Silaturahim-Based Marketing

Gojek mengambil satu paket EasyMinang untuk makan siang karyawan satu kantor di Senayan, Jakarta. (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COM – Saya beruntung sekali diberi kesempatan bertemu secara pribadi dengan pakar Komunikasi dan motivator Aqua Dwipayana. Obrolannya bermutu. Banyak ilmu yang saya dapat. Tapi yang paling penting, saya banyak mendapat suntikan motivasi. Namanya juga motivator!

Saya dan suami memang sedang membutuhkan motivasi untuk mengembangkan pemasaran Rendang Kapau EasyMinang yang dimasak oleh suami saya, Ir Rifton Soekbar, yang berdarah 100% Kapau. Kapau adalah suatu nagari –wilayah kesatuan adat—di dekat Kota Bukittingi, Sumatera Barat.

Nagari itu terkenal dengan masakan khasnya, nasi Kapau, yang merupakan salah satu “genre” masakan Minang atau yang secara umum disebut nasi Padang. Penggemar nasi Padang pasti tahu bedanya masakan Kapau dibanding dengan masakan Padang pada umumnya. Ciri khasnya adalah nasi putihnya disiram dengan kuah campur-campur gulai, kuah cincang, dan bumbu rendang, dengan pelengkap gulai cubadak alias nangka muda.

Secara kualitas makanan, kami cukup percaya diri. Semua masakan kami menggunakan bumbu dan teknik masak asli Kapau, yang diajarkan oleh mertua. Suami, yang lidahnya terbiasa dengan masakan orang tuanya, menjadi alat ukur standarisasi rasa. Karena itu, setiap memasak, takaran bumbu bukanlah alat takar dan timbangan, melainkan lidahnya. Bila sudah pas, barulah bumbu tidak ditambahkan lagi. Selain itu, karena bahan dan bumbu terpilih dan fresh,  dengan jumlah yang royal, kami berani menjual masakan tanpa MSG. Sebab, semua masakan kami sudah gurih hanya dari bahan baku dan bumbu.

Selama ini kami lebih banyak berjualan berdasarkan pesanan. Rendang EasyMinang yang tahan di suhu ruangan sampai seminggu, sudah dikirim dan dibawa ke mana-mana, termasuk ke luar negeri. Saat dipaketkan ke daerah-daerah yang jauh seperti Kalimantan Tengah dan Ambon pun, rendang kami tidak rusak di perjalanan.

Selain rendang, andalan kami adalah gulai tambunsu alias usus isi. Membuatnya rumit. Bahannya banyak. Untuk 1 kg usus sapi segar, dibutuhkan 2,5 kg telur ayam dan bebek sebagai isian. Usus harus dibersihkan dalamnya, diganti isinya dengan adonan telur, santan kental dan bumbu. Diikat ujung-ujungnya. Lalu direbus sampai matang dan empuk.

Di sinilah sering terjadi kecelakaan,  usus pecah dan isinya berantakan, kalau tidak tahu tekniknya. Oh iya, di banyak warung Padang, kalau mereka punya gulai usus, kebanyakan diisi tahu, bukan telur. Makanya murah dan mudah membuatnya. Tapi kami tidak mau mengkhianati resep warisan nenek moyang, bertahan dengan isi telur dan teknik memasak yang rumit itu.

Posting di Facebook Berlanjut dengan Banyak Pesanan

Sehari-hari, kami berjualan nasi Kapau dari rumah secara online, melalui GoResto/GoFood dan GrabFood. Daftar menu kami ada di aplikasi dengan nama EasyMinang. Meski tanpa plang nama karena terletak di dalam cluster perumahan, pengemudi Gojek dan Grab sering datang membeli pesanan.

Kami juga melayani pesanan paket nasi untuk acara-acara. Kami berinovasi mengemas nasi Kapau dalam mangkok ala rice bowl, yang praktis dan tidak repot, bisa dimakan pakai sendok. Lauknya pun dibuat tanpa tulang, dan bila perlu dipotong-potong kecil supaya mudah dimakan dengan sendok. Legenda pop Indonesia Bob Tutupoli dan tokoh perlindungan anak Seto Mulyadi pernah menikmati Kapau rice bowl EasyMinang.

bob.jpgBob Tutupoli menikmati kapau rice bowl EasyMinang

Sejak awal Pak Aqua mendorong saya untuk segera menulis soal pemasaran EasyMinang ini. Tetapi saya bilang, saya tunggu testimoni Pak Aqua soal masakan kami sebelum menulis. Tanggal 7 April pagi-pagi, saya antar pesanan ke kediaman Pak Aqua di Bogor, berupa rendang daging, gulai tambunsu, dan gulai jariang alias jengkol, plus bonus sambal ijo.

Sekitar jam 10.45 saya terima pesannya lewat whatsapp, ”Alhamdulillah, saya dan istri sudah menikmati semua masakan Mbak Yulfarida. Enak Banget. Alhamdulillah. Maju terus dan sukses ya. Aamin ya robbal ‘aalamiin. Makasih banyak untuk semuanya.” Tentu saja saya dan suami bersyukur masakan kami dinikmati dengan baik. Apalagi Pak Aqua adalah “orang awak” juga karena almarhum ayah ibunya orang Minang, meskipun mereka tinggal di Pematang Siantar, Sumut.

Melaksanakan sarannya, saya mulai memposting rendang di facebook saya dengan akun Yulfarida Arini, yang merupakan salah satu sarana silaturahim saya, baik dengan saudara dan teman yang kenal pribadi maupun yang berteman secara maya. Sebenarnya dulu saya rajin memposting urusan dapur ini. Tetapi lama-lama saya batasi. Sebab, saya merasa khawatir teman-teman facebook saya bosan. Bisa-bisa saya di-unfollow hihihi.... Eh suatu saat ada teman yang nyeletuk, kok lama tidak posting makanan EasyMinang? Ternyata ada yang kangen juga.

Maka rendang dan aneka gulai pesanan Pak Aqua saya foto dulu sebelum saya antar ke Bogor. Lalu saya unggah di facebook. Alhamdulillah, ternyata disambut dengan pesanan-pesanan, baik dari pelanggan yang repeat order karena merasa kangen, maupun dari pemesan-pemesan baru. Bahkan ada teman lama yang mengajukan diri menjadi reseller, memesan untuk dijual lagi, setelah pesan setengah kilogram sebagai tester untuk dibagi-bagikan.

Intinya Silaturahim

Saya jadi menghubungkan dengan teori komunikasi yang menjadi bidang kepakaran Pak Aqua, bahwa isi pesan itu ya harus disampaikan. Kalau tidak disampaikan, bagaimana orang bisa tahu? Bagaimana orang tahu kalau saya jualan rendang kalau saya tidak bilang-bilang?

Nah, soal memberi tahu ini Pak Aqua punya pesan khusus. “Intinya kan silaturahim. Ketemu orang-orang. Pokoknya, di mana pun, kapan pun, dalam suasana apa pun kalau ketemu orang, kasih tahu aja bahwa Mbak Yulfarini jualan rendang.”

“Tapi kan saya sungkan. Kok sepertinya teman atau relasi semata-mata dijadikan pangsa pasar,” kata saya, teringat betapa menyebalkan kalau pas kena prospek teman-teman MLM yang lagi cari downline.

“Ngapain malu? Cuma kasih tahu, tidak menyuruh atau memaksa mereka memesan,” jawabnya. Wah, benar juga ya. Apa salahnya sih kasih tahu?

Yang penting, kualitas barang dan layanan harus dijaga. Karena hal inilah yang akan digetok-tularkan, disampaikan dari mulut ke mulut. Kalau makanan kita enak, layanan bagus, pasti orang bersedia merekomendasikan.

“Saya ini diundang bicara di mana-mana ya karena rekomendasi dari orang-orang yang selama ini berhubungan baik dengan saya,” ujar pakar Komunikasi bertarif Rp 30 juta nett/jam, minimal 2 jam ini. Rekomendasi ini hanya akan muncul kalau hubungan kita baik dengan semua orang. Inilah pemasaran berbasis silaturahim. Silaturahim-based marketing.

Baiklah! Insya ALLAH kami laksanakan. Jadi jangan kaget ya kalau nanti sesekali saya kasih pengumuman buka order rendang ya...(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda