Menularkan Perbuatan Baik

COWASJP.COM – Perilaku itu menular. Baik, buruk, maupun netral. Rupaya Allah menciptakan manusia – mungkin juga makhluk hidup lain—dengan kemampuan menularkan dan ditulari perilaku. Bisa jadi ini biologis banget. Tidak percaya? Coba perhatikan pas Anda di tempat kerja, di satu ruangan yang dihuni beberapa orang. Terutama kalau jarak fisiknya berdekatan. Salah satu teman Anda menguap, perhatikan,

Anda dan orang-orang lain di sekitarnya, juga akan “ketularan” menguap. Padahal tadinya tidak mengantuk. Atau bila di satu rumah, atau satu kos-kosan, atau satu ruangan kerja, atau satu geng, terdapat beberapa perempuan. Biasanya mereka akan mendapat menstruasi secara bersamaan, setidaknya 1-2 hari dari durasi menstruasinya. Kalau ada anggota baru masuk dalam kelompok itu, yang tadinya jadwal menstruasinya berbeda, lama-lama juga akan bergeser menjadi bersamaan. Tubuh manusia punya mekanisme komunikasi hormonal yang memicu “penularan” semacam itu.

Masalahnya, perilaku buruk juga menular. Sebagai konsultan manajemen komunikasi dan pelayanan di banyak PDAM, saya selalu mencontohkan perilaku pelanggan di ruang pelayanan. Kalau ada seorang pelanggan komplain dan marah-marah secara terbuka kepada customer service , bisa dipastikan pelanggan lain yang ada di situ, yang sebenarnya datang bukan untuk komplain, akan ikut terpancing komplain. Setidaknya menceritakan pengalaman yang sama dengan yang dikomplainkan. “Wah iya, saya pernah mengalami kejadian itu. Gimana sih kerja PDAM?” Apa yang terjadi dengan pelanggan yang komplain tadi? Bisa dipastikan akan semakin naik level marahnya, karena mendapat “siraman bensin” dari orang lain.

Karena itu, saya selalu menyarankan PDAM mempunyai ruang khusus untuk melayani komplain pelanggan. Apalagi di PDAM-PDAM yang pelayanannya masih amburadul, yang airnya sering macet, yang airnya keruh, yang pembaca meternya suka ngasal kerjanya. Ruangan komplain itu harus terisolasi dari orang lain. Tujuannya ya supaya komplain tidak menular kepada orang lain, dan si pengkomplain tidak makin marah karena mendapat “asupan berigizi” untuk memperkuat kemarahannya.

Mekanisme penularan kemarahan serupa terjadi pada peristiwa demo atau unjuk rasa. Kalau yang demo satu orang, efeknya tidak akan terasa. Hampir tidak pernah dengar kan satu orang karyawan demo lalu melempari jendela kantor hingga kacanya pecah? Tapi begitu bergabung dengan orang-orang lain, baik yang sama marahnya atau sekadar berempati, mereka menjadi beringas. Kemarahan dari masing-masing individu akan terakumulasi, dan meningkat intensitasnya sampai berlipat-lipat.

Makanya mereka berani brutal, berani bertindak destruktif. Di psikologi sosial, ini karena kerumunan tidak memunculkan identitas pribadi masing-masing anggotanya, secara individu menjadi anonim, makanya jadi berani. Tapi tetap saja perlu ada yang menggerakkan. Perlu provokator. Tugasnya apa? Yang menyiram-nyiram bensin kemarahan tadi, supaya bangkit dan berkembang.

Untungnya, perbuatan baik juga menular. Bisa banget. Contohnya adalah berbagai program mobilisasi sosial yang dulu zaman saya masih kerja di sana, banyak dilakukan oleh Jawa Pos era 90-an. Salah satu dari sekian banyak gerakan sosial yang fenomenal adalah gerakan Bersih-Bersih Kali Surabaya. Ketika Jawa Pos mengumumkan rencana itu, yang mendaftar sampai 100 ribu orang. Ada individu, ada kelompok masyarakat, perusahaan, lembaga pemerintah, dan akhirnya TNI dan kepolisian pun ikut terjun.

Di-lead oleh TNI Angkatan Laut yang memang punya fasilitas dalam urusan persungaian, akhirnya pengerahan massa itu berhasil membuat Kali Surabaya yang tadinya kotor, banyak sampah, dengan bantaran sungai yang kumuh, penuh kakus plunglap, akhirnya bersih. Belakangan oleh Pemko Surabaya gerakan ini dilanjutkan, dikembangkan, dan bantaran sungai disulap jadi taman-taman kota yang indah seperti yang bisa dinikmati sekarang.

Dalam mobilisasi sosial semacam itu, Jawa Pos bertindak sebagai provokator. Untuk memprovokasi, seorang provokator harus mampu menyampaikan pesan “apa yang terjadi” dengan Kali Surabaya, apa dampaknya kalau dibiarkan, lalu  “mengapa” bersih-bersih itu harus dilakukan, dan “apa manfaatnya” kalau dilakukan. Setelah itu, barulah Jawa Pos mengumumkan “bagaimana caranya” kalau mau terlibat. Maka disusunlah teknis kegiatannya, lalu dilaksanakan. Dan sukses besar.

Di tataran individu, saya juga mengalami ketularan perbuatan baik ini. Ceritanya, saya mendapat kesempatan bertemu motivator dan pakar komunikasi Aqua Dwipayana. Lalu ketularan perbuatan baiknya. Berawal dari keinginan saya membaca buku The Power of Silaturahim yang ditulisnya, saya malah diundang untuk bertemu. Ditraktir makan siang lebih tepatnya, di restoran yang kami sendiri disuruh pilih dan tentukan. Dalam pertemuan dua jam yang sangat produktif itu, saya dan suami banyak mendapat pencerahan kiat-kiat memasarkan Rendang Kapau EasyMinang yang kami produksi. (Bagian ini akan saya tulis tersendiri)

Singkat cerita, selain mendapat buku-buku keren, yang ditulis sendiri oleh Aqua maupun orang lain, kami juga mendapat oleh-oleh khas Kota Bogor, kota domisili Aqua saat ini, yaitu cake lapis bogor. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, satu dus besar berisi 1 lusin berbagai varian. Manalah mungkin kami habiskan sendiri sekeluarga yang hanya bertiga?

Dalam perjalanan pulang, otak saya langsung tuing-tuing! ”Oh! Jangan-jangan Pak Aqua menyuruh saya bagi-bagi kue ini ke orang lain!” Saya merasa “dipaksa” berbuat baik. Tapi paksanya jenis “paksarela”. Dipaksa tapi rela. Maka esoknya, saya, yang selama ini cenderung mager (malas gerak) kalau sudah di rumah, akhirnya terdorong untuk datang ke acara kumpul-kumpul teman-teman sekolah dari kampung halaman saya, Pasuruan, yang lagi bikin acara di Bekasi.

Padahal tadinya ragu untuk datang, mengingat anak saya lagi persiapan ujian ini itu karena sudah kelas 6 SD. Akhirnya saya ajak suami dan anak untuk datang, bersilaturahim dengan teman-teman dan keluarga mereka. Kue oleh-oleh itu jadi oleh-oleh buat mereka. Setiap keluarga dapat 1 boks. Tapi sambil jalan, satu boks kue pun berpindah tangan di pos sekuriti di tempat lingkungan tinggal kami. Masih ada sisa 1-2 boks, akan dibawa pak suami ke sekolah anak, untuk dinikmati para sopir mobil antar jemput sekolah. Jadi, gara-gara dikasih kue, kami tergerak bersilaturahim.

Ketika hal bagi-bagi kue ini saya laporkan kepada Aqua, sambil mengucapkan terima kasih sudah “dipaksa” bergerak untuk silaturahim, Aqua malah membalas,”Jika tahu mau dibagi-bagikan, saya akan membawakan kuenya lebih banyak lagi!” Waduh! Bisa-bisa tetangga satu cluster –yang tidak ada satu pun yang saya kenal—kebagian kue.

Waktu saya ke rumahnya untuk mengantar pesanan rendang kapau dan gulai usus (tambunsu) EasyMinang yang dimasak oleh suami saya, kembali saya dapat oleh-oleh segala rupa cemilan khas Sulawesi Selatan. Nah, lagi-lagi saya harus berbagi kan?

Mungkin mekanisme yang sama berlaku saat ada beberapa pengusaha non-muslim di lingkup pergaulan Aqua bersedia menyumbang hingga ratusan juta rupiah untuk ikut “urun” membiayai umroh The Power of Silaturahim II yang akan berangkat pertengahan April ini. Mereka termotivasi melakukan kebaikan yang sama karena melihat Aqua melakukannya.  (*)

Konsultan Freelance bidang Komunikasi untuk Pelayanan Publik dan Pemberdayaan Masyarakat Berdomisili di Cikeas, Bogor
Email: yulfarida.arini@gmail.com

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda