak Aqua itu. Sampai akhirnya, di akhir Desember 2017, tiba-tiba ada seseorang menggetarkan telepon seluler (HP) saya. Nomornya tidak dikenal dan tidak ada dalam daftar kontak di HP saya. Saya angkat juga telepon itu. 

“Assalamualaikum Bli Wayan. Saya Nurcholis. Mau mengabarkan sekaligus mengingatkan kembali yang pernah disampaikan Pak Aqua Dwipayana. Bli Wayan tetap ikut rombongan Jamaah Umroh The Power of Silaturahim (POS) II ya. Insya Allah tidak lama lagi akan berangkat. Perkiraan April 2018,” kata Ketua Rombongan Jamaah POS II itu via telepon. 

Seraya mengucapkan selamat atas keterpilihan saya berangkat umroh gratis itu, Pak Nurcholis meminta saya segera menyiapkan semua dokumen pribadi dan kependudukan yang dibutuhkan. Termasuk, kartu tanda penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran atau ijasah, dan sejumlah pasfoto ukuran 3x4 dan 4x6. 

nurcholis.jpgPimpinan rombongan Pak Nurcholis (kedua dari kiri) saat berfoto bersama sebagian anggota rombongan di kebun kurman.

Saya terkejut. Saya sebelumnya sama sekali tidak mengenal Pak Nurcholis. Ingatan pun melayang pada pesan WA Pak Aqua hampir setahun silam itu. Perasaan saya kembali campur aduk: gembira, haru, takjub, dan perasaan lain semacamnya. Saya sempat terdiam beberapa saat. Seluruh tubuh seolah mematung kaku, bibir pun terasa kelu, hampir tak mampu berkata ini-itu. 

“Siap, Pak,” itulah kata singkat yang dapat terucap spontan, refleks yang biasa ditunjukkan seorang prajurit manakala mendapatkan titah atau komando. 

Dalam hati, saya pun berkata, “Ini beneran apa enggak ya?” Pertanyaan ini berkecamuk mengingat info dari Pak Aqua melalui WA sudah cukup lama dan setelah itu hampir tidak ada kabar berita lagi. 

Masuk Grup WA

Tidak lama berselang, Pak Nurcholis membuat grup WA Power of Silaturahim II. Nama saya masuk dalam grup WA tersebut. Semula jumlah anggotanya baru lima orang. Seiring dengan bergantinya hari, pekan, dan bulan, jumlah anggota yang masuk grup WA POS II terus bertambah. Saya terus memantau percakapan dan postingan di grup POS II itu. Ada yang isinya arahan, ucapan, sharing informasi terkait persiapan umroh hingga teguran. A

wayan.jpg

da teguran ringan sampai teguran keras terhadap para peserta. Saya bisa memakluminya sebagai upaya administrator (Pak Nurcholis) untuk menertibkan postingan dan mendisiplinkan anggota Jamaah POS II agar fokus pada persiapan ibadah umroh. Dengan begitu, saat pelaksanaannya nanti, semua anggota telah siap fisik, mental/rohani, dan administratif. 

Saya termasuk yang kerap mendapatkan teguran. Semula teguran-tegurannya ringan bahkan terkadang disamarkan dalam bentuk sindiran atau dikemas dalam pesan yang bernada guyon (bercanda). 

Atau dalam bentuk imbauan yang bersifat umum bagi seluruh anggota Jamaah POS II. Namun, dalam imbauan-imbauan itu, sebetulnya terselip juga teguran agar para Jamaah bersegera memenuhi semua persyaratan yang diperlukan sebagai wujud syukur kepada Allah sekaligus terima kasih kepada Pak Aqua. 

Ketika waktu semakin mendekat itulah Pak Nurcholis mulai tegas dan jelas memberikan peringatan kepada siapa pun anggota Jamaah yang belum juga memenuhi persyaratan dokumen yang diperlukan.

Tidak terkecuali saya juga kena “sempritan”. Sebagai prajurit TNI, saya mafhum tindakan tegas seperti memang sudah selayaknya diambil oleh pimpinan rombongan mengingat waktunya memang sudah hampir memasuki “injury time” 

ustad.jpg

Saya sempat mengrimkan pesan via japri ke Pak Nurcholis. Tanpa bermaksud menjadikannya sebagai excuse, saya melaporkan kondisi sebenarnya yang saya hadapi. Singkatnya, saya kemudian memasrahkan keputusan apa pun yang akan diambil Pak Nurcholis. 

“Saya ikhlas apa pun keputusan yang akan Bapak ambil, termasuk jika harus mencoret saya dari daftar anggota Jamaah dan membatalkan keberangkatan umroh ke Tanah Suci. Saya ikhlas Pak karena ini bagian dari risiko yang harus saya terima serta hadapi,” kata saya.

Alhamdulillah Pak Nurcholis memberikan semangat agar tidak menyerah dan sayang dilewatkan begitu saja. Bagaikan mendapat amunisi tambahan, dengan mengucapkan bismillah dan membulatkan tekad didasari hati yang ikhlas saya berkata: “Siap.....!” (Belakangan kami tahu ada satu orang yang akhirnya dicoret dari daftar sehingga batal ikut umroh rombongan POS II dan ada beberapa lainnya yang nyaris dicoret).

wayan1nyar.jpg

Adrenalin saya pun seperti terpompa sehingga gerak saya terasa cepat. Kelengkapan administrasi saya siapkan dan setelah urusan paspor beres, saya langsung suntik menginitis di Bandara Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur. Inilah awal yang memicu perubahan pada diri saya dari yang semula pesimistis menjadi optimistis.

Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan. Saya tidak perlu mengantre berjam-jam seperti disampaikan banyak orang yang bilang harus mengambil nomor antrean sejak subuh (pagi buta) dan dapat gilirannya siang hari. Saya hanya perlu waktu sekira 15 menit untuk mendaftar, membayar biaya suntik, dan suntik meningitis hingga mendapatkan kartu kuning tanda telah divaksin meningitis. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda