Cerita di Balik Disway (2)

Menanti Jawaban yang Bikin Gusar

COWASJP.COM – Pesan pendek itu datang tiga hari setelah nama domain disway.id dibeli. ‘’Besok habis magrib bisa ketemu saya di apartemen Capital? Ibu masak enak, khas Kalimantan,’’ kata Pak Dahlan Iskan.

Mata saya seketika berbinar. Sedikit tak percaya. Secepat itukah sembuhnya? 

‘’Siaaap!’’ jawab saya.

Hari menjelang gelap ketika saya mengemudi mobil Toyota Innova dari Menteng ke Apartemen Capital di Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Pusat. 

Hujan turun dengan derasnya di setengah perjalanan. Jalan HR Rasuna Said macetnya tak ketulungan. Untung hari itu saya naik mobil. Biasanya saya mengendarai sepeda motor. Malas bermacet-macet di jalan.

Setiap 30 menit Pak DI mengirim pesan. ‘’Sampai mana?’’ 

Setiap 30 menit pula saya mengirim posisi terkini. Tak perlu ada keterangan lagi. Dengan aplikasi mylocation, Pak DI sudah bisa mengetahui.

Setelah berjuang 1,5 jam, sampai juga saya di lantai parkir Apartemen Capital. Sahidin, asisten pribadi Pak DI sudah menunggu di depan pintu lift. Untuk naik ke ruangan harus punya kunci. 

Setiba di lobby, Zaini sudah duduk menunggu. Rupanya sudah satu jam dia di situ. Bersama Zaini ada Imam, teman kerjanya. Pegiat media sosial dan pemilik start up persewaan sepeda. 

Saya memang mengajak Zaini bertemu Pak Dahlan malam itu. Kebetulan Zaini sedang janjian dengan Imam. Tak apa. Bertiga kami menjumpai Pak DI di ‘’rumahnya’’.

Di dalam lift, pikiran saya terus berputar-putar. Membayangkan seperti apa Pak DI sekarang. Kalimat ‘’manusia setengah bionic’’ itu terlalu mendominasi. Apakah mirip film The Six Million Dollar Man? Atau seperti tokoh besar yang tergolek di tempat tidur dengan beberapa alat bantu elektronik selama bertahun-tahun itu?

Tiba di depan pintu apartemen, mendadak ada suara melengking dari balik pintu. ‘’Assalamu’alaikum JTO…’’

Aha! Itu jelas suara Pak DI. Tak salah lagi. Itu Pak DI. Lengkingannya khas. Nadanya tinggi.

Seketika saya merasa lega. Meski belum melihat, saya bayangkan Pak DI tidak dalam kondisi lemah dengan berbagai alat bantu. 

‘’Wa’alaikum salam Abah…’’ jawab saya sembari membuka sepatu.

Dari balik pintu saya saya buka pelan-pelan, tampak Pak DI sedang tiduran di sofa satu-satunya di apartemen itu. Sebuah novel ada di tangannya. Novel yang tebal. Dugaan saya 700 halaman. Sepertinya novel terjemahan. 

Biasanya saya segera memeluk Pak DI. Tapi kali itu tidak. Saya tidak berani. Khawatir nyenggol alat-alat elekronik yang ada di balik kaosnya. Saya benar-benar tidak tahu. Alat apa yang dipasang pada tubuhnya sehingga menjadi setengah bionic.

Pandangan saya kemudian beralih ke meja. Di atas meja ada dua keranjang buah-buahan. Satu keranjang berisi duku Palembang yang besar-besar. Satu keranjang lagi berisi rambutan jenis rapiah yang ‘’ngelothok’’. Saya tahu dari ciri fisik kulitnya.

‘’Abah makan buah-buahan juga?’’ tanya saya.

‘’Makan. Saya kan sehat?’’ jawab Pak DI.

Aneh. Katanya sakit. Jadi setengah bionic. Kok masih makan duku dan rambutan. Seperti orang normal saja.

‘’Katanya jadi manusia setengah bionic? Memang pakai apa Abah?’’ tanya saya penasaran.

Pak DI merogok saku. Mengambil sebuah selang berwarna putih seukuran ibu jari. ‘’Saya sekarang memakai selang itu di sini sampai sini,’’ kata Pak DI sembari memeragakan gerakan jari menunjuk dada ke arah perut.

‘’Ini selangnya?’’ tanya saya sambil terbengong.

‘’Bukan. Ini contoh selangnya. Yang sebenarnya tiga atau empat kali ini,’’ jawab Pak DI.

Mendengar jawaban itu, saya tambah melongo. Saya lihat Zaini dan Imam tak kalah herannya. ‘’Mirip selang buat menyiram tanaman yang dijual di iklan televisi,’’ komentar Imam.
Kami pun tergelak Bersama.

Selangnya berwarna putih. Menempel di bagian luar selang itu sejenis kawat baja. Kalau dipencet selangnya gepeng. Begitu dilepas, kembali pada bentuknya semula. Elastis. Mudah dibengkok-bengkokkan. Tapi segera kembali ke bentuk semula.

‘’Ayo makan,’’ kata Abah, begitu sop kaki sapi siap di meja makan.

‘’Abah makan sop kaki sapi juga?’’ tanya saya.

‘’Makan apa saja tidak masalah. Saya kan sehat,’’ jawabnya.

Lagi-lagi kami tertawa.

Dasar lapar, tak sampai 15 menit, sop kaki sapi itu pun ludes. Hanya tersisa kuahnya.
Imam rupanya masih lapar. Tempe bacem di piring pun disikatnya. Dicocol dengan sambal superpedas, lima iris tempe itu pun amblas. ‘’Sopnya enak. Tempenya enak. Sambalnya, apalagi…’’ kata Imam.

‘’Ibu yang masak. Khas Kalimantan. Khusus buat Anda,’’ kata Pak DI.

Rupanya, Pak DI Bersama istri dan Sahidin tiba di Jakarta selepas dzuhur. Sebelum ke apartemen, singgah sebentar ke Pasar Santa. Membeli kaki sapi, tempe dan bumbu dapur.

‘’Abahmu sudah kangen masakan Mamak. Selama di Singapura kan Mamak tidak masak,’’ kata Bu Dahlan dari ruang tamu.

Hampir satu jam kami berdiskusi di meja makan itu, membahas rencana website disway.id. ‘’Saya hanya akan menulis di website ini. Kalau ada yang mau mengutip tulisan saya, biar saja mengambil dari sini,’’ pesan Pak DI. ‘’Mengapa tidak langsung dikirim ke jaringan Jawa Pos saja?’’ tanya saya.

Pak DI tidak segera menjawab. Hanya tersenyum. Lalu tertawa kecil. ‘’Pokoknya hanya di website itu saja,’’ jawabnya.

Saya paham. Dengan jawaban itu, pertanyaan tak perlu dilanjutkan. Tapi, jujur, jawaban itu menimbulkan tanda tanya besar. Bikin gusar. (bersambung)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda