Dulu Mimpinya Solar Cells, Kini...?

Dahlan Iskan

COWASJP.COM – "Kita negara tropis. Matahari bersinar sepanjang tahun. Kita harus manfaatkan sinar matahari itu untuk energi listrik terbarukan. Kita akan bangun listrik tenaga surya seluas lapangan sepakbola di Kulonprogo...."

Begitu kira-kira kalimat yang saya tangkap dari pria ini belasan tahun lalu. Saat itu ia menjadi Ketua Pusat Studi Energi (PSE) UGM. Solar cells (sel tenaga surya) menjadi mimpinya. Dia juga membuka "toko" untuk menjual "paket instalasi listrik tenaga surya." Ya dengan harga Rp 3 juta termasuk pemasangannya --waktu itu-- satu rumah sudah bisa menikmati listrik tenaga surya.

Sebagai wartawan saya mengikuti ide-ide pria ini. Termasuk "penentangan" yang dia hadapi. Termasuk dari Rektor sendiri. Sebagai ilmuwan dengan sejumlah hak paten, dia cukup disegani di luar negeri. Pernah dia mendapat undangan sebagai narasumber di sebuah negara di Eropa. Bicara soal energi terbarukan. Namun, waktu itu, Rektor yang pernah menjadi komisaris PLN ini, tak memberi izin. Gagallah ia presentasi di Eropa. Hingga posisinya sebagai ketua PSE pun kemudian diganti. 

Saya pun kemudian "kehilangan" kontak. Baru pada tahun 2010-an namanya terdengar lagi. Menjadi Direktur Utama (Dirut) salah satu BUMN saat Menterinya Dahlan Iskan. Namanya sering disebut Pak Dahlan di serial Manufacturing Hope yang terbit di media. Dan begitu turun dari jabatan Dirut BUMN itu, dia pun seakan hilang lagi tertelan bumi. 

Eh, Jumat (16/3) saya ketemu dia di "kantor" yang "nyelip" di sudut barat Radar Jogja. Di halaman parkir ada mobil Mercy dengan plat nomer keren AB 42 TN. Saya tahu tidak ada kawan di Radar Jogja yang punya mobil semewah ini. Saya tanya Satpam yang membantu parkir mobil saya. Dikatakan, milik bapak di kantor ini. Sembari menunjuk "dua kontainer" yang dipasangi AC di sisi Barat Kantor Radar Jogja.

Lalu saya lihat ada seorang pria yang sedang duduk di kursi depan pintu. Ada rokok dan segelas kopi di  depannya. Kemudian saya sapa. "Apa kabar Pak? Masih ingat saya?" pancing saya. 

"Hehehe...ingat wajahnya. Tapi ketemu di mana ya?" katanya sembari menjabat tangan saya.

Ketika saya ungkapkan kalimat seperti yang saya tulis di awal itu, dia pun langsung ingat. "Ya ya.... Itu mimpi masa lalu," sahutnya.

"Lha kan belum terwujud Pak. Belum ada solar cells sebesar lapangan bola di Kulonprogo," kata saya. 

Dia pun lalu cerita panjang lebar selepas dari memimpin PSE UGM. Mulai dari post-doc ke Australia, hingga kerja dan bisnis di New York. Lalu pulang melamar menjadi Dirut BUMN dan kemudian jadi "penganggur." 

"Saya sekarang menjalankan usahanya Pak Dahlan. Membuka perusahaan di Amerika. Bekerja sama dengan MIT. Pak Dahlan investasi di sana," ungkapnya. 

Usaha apa? Sebelum menjelaskan usaha apa, pria yang pernah menjadi konsultan energi PBB ini menceritakan mimpinya yang baru. "Membangun listrik di perbatasan untuk TNI penjaga NKRI. Listrik yang dengan alat kecil bisa menghasilkan tenaga besar dan tahan lama," katanya.

Dengan tenaga surya, cepet rusak dan aus sel-nya. Harus gonta-ganti. Padahal tenaga teknisinya tidak selalu siaga di tempat. Sedangkan kebutuhan listrik di perbatasan sangat vital bagi TNI. "Saat ini kami mau jualan pembangkit listrik mikro yang bisa bertahan puluhan tahun dan tenaganya besar," tambahnya. 

Prototype-nya sedang kami kerjakan, katanya. Segera dalam waktu dekat bisa dimanfaatkan untuk NKRI tercinta. 

Kok bisa alatnya "mikro" hasilnya "makro"? "Bisa saja," jawabnya. Lalu diterangkanlah panjang lebar soal nuklir hijau yang kini dikembangkannya bersama Pak Dahlan. 

"Kami memanfaatkan torium (thorium). Ini banyak kita punya."

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan ada 210 ribu-280 ribu ton kandungan torium di Indonesia. Keberadaannya tersebar di berbagai daerah. Antara lain di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Barat. Torium banyak ditemukan di daerah yang memiliki tanah jarang atau rare earth. Tenaga yang dihasilkan torium juga dahsyat. 

Untuk kebutuhan satu gigawatt listrik selama satu tahun, hanya diperlukan 1.000 kg torium. Torium memiliki densitas energi tertinggi di antara bahan baku energi lainnya.  Sebagai perbandingan, 1 ton torium sama dengan 200 ton uranium. Atau setara dengan 3,5 juta ton batu bara. Jika 1 kg batu bara dapat menyalakan lampu 100 watt selama 4 hari, dengan torium lampu yang sama bisa menyala hingga 4 ribu tahun! 

Mantan konsultan energi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) itu menyebut torium sebagai jalan menuju kemandirian dan kedaulatan energi. Sebab, torium jauh lebih dahsyat daripada uranium. 

Limbah torium juga tidak bisa dijadikan senjata nuklir. Relatif lebih aman. Limbah torium justru bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Salah satunya untuk sterilisasi bahan pangan, obat, dan alat-alat kesehatan. Limbah uranium bisa bertahan hingga 10 ribu tahun, tapi limbah torium hanya butuh sekitar 15 tahun.

Jika Indonesia bisa memanfaatkan potensi tersebut, problem kebutuhan energi akan banyak teratasi. "Inilah cara paling baik. Maka dari itu disebut green nuclear," tegas Yudiutomo Ismarjoko. 

Ya. Pria yang mimpinya berubah itu adalah Yudiutomo Ismarjoko, mantan Dirut Batan Tek. Dan usaha yang dikembangkannya di AS bersama Pak Dahlan Iskan mendapat lampu hijau dari Pemerintahan Donald Trump. 

Jadi mimpi solar cells nya bagaimana Pak? Dia hanya tersenyum.... (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda