Tumbal Demokrasi

Foto-foto: Istimewa

COWASJP.COM – Demokrasi sering meminta korban dengan caranya sendiri. Daniel Ortega mantan presiden Nikaragua yang Marxist. Atau di sini Habibie, anak kandung Orde Baru –rezim yang otoriter itu– merasakan pahitnya jadi tumbal demokrasi. 

Memang ironis, atau mungkin keniscayaan. Ketika Ortega, Habibie sadar –mustahil berkuasa dengan cara represi–  dan karena itu harus menggelar pemilu yang demokratis, mereka malah kalah dalam pemilu yang digelarnya. Dua presiden itu harus turun dari kursi kekuasaan yang didudukinya.

Ortega mengakui ia kalah dalam pemilu yang diselenggarakannya. Jam 6.30 pagi 26 Februari 1990, orang-orang Nikaragua mendengarkan pidato terakhir presiden, atau lebih tepat orangbakal segera menjadi ‘’bekas’’ presidennya. 

‘’Kami akui kalah. Atas nama kaum Sandinista, kami berikan pemilu yang jujur dan bersih untuk rakyat Nikaragua. Kami lahir miskin, dan akan jadi miskin lagi,’’ kata Ortega mengakhiri pidato kekalahannya.

Lalu, apa kata Habibie? Ketika Golkar, kendaraan politiknya, kalah dari PDIP dalam pemilu yang digelarnya sendiri pada 1999, dia berucap: ‘’Saya ucapkan selamat pada PDIP Perjuangan dalam pemilu paling bersih dan jujur sepanjang Indonesia.’’ 

*

Demokrasi, memang jalan rumit. Toh, orang menganggap ia adalah sistem nilai dalam berpolitik yang dianggap paling beradab. Sekurang-kurangnya dianggap lebih bermoral atau lebih bermartabat dibanding cara berpolitik yang lain. Entahlah yang mana.

Karena itu, jika politik dasarnya ialah pertarungan serba boleh untuk memperebutkan kekuasaan, –karena itu, kata Machiavelli, siapa pun yang ingin berkuasa dapat menghalalkan semua cara– buat apa sebuah rezim harus mengikuti jalan serumit demokrasi itu?

Bayardo Ace, salah seorang ideolog dalam rezim Marxist Ortega melakukan  protes yang musykil. Bagaimana mungkin, gerakan Marxist kaum Sandinista yang berkuasa setuju dengan kerepotan demokrasi? ‘’Menggelar pemilu merupakan kuburan bagi kita sendiri,’’ kata Bayardo.

Terpaksa, atau bisa jadi Ortega ingin uji coba. Gerakan Marxist yang berhasil menumbangkan rezim Somoza, lalu mengantarkannya ke puncak kekuasaan di negara Amerika tengah yang miskin tak menghiraukan protes sejawatnya. 

Gerakan Marxist ia jual dengan kemasan lain. Dipermak dengan wajah simpatik. Tak sangar atau tak angker, tak seperti gerakan revolusioner yang menakutkan itu. Gerakan Marxist ia jual dalam pasar politik demokrasi: pemilu yang jujur, bebas, dan bersih.

Celakanya uji coba Ortega gagal berantakan. Dia jadi korban eksperimen politiknya sendiri. Kalah dalam pemilu bebas dan bersih yang dipuji masyarakat internasional. 

Bayardo mengecam Ortega. Dia tuduh sebagai Marxist tolol. Eskperimen Ortega menyisakan sejarah lain. Sikapnya yang jujur, mau mengakui kekalahan dengan fair dalam pemilu yang digelarnya sendiri cukup menghapus kesan orang terhadap rezimnya yang dianggap haus darah segar rakyatnya. Tak semua Marxist berwajar sangar. Ada kalanya pula jadi pahlawan perubahan, meskipun dengan status tumbal demokrasi.

 *

Di sini, orang kenal Habibie murid setia Soeharto. Ketika, dia mengambil alih kekuasaan mantan bosnya itu tanggal 21 Mei 1998, caci dan makin jadi sarapan tiap bangun pagi. Segala upaya untuk menghapus kesan dan citra buruknya sebagai bagian dari ahli waris Orde Baru tak cukup berhasil.

Pembebasan tahanan politik, pers tanpa sensor, penghapusan asas tunggal bagi partai politik, dibebaskannya semua orang mendirikan partai, lalu menggelar pemilu multipartai tak menjamin tumbuhnya legitimasi publik yang kuat bagi pemerintahannya.

Habibie tetap saja dicaci sebagai presiden yang tak punya dukungan politik. Dia pun kalah melalui pemilu paling bersih yang pernah digelar dalam kontestasi politik di negeri ini.

Demokrasi memang jalan rumit. Sering minta tumbal yang aneh-aneh. Upaya, common will, dan tindakan nyata saja tak cukup untuk meraih kekuasaan terhormat darinya. Namun, ada catatan patut diberikan. Para demokrat itu perlu track record bahwa di masa lalu dia berkuasa melalui jalur kuasa yang benar menurut nilai moral dan martabat kekuasaan. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda