OBITUARI

Danarto yang Njawani dan Sufi

Doddy Yudhista (dua dari kiri) bersama Adi Kurdi dan kru Film "Kutuntun Kau di Air Yang Tenang" karya Danarto. Sutradara film ini Motinggo Busye. (Foto: istimewa)

COWASJP.COM – Sastrawan Indonesia Danarto meninggal dunia, pada Selasa, 10 April 2018, pukul 20.54 WIB. Penulis cerpen dan novel fenomenal dalam sejarah sastra Indonesia ini, sebelumnya mengalami kecelakaan di daerah Kampung Utan, Ciputat. Ia tertabrak sepeda motor ketika menyebrang menuju kantor bank, sekitar pukul 13.30 WIB.

Dari lokasi kecelakaan, Danarto sempat dibawa ke RS UIN Syarief Hidayatullah sebelum akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati, sebab Danarto mengalami luka parah di bagian kepala. 

Saat ditangani di UGD RS Fatmawati, sejumlah sastrawan nampak berkumpul, antara lain Uki Bayu Sejati, Teguh Wijaya, Radhar Panca Dahana, Noorca Massardi, Chavchay Syaifullah, Heryus Saputro, Bambang Prihadi, dan Amien Kamil. Mereka menemani detik-detik terakhir kepergian sastrawan yang karib dengan sufisme. 

Semasa hidupnya ia telah menulis sejumlah buku sastra yang fenomenal, antara lain: Godlob, Asamaraloka, Adam Makrifat, dan Orang Jawa Naik Haji. 

Rencana jenazah akan dimakamkan di Sragen, Jawa Tengah. 

Doddy Yudhista, salah seorang yang dekat dengan Danarto, sering berinteraksi saat muda dulu, menuliskan ingatan-ingatannya berikut ini.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Saya mendapat  berita dari Mas Abdul Hadi  bahwa Mas Danarto ( penulis-sastrawan ) meninggal dunia. Semoga almarhum​ husnul khatimah. Aamiin YRA.

Mas Danarto pernah menjadi tim penilai buku sekolah saat saya di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) tahun​ 1993-1998. 

Kumpulan Cerpennya saya baca berkali-kali. Menurut saya, " Godlob " salah satu karya almarhum yang terbaik.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.. selamat jalan mas H Danarto. Semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT, diampuni segala kesalahan...

Saya selalu terkesan dengan​ budi bahasa njenengan yang santun ... Buku Orang Jawa naik haji buah karya njenengan juga membuat saya terkesan dengan mas Danarto...

Sebuah novelnya tahun​ 1976 "Kutuntun Kau di Air yg Tenang" terbitan PT Indira, difilmkan oleh Motinggo Boesje. Dan saya, alhamdulillah, ikut bermain di film itu bersama Renny Djajusman, Poppy Dharsono, Rien Cecilia dan Adi Kurdi.

Sugeng tindak Mas! Tulisan-tulisanmu selalu bernafaskan Islam dan memberikan warna dalam kehidupanku.

"Adam Ma'rifat" adalah karyanya yang mendapat hadiah Buku Utama di saat saya menjadi Ketua IKAPI tahun 1982.

Saya masih ingat tahun​ 1980-an kami sering kumpul minum teh sore di TIM warung Dewi Indah. Saya, Ajip Rosidi, Ali Audah, Gadis Rasjid dan Mas Danarto. Saat itu, saya masih sangat muda dan kita berdiskusi mengenai Perbukuan dan Sastra. 

Saya mengagumi mereka semua yang merupakan manusia-manusia genius di bidang karya tulis. Ajip yg meledak-ledak, Gadis Rasjid yg tomboi dengan​ rokok yang selalu mengepul, Ali Audah penerjemah yg agamis dan mas Danarto yang santun dan selalu ngajeni semua orang. 

Saat itu saya berusia 26 tahun dan Ketua IKAPI. Hubungan saya dengan Mendikbud Daoed Joesoef sangat dekat. Beliau-beliau saat itu selalu memberikan pemikiran --yang bagi saya ilmu baru-- untuk disampaikan ke Mendikbud Daoed Joesoef. 

Warung Dewi Indah di TIM saat itu memang jadi tempat ngumpulnya seniman. Mas Danarto yang halus Njawani dan Sufi selalu menjadi sumber ilmu bagi seniman-seniman saat itu. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda