Menggagas Solusi Tanpa PLN (2-Habis)

Dari Ide Terbang ke Denpasar

COWASJP.COM – Tiga orang memberi respon atas artikel saya seri 1 yang terbit di media ini, kemarin. Dua dari lembaga pertolongan bencana. Satu dari perusahaan pengelola infrastruktur transportasi.

Dua lembaga pertolongan bencana itu langsung meminta konsep dan desain teknik atas klinik lapangan yang saya ceritakan. Minggu depan, saya diminta mempresentasikan. 
‘’Kami butuh 1 unit sebagai model. Selanjutnya kami akan menawarkan kepada kantor jejaring untuk mengadakan,’’ kata Pak Tri, yang menghubungi melalui telepon.

Selain harus presentasi ke lembaga pertolongan bencana itu, minggu depan saya juga diundang ke Denpasar. Pengundangnya seorang pejabat yang bertanggung jawab terhadap keselamatan pengguna jalan raya.

Ide klinik lapangan itu sepertinya akan dipertimbangkan untuk dibangun di beberapa lokasi Pulau Dewata. Mudah dibongkar pasang. Dan pasti ramah lingkungan.

 ‘’Paling gampang memahami converter dan solar cell, adalah memahami genset. Sama-sama mesin penghasil arus listrik,’’ komentar Paulus, Direktur PT ATW Sejahtera, ATPM solar panel REC produksi Norwegia, setelah saya lapori respon tersebut.

‘’Bedanya, converter solar cell mengolah listrik dari sinar matahari. Sedangkan genset menghasilkan arus listrik dari motor yang berputar karena pembakaran BBM,’’ lanjutnya.

Paulus memang pintar mencari bahasa yang sederhana untuk menjelaskan produk solar cell kepada saya. Mungkin dia tahu, latar belakang pengetahuan saya memang tidak cukup untuk memahami energi surya itu dari sisi teknik atau teknologi.

Dengan memahami sebagai genset, saya menjadi lebih mudah untuk membayangkan aplikasinya. Peralatan apa saja yang membutuhkan arus listrik, berarti bisa digabungkan dengan converter panel surya.

Awalnya saya membayangkan energi surya dengan lampu. Panel surya dipasang di rumah-rumah yang tidak memiliki jaringan PLN untuk tujuan penerangan. Ternyata tidak begitu. Lampu hanya salah satu peralatan elektronik saja.

Warung Es Jus Tenaga Surya
Bila converter panel surya dihubungkan dengan juicer, jadilah warung es jus bertenaga matahari. Bisa dibuka di mana saja. Tidak bergantung listrik PLN dan tidak perlu repot mengisi BBM untuk gensetnya.

Demikian pula bila converter solar cell itu dihubungkan dengan berbagai peralatan medis, jadilah klinik lapangan yang bisa dibangun di mana saja.

Menurut beberapa kawan saya yang aktivis pertolongan bencana, sumber energi bagi klinik lapangan sebaiknya mengakomodasi kebutuhan untuk peralatan medis, peralatan air bersih dan peralatan komunikasi.

Klinik memang memerlukan air bersih. Baik untuk klinik itu sendiri maupun masyarakat yang ada di lokasi bencana. Berarti diperlukan panel surya dan converter yang mampu mengakomodasi kebutuhan listrik untuk pompa air dan unit penjernihan.

Untuk infrastruktur komunikasi, para petugas medis sangat membutuhkan peralatan seperti internet. Berarti energi yang dihasilkan harus bisa untuk menghidupkan radiolink agar terhubung dengan jaringan internet di tempat yang jauh. (habis)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda