Cerita di Balik Disway (1)

Susahnya Domain yang DI Banget

Dahlan Iskan (Foto: Disway)

COWASJP.COM – Saya punya cara tersendiri untuk memperingati hari pers nasional yang berlangsung pada 9 Februari 2018 lalu. Bila wartawan lain beramai-ramai ke Padang, Sumatera Barat, saya cukup di rumah Zaini. Di Rawa Mangun, Jakarta Timur.

Sehari menjelang Hari Pers Nasional. Sejak lepas Isya saya di sana. Bersama Zaini mempersiapkan sebuah website pribadi. Website itu harus bisa diakses pada tanggal 9 Februari 2018 tepat pukul 08.00.

Website baru itu bernama DI’s Way. Nama domainnya: www.disway.id. Dibaca: dis-wae-dot-ai-di. 
DI’s Way berarti ‘’way of DI’’. DI tak lain dan tak bukan adalah singkatan seorang tokoh pers nasional Dahlan Iskan. 

Pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 itu, dikenal sebagai wartawan dan pengusaha yang sukses membangun ratusan koran harian dan puluhan stasiun televisi lokal dalam jaringan Jawa Pos Group.

Meski sosok DI identik dengan Jawa Pos Group, DI’s Way tidak ada hubungan sama sekali dengan Jawa Pos Group. DI’s Way adalah entitas yang bersifat independen. Domain www.disway.id didaftarkan atas nama PT Jagat Pariwara Media Citra. 

Admin DI’s Way ada dua: saya sendiri, Zaini. Nama terakhir adalah orang-orang muda yang kreatif. Belum pernah bekerja di kelompok usaha Jawa Pos. Alumni ISI Jogja itu sehari-hari dikenal sebagai eksekutif di sebuah perusahaan biro iklan. 

Hanya saya yang pernah bekerja di Jawa Pos. Saya mengajukan pensiun dini sebagai karyawan Jawa Pos pada tahun 2010 setelah bekerja selama 20 tahun. Sejak itu, saya mengelola usaha sendiri.

Pensiun bukan berarti berpisah. Hubungan dengan Pak DI masih terjalin dengan baik. Bahkan saat Pak DI maju dalam konvensi calon presiden Partai Demokrat pada 2014 lalu, saya menjadi salah satu tim kampanye.

Pertemuan terakhir dengan Pak DI berlangsung di Surabaya, awal Desember 2017. Usai bersenam pagi di halaman Graha Pena, saya menikmati sarapan pagi yang lezat. Rupanya Pak DI merayakan setahun berdirinya klub senamnya.

Usai senam, saya mampir ke rumah Pak DI. Di Sakura Regency. Di belakang kompleks Graha Pena Jawa Pos. Sekitar 3 kilometer. Sayangnya tidak bertemu. Pak DI keburu pergi. Mengisi seminar di Universitas Airlangga.

Setelah itu saya tidak berkomunikasi lagi. Tapi melalui beberapa kawan, saya dengar Pak DI sekeluarga menunaikan ibadah umroh, menjelang tahun baru. 

Ada beberapa fotonya bersama kedua anak dan menantu serta cucu-cucunya seusai tawaf di Makkah yang beredar di group whatsapp. Saya sempat kirim ucapan doa. Tapi tidak berbalas. Mungkin repot.

Tidak tahu kalau sedang sakit.

Pertengahan Januari 2018, saya berkirim kabar ke Pak DI melalui whatsapp. Saya hanya mau meng-update informasi tentang perkembangan kegiatan saya. Ingin mengajak Pak DI menulis buku. Mengajak webinar. 

Kangen juga tidak pernah mendengar kabarnya.

Info saya kirim tengah malam. Pak DI menjawab empat jam kemudian. ‘’Saya sedang berobat di Singapura. Saya mengalami Aorta Dissection. Sekarang saya menjadi manusia setengah bionic.’’

Tersentak saya membaca jawaban itu! Kaget bukan main! Bukannya sedang umroh? Kok sekarang sakit? Mengapa tidak ada yang mengabarkan kalau sedang sakit di Singapura? Jadi manusia setengah bionic pula…

Kalimat ‘’manusia setengah bionic’’ mengarah pikiran saya pada pengalaman menjenguk seorang tokoh nasional. Sahabat Bung Karno. Dia sudah koma selama 17 tahun. Tergolek lemah dengan segala macam alat bantu yang bekerja secara elektronik.

Seperti itukah Pak DI? Dengan tubuh penuh selang? Dengan wajah penuh selang? Pikiran saya berputar-putar. Tidak ada foto terbaru. Sulit membayangkannya. 

Dari berbagai informasi di internet, saya dapatkan penjelasan tentang aortic dissection atau Aorta Dissection. Ngeri! Saluran aorta dari jantung itu robek. Akibatnya darah dari jantung tidak mengalir dengan semestinya. 

Solusinya pembuluh robek itu harus ditutup dengan pembuluh buatan. Seperti selang plastik. Namanya stent.

Aduh! Mendadak kepala saya pening. 

‘’Saya ingin menuliskan pengalaman menjadi manusia setengah bionic itu, tetapi tidak di koran. Saya hanya mau menulis di website. Tolong carikan nama.’’

Kiriman pesan terbaru itu membuyarkan lamunan. Saya menyimpulkan kondisi Pak DI tak terlalu gawat. Setidaknya masih bisa menulis. Masih bisa kirim pesan pendek. 

Berarti masih cukup kuat. Sekurang-kurangnya masih bisa berpikir dan berkomunikasi.

Seperti apa bionic-nya? Kembali saya melamun. Apakah Pak DI harus menggunakan mesin elektronik untuk menormalkan aliran darahnya sambil duduk di kursi roda atau tergolek di tempat tidur yang penuh selang?

Ah, sudahlah! Jangan membayangkan yang tidak-tidak. Kata hati saya.

Saya pun tidak membalas pesan Pak DI. Langsung bekerja saja. Saya tahu betul karakter Pak DI.

Kalau sudah punya keinginan, tak mau ditunda-tunda lagi.

‘’Sudah dapat nama?’’ tanya Pak DI dua hari kemudian.

Benar kan? ‘’ Saya sedang mencari-cari nama domain yang karakternya unik, pendek, mudah dibaca, mudah diingat, now banget dan DI banget.’’ jawab saya. 

Saya harus menjawab begitu. Dengan mengemukakan beberapa alasan. Padahal jawaban bisa dipendekkan menjadi ‘’belum’’ saja. 

Tapi saya tahu, Pak DI tidak senang dengan jawaban ‘’belum’’. Kerja dengan Pak DI harus tahu gayanya. Set-set-wet.

Selama dua hari itu, saya terus mencari-cari nama. Ada banyak pilihan nama. Tapi domainnya tak tersedia. Nama ‘’DahlanIskan’’, misalnya. Hampir semua sudah ‘’diambil’’ orang. 

Sebenarnya ada domain dahlaniskan.co.id. Tapi saya tidak suka dengan pelafalan ko-it. Dalam bahasa prokem, ko-it berarti mati. 

Di tengah salat ashar, tiba-tiba saya menemukan nama itu. Tidak hanya satu. Bahkan dua: ‘’likedis’’ dan ‘’disway’’. Dua kata itu terus menggoda pikiran saya. Hingga salam. Astagfirullah. 

Usai salat saya browsing lagi. Domain untuk dua-duanya tersedia. Dari dua nama tersebut, saya menjagokan ‘’disway’’. Saya kirim dua-duanya ke Zaini. Ternyata Zaini kurang suka dengan nama ‘’likedis’’.

Saya kirim lagi ke Pak DI sama. Rupanya pikiran Pak DI dan Zaini sama. Nama likedis dicoret. Nama disway yang dipilih. 

Disway berarti DI’s way atau the way of DI. Nama domain yang lebih pas untuk menggambarkan perjalanan Pak DI yang penuh warna. (bersambung)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda