Umroh The Power of Silaturahim II (6)

Dahsyatnya Niat Baik, Semua Dapat Digerakkan

COWASJP.COM – “Sesungguhnya, segala amal/perbuatan bergantung pada niatnya,” demikian bunyi salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Umar bin Khatthab RA. 
Jika bersungguh-sungguh, hasil yang akan dicapai juga sungguhan, tidak main-main. Man jadda wajada, there is a will there is a way. Begitulah ungkapan dalam bahasa Arab dan Inggris yang merupakan penjabaran operasional tentang niat. 

Dalam ilmu kepolisian, dikenal rumusan N+K = C. Suatu kejahatan atau crime (C) terjadi jika ada niat (N) dan kesempatan (K) untuk melakukannya. Niat tanpa ada peluang atau kesempatan akan menyulitkan atau bahkan mencegah terjadinya tindak kejahatan. Karena itu, para pelaku kriminal selalu berusaha mencari atau bahkan menciptakan peluang untuk mewujudkan niat melancarkan aksi kejahatan mereka, entah mencopet, mencuri, menipu, merampok, pungli atau korupsi.

Rumusan itu sesungguhnya harus pula diterapkan dalam menebar kebajikan di muka bumi ini. Niat menjadi komponen inti atau variabel utama untuk mewujudkan amal kebajikan. Adapun peluang atau kesempatan dapat diciptakan atau bahkan datang dengan sendirinya. Dalam hal kebajikan, betapapun kesempatan ada dan datang bertubi-tubi, namun jika tidak ada niat, tidak akan ada pula action untuk menebar amal kebajikan bagi sesama. 

Itulah yang diyakini banyak orang sebagai “panggilan”. Tidak terkecuali dalam hal kebajikan kepada TUHAN. Dalam sholat misalnya, setidaknya dalam sehari ada lima kali panggilan adzan dikumandangkan. Tetapi hanya orang-orang muslim yang merasa “terpanggil” sajalah yang kemudian bergegas menunaikan sholat. Demikian pula ibadah haji dan umroh. Konon, hanya umat Islam yang jiwanya “terpanggil” sajalah yang mau melaksanakannya. 

fence.jpg

Berapa banyak orang-orang yang secara materi dan fisik sesungguhnya mampu membiayai ongkos berangkat haji/umroh dan menjalani rangkaian ritualnya. Namun, mereka tidak juga tergerak melakukannya. 

Hal itu berlaku pula dalam amalan umum dalam menebar kebajikan bagi sesama dan alam semesta. Sesungguhnya setiap orang, siapa pun dia dan apa pun kedudukanya, punya kemampuan dan kesempatan untuk menebar kebajikan. Menebar senyum, saling bertegur sapa, dan menyebarkan salam atau keselamatan, adakah manusia hidup yang tidak sanggup melakukannya? 

Kalau itu saja tidak dapat dilakukan, bagaimana dengan menebar kebajikan yang memerlukan dukungan finansial dan upaya fisik tertentu?

Menggerakkan Orang dan Birokrasi

Percaya atau tidak, apa yang dilakukan Mas Aqua Dwipayana bermula dari niat yang kuat untuk memberangkatkan umroh puluhan orang. Pakar komunikasi dan motivator kondang ini mendedikasikan hasil penjualan buku super best seller: The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi untuk mewujudkan niat tersebut. Semula ditargetkan 20an orang.

Namun, dalam perkembangannya, saat kami berdua menyusun daftar nama-nama yang layak dimasukkan sebagai anggota jamaah Umroh The Power of Silaturahim I pada akhir 2016, jumlahnya terus bertambah. Alhamdulillah, akhirnya 35 orang terdaftar sebagai Jamaah Umroh The Power of Silaturahim I yang menunaikan ibadah ke Tanah Suci pada 8-16 Januari 2017.

Niat kuat dan tulus untuk sukses memberangkatkan umroh para jamaah itu pula yang membuat segala urusan persiapan hingga pelaksanaan dan sesudahnya sangat lancar. Saya yang dipercaya dan diberi amanah oleh Mas Aqua untuk mengorganisasi para jamaah sejak persiapan di Tanah Air, pelaksanaan di Tanah Suci, hingga kepulangan kembali ke Tanah Air sangat merasakan dahsyatnya niat baik itu. 

Prinsip yang mendasari dan menguatkan niat saya melaksanakan amanah tersebut ialah bahwa: orang-orang jahat dan para penipu saja bisa memperdaya orang menuruti kemauan mereka, apalagi kita yang punya niat baik. Kebaikan tidak boleh kalah lincah dan cerdik dari kebusukan dan kejahatan. 

Berapa banyak orang yang tertipu oleh iming-iming bisa diterima di instansi anu, bisa menjabat ini atau jadi itu. Dan karena tipu daya iming-iming itu, tidak sedikit yang rela mengeluarkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Berapa banyak pula yang terbujuk menyetorkan dana namun kemudian terlunta-lunta tanpa kepastian berangkat umroh atau uang yang disetor itu kembali?

fence1.jpg

Umroh jamaah the Power of Silaturahim ini gratis karena sepenuhnya dibiayai oleh Mas Aqua sebagai inisiator dan penyandang dana yang bersumber dari hasil penjualan buku tersebut. Belakangan ada para kolega beliau di berbagai berbagai daerah, dari beragam latar belakang suku, agama, rasa, dan antargolongan (SARA).

Dan ini aksi sosio-religius sungguhan, bukan tipu-tipu. Karena itu, saya yakin tidak akan susah melaksanakannya, termasuk dalam menggerakkan para pihak terkait dan para jamaah yang sebelumnya tidak kami kenal dan antarmereka tidak saling kenal pula.

Hampir seluruh anggota jamaah, baik The Power of Silaturahim I maupun II, sebelumnya tidak saya kenal atau tidak pernah berjumpa. Memang sebagian besar anggota jamaah sebelumnya pernah bertemu atau mengenal nama Mas Aqua. Namun, sebagian lain sama sekali tidak pernah pernah bertemu atau mengenalnya. 

Pekerjaan pertama ialah menghubungi mereka via telefon dan meyakinkan bahwa mereka masuk daftar anggota jamaah yang akan diberangkatkan umroh. Tugas ini tentu relatif amat mudah, terutama untuk para jamaah sudah pernah bertemu Mas Aqua sebelumnya. 

Komunikasi Persuasif Dilandasi Ketulusan

Bagaimana dengan jamaah yang kami sama sekali tidak pernah bertemu atau mengenal sebelumnya? Inilah tantangan tersendiri yang harus dijawab dengan mengerahkan kemampuan persuasi dalam komunikasi inter-personal melalui telefon. Tetapi, di atas itu semua, yang terpenting ialah niat baik nan tulus dan keyakinan diri bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih akan mengetuk dan menaklukkan hati dan jiwa mereka. 

Alhamdulillah, para jamaah itu percaya saja ketika diinformasikan bahwa yang bersangkutan akan diikutsertakan dalam rombongan umroh Jamaah The Power of Silaturahim II secara gratis. Mereka juga bersegera mengikuti saran untuk mengurus paspor kantor imigrasi terdekat dengan membawa sejumlah dokumen yang dipersyaratkan (cerita mengenai hal ini Insyaa ALLAH akan disajikan dalam tulisan tersendiri). 

Memang ada beberapa yang terkesan lambat merespons –untuk tidak mengatakan ogah-ogahan- dan baru bersegera setelah diultimatum akan dicoret dari daftar. Alhamdulillah, semua kemudian bergegas mengurus paspor. Kecuali, satu orang yang terpaksa harus kami coret dari daftar dan digantikan oleh orang lain. 

Sebelum itu, banyak di antara jamaah yang harus terlebih dahulu mengurus dokumen yang dipersyaratkan, seperti pembuatan kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), kartu nikah, dan surat atau akte kelahiran.

Di antara mereka, ada pula yang punya KTP, namun ada perbedaan penulisan nama atau tanggal lahir dengan yang tertera di ijasah, surat/akte kelahiran, KK, atau kartu nikah. Tidak sedikit pula yang harus menempuh perjalanan sekira dua jam untuk mengurus dokumen tersebut lantaran yang bersangkutan tinggal nun jauh di pelosok desa di balik perbukitan. 

manado-aqua.jpg

Saya bertindak laksana remote control yang melalui sambungan telefon dari Jakarta mengarahkan dan mengendalikan mereka untuk melakukan ini itu. Tidak jarang, saya harus meminta jamaah atau kerabat/tetangga yang mengantarkannya untuk menyerahkan HP ke petugas yang menangani pengurusan dokumen jamaah itu.

Kepada petugas, saya memperkenalkan diri dan meyakinkan bahwa kami sedang mempersiapkan kegiatan sosial murni dan jamaah yang bersangkutan sangat layak dibantu. Saya juga sampaikan bahwa saya tidak punya hubungan apa-apa dengan para jamaah itu dan tidak pernah bertemu atau kenal sebelumnya. 

Karena itu, saya juga memohon petugas bersangkutan turut membantu jamaah itu. 

Alhamdulillah para petugas itu dapat memahami bahwa kami tidak punya kepentingan politis atau bisnis baik pribadi maupun kelompok. Mereka pun kemudian dengan sepenuh hati membantu urusan pembuatan dokumen yang dibutuhkan para jamaah itu. Mereka mafhum bahwa kegiatan sosial ini bagian dari upaya memupuk ketakwaan anak bangsa yang bersendikan Pancasila dalam bingkai keindonesiaan guna menguatkan pilar NKRI. 

Maklum, para anggota jamaah berasal dari berbagai daerah di Tanah Air dan mereka punya kiprah dalam membangun negeri ini meski dengan keterbatasan yang ada, baik dari aspek ekonomi, posisi/kedudukan, ataupun status.

Layanan Prima Kantor Imigrasi

Demikian pula saat para jamaah mengurus paspor di berbagai kantor imigrasi (Kanim) terdekat sesuai dengan domisili para jamaah. Ada yang mengurusnya di Kanim di kota tempat mereka tinggal, tetapi ada juga jamaah yang harus mengurusnya di kota lain karena di kabupaten tempat mereka tinggal belum ada Kanim-nya.

Untuk keperluan tersebut, saya mendapatkan pasokan daftar dan kontak pejabat Kanim dari Mas Aqua yang berteman akrab dengan Dirjen Imigrasi Ronny F Sompie dan Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Dir Wasdakim) Zaeroji.

Saya sangat menekankan kepada para jamaah agar memenuhi seluruh persyaratan dokumen yang diperlukan dalam pembuatan paspor. Dari Jakarta, saya dibantu istri saya Yayah Nuriyah sebagai relawan memasok dokumen yang diperlukan dari biro penyelenggara ibadah umroh (BPIU), dalam hal ini NRA Tour & Travel yang telah kami tunjuk sebagai mitra. Ada tiga berkas dokumen dari NRA yang kami kirimkan ke para jamaah untuk kelengkapan persyaratan pembuatan paspor. 

Dalam urusan pembuatan paspor ini, saya tetap berperan laksana remote control untuk mengarahkan langkah-langkah para jamaah dan berkoordinasi dengan pihak terkait, terutama pejabat Kanim di berbagai kota dan NRA. 

Alhamdulillah, dengan niat tulus tanpa embel-embel kepentingan pribadi, baik politis maupun bisnis, semua dapat bergerak dan digerakkan dengan sangat efektif dan efisien. Sungguh saya merasakan dahsyatnya niat baik dan ketulusan.

Bahkan, dengan modal nonmaterial tersebut, mesin birokrasi, seperti kantor-kantor Imigrasi di berbagai daerah pun dapat digerakkan sangat efektif dan efisien tanpa uang pelicin atau semacamnya. Jajaran imigrasi sigap melayani dan tergolong cepat. 

Inilah dahsyatnya niat baik dan ketulusan yang dirajut dengan jalinan silaturahim. Man jadda, wajada. There is a will there is a ni way.

Penulis adalah Ketua rombongan umroh The Power of Silaturahim II.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda