Wisata Religi ke Maroko dan Turki (3)

Di Dinding Kamarnya Tertulis “Al-Maut”

COWASJP.COM – Nama tokoh yang satu ini bagi warga Indonesia, khususnya warga Nahdhiyyin cukup familiar. Yaitu Muhamad Bin Sulaiman Al-Jazuli. Hal itu disebabkan salah satu karya beliau yang berjudul “Dalailul Khairat” selalu dibaca di kalangan pesantren-pesantren yang berbasis Nahdlatul Ulama’ (NU).

5.Muhamad Bin Sulaiman Al-Jazuli

Tokoh ini lahir dan dibesarkan di kawasan Jazulah yang masih masuk wilayah Maroko pada 807 H atau 1404 M, dengan nama asli Muhamad bin Abu Bakar Al-Jazuli.

Beliau terlahir dari keluarga pecinta ilmu. Orang tua dan kakeknya merupakan salah seorang ulama’ terkemuka di negeri Maroko. Wajar saja, sejak kanak-kanak beliau sudah ditanamkan rasa cinta kepada ulama’ dan ilmu-ilmu Islam. Sedari kecil beliau sudah diajarkan Al-Qur’an dan ilmu nahwu dari ulama’-ulama’ di Jazulah.

Ketika usianya beranjak dewasa, barulah beliau mengembara ke berbagai negeri untuk berguru ilmu-ilmu Islam. Tidak kurang dari Negeri Hijaz, Mesir, dan Palestina pernah beliau singgahi untuk menemui ulama’-ulama’ terkemuka di negara-negara tersebut. Di Mesir beliau belajar di Al-Ahzar di bawah bimbingan Syeikh Abdul Aziz Al-Ajami.

nyar.jpgBersilaturahim di kediaman DR Rodhi Kannun, salah seorang guru Thariqoh Tijaniah di Rabat yang menyimpan rambut Nabi Muhammad SAW.

Setelah dirasa cukup mengembara ke berbagai negeri, akhirnya beliau memantapkan diri untuk belajar di Fes Maroko yang terkenal dengan Universitas Qurawiyin (universitas tertua di dunia).

Selama berada di Fes, beliau banyak menemui ulama’ terkemuka. Salah satu ulama’ Fes yang beliau temui adalah Syeikh Ahmad Zaruq. Di bawah bimbingan Syeikh Zaruq ini, Al-Jazuli muda banyak menempa diri belajar dunia tasawuf.

Kedalaman tasawufnya selama berada di Fes ini pula yang mengantarkan beliau menuangkan pengamalan spiritualnya dalam sebuah kitab yang diberi nama “Dalailul Khairat.” Kitab ini yang kemudian menjadi salah satu perjuangan KH Wahab Hasbullah dan ulama’ NU yang tergabung dalam komite Hijaz saat menghadap kepada Raja Saudi tahun 1925.

Setelah sekian lama berpetualang mencari ilmu, akhirnya beliau memantapkan untuk kembali ke tanah kelahirannya di daerah Jazulah. Selama beliau mengajar, ratusan bahkan ribuan pelajar banyak berguru kepadanya.

Bahkan tercatat sampai 12.000 pelajar yang belajar ilmu tafsir, hadits dan ilmu tasawuf kepada beliau. Di antara para muridnya yang terkenal adalah Syeihk Abdul Aziz Al-Tabba’, Syeikh Ahmad bin Umar Al-Haritsi dan Abdullah As-Shoghir.

Di samping beliau mengajar ribuan muridnya, beliau juga bergelut dengan dunia tasawuf yang memang menjadi ciri khas negeri Maroko. Saat itu pula beliau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan politik.

Kesehariannya hanya terbatas mengajar lalu menyendiri di salah satu kamar beliau yang tidak semua orang boleh memasuki kamar tempatnya ber-kholwat. Para muridnya sempat penasaran akan hal tersebut.

Barulah diketahui ternyata pada dinding kamar yang selama ini beliau jadikan tempat ber-kholwat itu, tertulis kalimat “al-maut” (kematian) sebanyak tiga kalimat dengan lafadh yang cukup mencolok. Tulisan itu beliau jadikan pengingat dirinya, bahwa kenikmatan apa pun di dunia ini, pada akhirnya akan berujung dengan kematian.  

089872a8-ef4e-4d72-8974-e21667cc1373.jpg

Popularitas ulama’ terkemuka Maroko ini berakhir setelah beliau diracun dan meninggal dunia saat bersujud pada raka’at pertama sholat Subuh. Beliau meninggal dunia pada 16 Rabiul Awwal 870 H dalam usia 63 tahun.

Pusara beliau awalnya berada di kawasan “Afugal” kemudian dipindah ke Marakis setelah 20 tahun dari meninggalnya beliau. Pusara beliau banyak dikunjungi oleh warga setempat khususnya hari Jum’at dan para peziarah membaca “Dalailul Khairat” kitab karya beliau.

6.Abdul Aziz At-Tabba’

Lahir dari keluarga yang berlatar belakang puritan (fanatik agama) menjelma jadi sosok yang tersohor berkat popularitas gurunya. Dia adalah Abdul Aziz bin Abdul Haq At-Tabba’, Al-Harrar Al Marakisyi.

Mendapat gelaran At-Tabba’ karena memiliki murid yang sampai mencapai 1.200 orang. Begitu juga gelaran Al-Harrar, karena beliau awalnya hanya bekerja sebagai pemintal kain sutera.

Tidak cukup data tentang tahun kelahiran tokoh yang satu ini. Tapi setidaknya tahun kelahirannya tidak jauh beda dengan tahun kelahiran gurunya Al-Jazuli yang lahir di tahun 804 H. Data yang ada hanya beliau lahir dan dibesarkan di Kota Marakis.

Begitu menginjak dewasa, kehidupan spiritual beliau banyak dibentuk oleh kedua guru utamanya, yaitu Syeikh Muhamad bin Sulaiman Al-Jazuli dan Muhamad As-Shoghir As-Sahali.

Selama dalam pengasuhan Imam Al-Jazuli, At-Tabba’ banyak diajarkan ilmu tasawuf khususnya dunia ke-thariqot-an. Karena itulah Al-Jazuli menunjuknya sebagai Khalifah “Thariqoh Al-Jazuliyah Asy-Syadziliyah” yang pada akhirnya beliau juga mendirikan thariqoh sendiri yang diberi nama “Thariqoh Al-Jazuliyah As-Tabbaiyah.

Di samping mengajarkan mujahadah (berupa ajaran tidak makan sebelum lapar, tidak tidur sebelum mengantuk dan tidak berbicara kalau tidak terpaksa) beliau juga lebih memfokuskan kepada ajaran pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan dunia usaha.

3031f87c-d932-4cd2-b2c7-cf9ec8a1d6c0.jpgDi depan pusara Imam Al-Jazuli, pengarang kitab Dalailul Khairat, yang selalu dibaca di pesantren-pesantren NU.

Dengan latar belakang sebagai pekerja kain sutera sebelum belajar tasawuf kepada Imam Al-Jazuli, beliau berhasil memadukan antara mujahadah dan pemberdayaan ekonomi umat. Upaya sederhana ini yang kemudian mengantarkan beliau semakin dikenal oleh khalayak.

Sebagian masyarakat ada juga yang pernah merasakan karamah yang dimiliki oleh At-Tabba’ ini. Salah satunya adalah beliau mampu menyembuhkan bermacam penyakit kulit dan mata.

Begitu Imam Jazuli gurunya meninggal dunia, At-Tabba’ masih menunjukkan rasa hausnya akan ilmu ruhaniyah-nya dengan memilih berguru kepada Muhamad Ash-Shoghir As-Sahali.

Selama 8 tahun berkhidmah kepada As-Sahali, At-Tabba’ semakin menunjukkan eksistensinya di dunia tasawwuf. Kealiman dan kekuatan spiritualnya semakin tersiar di wilayah Marakis sehingga ribuan pelajar datang untuk berguru kepadanya. Tidak kurang dari 1.200 pelajar pernah berguru langsung kepadanya.

Di antara murid seniornya adalah Syeikh Abdullah Al-Ghazwani, Abus Surus Iyad bin Ya’qub Ad-Dakkali dan Al-Kamil Muhamad bin Isa Al-Fahdi. Bahkan data lain menunjukkan kalau mayoritas ulama’ dan auliya’ di Maroko pernah berguru kepada At-Tabba’.

Beliau wafat di tahun 914 H atau 1508 H dan dimakamkan di Marakis di kawasan Tsulus Fuhul yang sekarang masuk daerah Hay Abdul Aziz. Pusaranya juga banyak dikunjungi para peziarah.

7.Abdullah Al-Ghozwani

Orang Maroko mengenalnya dengan nama “Maulal Qushur”, karena lahir dan dibesarkan di wilayah Al-Qashrul Kabir. Leluhurnya berasal dari kawasan Ghazwah yang masih termasuk kawasan negeri Maroko.

Masa kecilnya dihabiskan dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu adab. Berkat kesungguhannya, tokoh yang bernama lengkap Abdullah bin Ujal Al-Ghozwani ini mampu menghafalkan Al-Qur’an dengan baik dan dalam tempo yang sangat cepat.

da75cc74-0f1b-46e8-98b3-48daaf6e2238.jpgDi pelataran Universitas Qurawiyin, kampus tertua di dunia.

Ayah beliau termasuk orang-orang shaleh dan memiliki ketajaman firasat yang kuat yang lebih suka melakukan pengembaraan dari satu negeri ke negeri yang lainnya.

Walaupun demikian, beliau tetap memantau perkembangan Al-Ghazwani sang buah hatinya. Sebelum melakukan pengembaraannya, beliau mengatakan kepada karib kerabatnya: “Saya punya anak yang saya tinggalkan saat dia baru belajar membaca Al-Qur’an. Kelak dia akan menjadi tokoh dan akan banyak pengikutnya.”

Begitu menginjak dewasa, Al-Ghazwani merantau ke negeri Fes dan berguru langsung kepada Syeikh Abil Hasan Sidi Shaleh Al-Andalusi. Di bawah bimbingan ulama’ Fes ini, Al-Ghazwani belajar ilmu fiqih dan ilmu hadits.

Setelah sekian lama berguru kepada Sidi Shaleh Al-Andalusi beliau memantapkan diri untuk mengembara ke Marakis. Sesampainya di kota yang dikenal dengan kota ilmu dan peradaban ini, beliau menemui Syeikh Abdul Aziz At-Tabba’ murid kesayangan Imam Al-Jazuli pengarang kitab “Dalailul Khairat”.

Setelah merasa cukup dengan ilmu yang didapat dari At-Tabba’, akhirnya beliau memutuskan untuk mencari satu tempat khusus untuk mengamalkan ilmunya.

Dipilihlah kawasan “Hibti” sebagai tempat perjuangannya. Selama berada di Hibti, firasat orang tuanya benar-benar menjadi kenyataan dengan membludaknya murid dan pengikutnya. Sederet nama-nama ulama’ dan tokoh Maroko pernah berguru kepadanya.

Di antara mereka terdapat Abul Hajjaj At-Talidi, Syeikh Abdul Warits bin Abdullah, Abdul KarimAl-Fallah dan Syeikh Muhamad bin Ali Az-Zamroni.

Selama di Hibti pula, beliau memperjuangkan Thariqoh Syadziliyah Al-Jazuliyah yang tidak berbeda dengan ajaran yang disampaikan oleh gurunya, At-Tabba’.

Beliau juga mengajak para petani untuk gemar bekerja dengan tetap melakukan kholwat di zawiyah beliau di Hibti. Namun karena kondisi di Hibti kurang mendukung, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Marakis.

Kegiatan selama di Marakis ini beliau gunakan untuk mengajar sambil merawat pusara guru beliau. Di samping itu juga beliau menulis kitab yang berjudul “An-Nuqthatul Azaliyah, fi Sirridz Dzatil Ilahiyah.”

Kegiatan mengajar dan menulis terganggu oleh penyakit jantung yang beliau idap. Tokoh yang mengajarkan berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa ini, akhirnya meninggal dunia pada tahun 935 H atau 1591 M.

Beliau dimakamkan di kawasan Marakis dan pusara beliau ramai dikunjungi oleh peziarah yang datang dari Marakis maupun daerah lain di Maroko.

Demikianlah profil dan kisah singkat Wali Pitu (Tujuh Wali) atau Sab’atu Rijal. (Bersambung)

Pewarta : H.M. Ramly Syahir, Lc
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda