Umrah The Power of Silaturahim II (5)

Berkat Hadiah Umroh, Penyakitku Takut Ketinggian Sembuh

Dari kiri, Husnun Djuraid, Aqua Dwipayana, Sukma, dan Widodo Irianto (CoWasJP)

COWASJP.COM – Suatu siang pada Maret 2017, ada telepon masuk di HP-ku. Inilah awal kejutan dan awal perubahan besar di dalam diriku pribadi.

"Om, sampean iso nang (Jawa: Anda bisa ke, red) kantor,'' kata penelepon.

''Bisa, Mbak,'' jawabku irit, asal menjawab saja. Ha ha ha. Ini lantaran suara penelepon sudah tak asing lagi bagiku.

Dia dari bagian keuangan di kantor tempatku kini bekerja. Grup website TimesIndonesia.co.id. Kantornya di Jalan Pandan 5 Malang. 

Tentulah kedatanganku yang dia pinta itu rutinitas biasa. Begitulah semula prasangkaku.

Akan tetapi, 15 menit kemudian telepon bunyi lagi.

''Halo Om, sampean ditunggu Pak Aqua (Dwipayana) loh," suaranya lebih tegas.

Mendengar nama Pak Aqua, saya kaget. 

''Hah, Mas Aqua? Siap meluncur Mbak!.” jawabku cepat. Telepon pun tanpa sadar langsung dimatikan.

Ada apa ya Mas Aqua? Bagaimana keadaannya sekarang ya? Di mana sekarang dia tinggal. Kami sudah 26 tahunan tak pernah jumpa.

Selama ini, aku hanya baca tulisan-tulisan sharing komunikasi dan motivasinya di Grup WhatsApp (WAG) CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos).

“Alhamdulillah kalau Mas Aqua masih ingat aku,” pikirku. Ternyata namaku tidak dilupakan oleh Mas Aqua.

aqua-dan-dan-sekoad.jpgPertemuan Mas Aqua Dwipayana (kanan) dengan Dan Seskoad Mayjen TNI Kurnia Dewantara (kiri) di RM Bali, Bandung.

Pukul 12 siang itu, ALLAH SWT mempertemukan kembali aku dengan Mas Aqua di Malang, di tempat kerja yang baru. Dulu kami sekantor di Biro Malang Jawa Pos.

''Hallo Mas Sukma,'' katanya. Wow...gayanya tidak berubah, pikirku.

''Hallo Mas Aqua. Apa khabar? Sehat tah Mas?” sahutku dengan pertanyaan yang kurasa bodoh dan seperti basa- basi yang aku lontarkan untuk dia. 

Gayanya sama, keramahannya tetap sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Yang berubah signifikan pada diri Mas Aqua adalah rambut dan tubuhnya. Sekarang badannya lebih tambun.

Kulitnya lebih putih bersih, dan rambutnya mulai kelihatan banyak putihnya. Ini menggambarkan bahwa dia sekarang sudah sukses. 

Obrolan ke masa lalu pun disinggung. Semasa masih jadi wartawan baik di SI ( Suara Indonesia ) lalu berlabuh ke Jawa Pos 1990.

Setelah cukup bercerita mengenang masa lalu, Mas Aqua mulai mengubah gaya bicaranya. Sedikit lebih serius, sesekali tertawa dan senyum. Tapi tidak meledak-meledak seperti tadi.

''Mas Anwar...Mbak Ida... Mas Wed ( Suara Indonesia ). Mas Sukma ini akan umroh,'' kata Mas Aqua.

Mendengar ucapan Mas Aqua tersebut badan saya langsung terasa lemas seperti kerupuk yang baru digoreng langsung dimasukkan ke air.

Keringat dingin pun mengucur. Ini bukan lantaran aku tidak bersyukur atau tidak tahu berterima kasih. 

Mas Aqua menegaskan, kalau saya harus siap untuk ber-umroh.

''Mas Sukma..Siap ya umroh..'' kata Mas Aqua.

Batinku menggumam, ''Alhamdulillah.'' Namun, mulutku berucap juga merespons lawan bicara, ''Siap Mas''.

''Alhamdulillah,'' kata teman-teman yang ada di ruangan, bersahutan ibarat lagi nyanyi koor.

''Awal Januari ya Mas Sukma berangkat umrohnya,'' kata Mas Aqua waktu itu.

Ucapan selamat dan jabat tangan karena akan ber-umroh pun mulai menghiasi hari-hariku.

''Terima kasih, Mas,'' kata saya kepada Mas Aqua.

''Tapi, apa saya sudah layak mendapatkan ini. Kan masih banyak yang lebih layak dari saya.'' 

''Mas Sukma layak,'' jawab Mas Aqua sambil menepuk-menepuk pundakku.

''Sudahlah, Mas Sukma tenang saja. Jangan khawatir,'' katanya. 

Pertama Kali Dalam Hidup Saya

Perbincangan dengan Mas Aqua tak terasa sampai jam 15.00 WIB. Tiga jam sudah. Mas Aqua pun pamit pulang karena ada acara di Surabaya.

''Mas Sukma saya permisi dulu ya mau ke Surabaya. Lain kali kita silaturahim lagi ya,'' kata Mas Aqua.

Umroh...umroh...umroh. Alhamdulillah...Alhamdulillah..Alhamdulillah...

Hatiku selalu mengucapkan terima kasih kepada Mas Aqua  dan menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT. Pertama kali sepanjang hidup saya diberi kesempatan untuk menjadi tamu ALLAH SWT.

Namun, seminggu setelah pertemuan dengan Mas Aqua, diriku dirundung rasa kalut.

Penyakit lamaku kambuh kembali. Yaitu takut ketinggian.

Takut terbang! Tiap hari saya sulit tidur.

Gelisah.... 

Otakku terus berputar. Bisakah?

Beranikah? Yang ada hanya pikiran ketika berada di pesawat yang begitu lama. Apakah saya harus mundur?

Apakah Mas Aqua mau menerima alasanku? Perang batin pun mulai berkecamuk. Antara menerima dan menolak rezeki umroh, sebagai tamu ALLAH SWT? 

Ya, memang penyakit lamaku adalah fobia ketinggian. Walaupun naik pesawat (tidak naik pohon yang tinggi), tapi kekhawatiran selalu menghinggapi diri.

Aku mulai merasakan keringat dingin mengalir membasahi tubuhku yang mungil, sesak napas, dan pikiran macam-macam .

Menghantui dalam perjalanan udara 1 jam 10 menit dari Bandara Abdulrahman Saleh ke Bandara Soetta, kemudian terbang sekira 9-10 jam dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, ke Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi.

sukma-aqua.jpgDari kiri ke kanan. Aqua Dwipayana, Agus Purbianto, Husnun Djuraid, Ariyono Lestari, dan Sukma. (Foto: CoWasJP)

Sekitar Oktober 2017, akhirnya saya memberanikan diri menjelaskan permasalahan lewat WA kepada Mas Aqua.

Saya memberitahukan alasan-alasan kenapa saya menolak untuk melaksanakan umroh sebagai tamu ALLAH SWT.

Semuanya saya beritahukan secara detail di WA kepada Mas Aqua tentang penyakit saya itu.

Tidak menunggu lama. Hanya hitungan detik HP-ku menerima telepon.

''Hallo Mas Sukma, kita ke Bali ya'' kata Mas Aqua yang menelepon saya langsung.

Ajakan itu disampaikan dengan suara lantang dari seberang sana.

''Nanti kita ketemu di Bandara Juanda ya. Kita sama-sama ke Bali. Mas Sukma harus ikut!'' tegasnya dalam telepon.

“Gilaaaaaaaaaaaaaaaa...” kataku dalam hati.

Bagaimana bisa, sudah dikasih alasan-alasan tentang penyakit saya seperti itu koq malah mau diajak naik pesawat.

Yaa Allah, Yaa Robbi. Hendak berkelit dari satu masalah, ehhh…. malah mentok ke masalah lain.

Bagaimana pula aku merancang siasat untuk menemukan alasan menolaknya?

Pembicaraan lewat telepon berlangsung lama. Mas Aqua berusaha keras meyakinkan saya dan dengan keahliannya sebagai motivator, beliau akhirnya bisa meyakinkan saya.

Pendek kata, akhirnya saya bisa menjawab:

“Baik Mas Aqua, saya siap terbang ke Bali!” 

Inilah Jalan ALLAH SWT Untuk Saya

''Saya akan berusaha mengobati penyakit phobia ketinggian itu. Dan saya percaya, Mas Sukma pasti bisa.'' kata Mas Aqua. ''Kita berangkat besok lusa ya. Mas Sukma bisa?''

Tawar menawar sempat terjadi antara saya dan Mas Aqua. Tapi Mas Aqua tetap minta saya sama-sama naik pesawat.

Kengototan saya untuk jalan darat saja dari Malang ke Bali dibantah tegas oleh Mas Aqua. Saya merasa, Mas Aqua mengerahkan segenap keahliannya sebagai motivator. 

Akhirnya hatiku luluh juga. ''Saya akan mengobatinya. Mas Sukma harus sembuh, harus sembuh, sekali lagi harus sembuh!'' tutur Bapak satu putri dan satu putra itu. 

Kegigihan Mas Aqua akhirnya bisa meyakinkan saya.

Masih ada sebuah pertanyaan dalam batinku. Walaupun kami pernah bekerja sekantor, begitu pentingkah diri saya bagi dia (Mas Aqua Dwipayana)?

Padahal aku hanya seorang teman. Bisa dikatakan ''teman usang'' alias teman 26  tahun yang lalu. 

Selasa, 31 Oktober 2017, sekitar 21.00 WIB, akhirnya kami berdua terbang ke Bali!

Dalam perjalanan di udara Mas Aqua banyak memberikan masukan.  Dia bercerita kalau ke Bali itu untuk tujuan mengobati dan menerapi penyakit saya. Sebegitu perhatian dan baiknya beliau kepada saya. 

Satu jam kemudian pesawat mendapat di Bandara Ngurah Rai.

''Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Akhirnya saya berani terbang juga. Terima kasih ya ALLAH SWT.''

Sesampainya di Hotel Courtyard Marriots Seminyak Bali yang salah seorang pemegang sahamnya Pak Ventje Suardana, Mas Aqua langsung menyapa seseorang yang lagi duduk santai lobi hotel.

''Hallo mas Narko...sudah lama ya nunggu saya.'' 

''Oooh nggak Mas Aqua...barusan saja kok,'' jawab Mas Narko.

Akhirnya saya pun berkenalan dengan orang yang dipanggil Mas Narko itu.

Gerak Cepat dan Tepat

Sampai di kamar hotel, kami bertiga duduk santai. Mas Aqua, Mas Narko, dan aku. Perbincangan serius pun dimulai tentang penyakitku itu antara Mas Aqua dan Mas Sunarko yang ternyata ahli terapi bagi orang-orang yang takut ketinggian.

Setelah menceritakan segalanya, Mas Aqua berkata kepadaku: ''Mas Sukma silakan ceritakan semuanya ke Mas Narko ya. Saya tinggalkan Anda berdua ya. Kalau ada apa-apa, saya ada di kamar sebelah.'' 

''Terimakasih Mas. Saya akan berusaha untuk sembuh. Saya akan berusaha dan tidak akan mengecewakan Mas Aqua,'' jawabku.

Tanpa menunggu besok, malam itu pun Mas Narko (sapaan akrabnya) langsung mengobati aku.

Aku harus sembuh...harus sembuh...dan aku harus bisa. Dengan gaya ke- bapakan, rileks tanpa ada penekanan, akhirnya kuceritakan asal muasal kenapa aku punya penyakit fobia ketinggian.

Setelah kuceritakan secara detail, Mas Narko berkata:

''Bukan hanya Mas Sukma, saya dan yang lain pun kalau naik pesawat pasti takut koq.'' 

Ucapannya itu menyentakkan diri saya dari lamunan.

''Siap Mas,'' kataku singkat.

mas-sunarko.jpgMas Sunarko (kanan) saat perjalanan pulang ke Surabaya.

Terapi pun dimulai dan berlangsung sekitar tiga jam lebih. Praktik yang dicontohkan oleh Mas Narko dapat aku lahap dengan baik. Terapi dimulai pukul 23.00 sampai pukul 03.00.

''Besok kita lanjutkan ya Mas. Kita sekarang istirahat dulu. Setelah sholat Subuh kita lanjutkan lagi,'' ujanya. 

Setelah sholat Subuh, proses pengobatan dimulai lagi. Dilakukan secara terus-menerus sampai pukul 06.00 pagi.

Berhasilkah terapi tersebut? Jujur kukatakan: ''BERHASIL!''

Keberanian muncul, kepercayaan diri tumbuh. BERHASIL!

Terapi dilakukan tak hanya di kamar, tapi juga waktu makan. Aku dan Mas Narko terus konsultasi. Dan beliau selalu memberikan motivasi kepada saya, agar saya bisa melakukannya.

''Mas Sukma tidak sendirian koq,'' kata Mas Narko.

Pagi, siang, dan selalu ada waktu luang saya selalu konsultasi soal terapi tersebut. Kemauanku untuk sembuh ternyata mendapat sambutan baik dari Mas Narko dan Mas Aqua.

Sampai-sampai Mas Aqua tanya langsung kepada Mas Narko soal perkembangan hasil terapi tadi malam.

''Mas Sukma, nanti pulang (terbang dengan pesawat) sendiri ya. Saya mau langsung ke Lombok,'' kata Mas Aqua. 

Mungkin ini menjadi test case bagi saya. Benarkah saya sudah berani naik pesawat sendirian tanpa ditemani Mas Aqua? ''Siap Mas!'' jawabku tegas.

Tapi, Mas Narko nimbrung dalam percakapan tersebut. ''Mas Aqua saya juga lagi libur. Memang hari ini rencananya saya kan pulang ke Sidoarjo,'' ujar Mas Narko.

Aku kaget, ternyata Mas Narko asli orang Tanggulangin, Sidoarjo.

Akhirnya saya berdua pulang ke Surabaya ditemani Mas Narko yang notabene bisa disebut sebagai guru ''spiritual'' dengan pesawat pukul 16.00 WIB.

Pukul 17.00 WIB lebih kami sampai di Bandara Juanda. Selanjutnya kami pun berpisah. Aku melanjutkan perjalanan ke Malang, sedangkan Mas Narko ke Tanggulangin, Sidoarjo.

Insha ALLAH... aku sudah sembuh, berani terbang, berani naik pesawat! Terima kasih Mas Aqua yang gigih dan dengan tulus ikhlas membantu mengobati penyakitku  yang selama ini sangat menyiksa. Subhanallah. 

Penulis saat ini bekerja di timesIndonesia.co.id

Pewarta : Ahmad Sukmana
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda