Wisata Religi ke Maroko dan Turki (2)

Kebutaan dan Sakit Lepra Bukan Penghalang

COWASJP.COM – Pusara Sab’atu Rijal atau Wali Pitu (Tujuh) pertama di Kota Marakis yang dikunjungi adalah makam Abul Qasim As-Suhaili. Di pusara yang berdekatan dengan istana Raja Muhamad VI ini, para peziarah harus melapor dulu kepada pihak keamanan istana karena posisinya yang hanya dipisahkan oleh tembok istana yang kokoh dan tinggi.

1. PROFIL ABUL QASIM AS-SUHAILI
Beliau dilahirkan di kawasan Malaqoh yang masuk kawasan Suhail di Maroko bagian selatan. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Khatib bin Ashbu’ As-Suhaili. Beliau dilahirkan pada 508 H.

As-Suhaili lahir dari keluarga yang religius dan pecinta ilmu pengetahuan. Ayah dan kakeknya terkenal dengan kealiman dan singa podium (orator). Darah inilah yang mengalir pada sosok As-Suhaili yang juga mempengaruhi hidupnya.

Pada usia kanak-kanak, beliau sudah mampu menghafal Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi yang diajarkan oleh ayahnya. Namun petaka datang pada saat usia beliau memasuki 17 tahun. Beliau terkena cobaan berupa kebutaan total.

Di tengah kebutaan yang dideritanya ditambah dengan kondisi yang serba kekurangan, justru tidak menghalangi semangatnya untuk belajar dari satu guru ke guru yang lainnya.

Sederet ulama besar pernah beliau datangi dan berguru kepada mereka. Dari Ibnul Abrasy beliau belajar Nahwu dan Bahasa, dan dari Ibnu Arabi (Abu Bakar bin Asy-Syeikh) beliau belajar hadits, uhsul fiqh dan tafsir.

Kegigihannya belajar ilmu-ilmu Islam itu mengantarkannya menjadi sosok yang produktif dalam dunia penulisan kitab-kitab agama. Dari tangannya lahir kitab monumental seperti kitab “mas’alatu ru’yatillahi ta’ala fil manam waru’yatun nabi shallahu alaihi wasallam” dan kitab “Ar-raudhul’unuf” kitab syarah “Sirah ibni Hisyam.”

Bahkan kepakarannya di banyak bidang ilmu, menjadikannya sosok yang banyak dicari oleh para pemburu ilmu di zamannya. Tercatat nama Abdurrahim bin Isa Al Fasi, Muhyidin ibnil Arabi dan Kharaj bin Abdullah pernah berguru langsung kepada sosok yang buta namun penuh talenta ini.

Kegemarannya menulis beberapa kitab itu berakhir saat Allah memanggilnya pada usianya yang ke-87 tahun. Beliau meninggal pada hari Kamis 26 Sya’ban 581 H atau 22 November 1185 M.

Pusara beliau berada di kawasan Babur-Rab di Marakis. Pusaranya selalu ramai didatangi oleh peziarah baik warga Maroko maupun dari mancanegara.

maroko2.jpgKus Kus masakan khas Maroko. Hanya dibuat dan disajikan tiap hari Jumat.

Setelah itu rombongan bergerak ke pusara 6 wali yang termasuk dalam “Sab’atu Rijal” yang berakhir sampai sore hari. Profil masing-masing kelima tokoh itu bisa dilihat sebagaimana urutan berikut ini:

2. Yusuf bin Ali Ash-Shonhaji 

Tidak cukup banyak literatur yang menyatakan secara detail tentang bulan dan tahun kelahiran salah satu Wali Pitu ini. Setidaknya sekilas bisa disebutkan di sini kalau As-Shonhaji ini dilahirkan pada permulaan abad ke-6 hijriyah di daerah Marakis, Maroko.

Leluhurnya berasal dari Yaman yang beremigrasi ke Maroko untuk mengadu keberuntungan di era Dinasti Muwahhidin. Saat dilahirkan, kondisi beliau tak jauh beda dengan kondisi anak sebayanya. Anak yang aktif dan menggemaskan.

Namun siapa sangka, pada perkembangan berikutnya, beliau terkena penyakit lepra, yang menurut masyarakat kebanyakan, penyakitnya itu akan menular kepada masyarakat luas dan dianggap sulit untuk disembuhkan.

Masyarakat sekitarnya merasa terganggu dengan wabah penyakit yang diderita oleh Ash-Shonhaji. Karena tidak kuat dengan cemoohan tetangganya, jadilah kedua orang tuanya dengan amat terpaksa mencampakkan tokoh yang dikenal juga dengan sebutan Abu Ya’qub ini ke sebuah gua yang cukup jauh dari tempat tinggal orang tuanya.

Walaupun hidup dengan penuh keterbatasan, dengan izin Allah pula, Yusuf muda tumbuh menjadi sosok yang tegar dan bersahaja. Beliau menjalaninya dengan berpasrah diri kepada Allah. Kesehariannya hanya disibukkan dengan menahan sakit lepra yang sulit didapati obatnya.

Di balik serba kekurangan itu, rupanya Allah membukakan pikiran Yusuf Ash-Shonhaji. Dengan semangat untuk bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain, penyakit yang dideritanya justru tidak menjadi penghalang baginya untuk berkarya.

\Beliau melakukan terobosan dengan membuat kue-kue makanan setiap harinya. Setelah kue-kue tersebut selesai dibuat, beliau membagikannya kepada khalayak secara cuma-cuma.

Bahkan bukan cuma kegiatan membuat kue yang mengisi keseharian beliau selama berada di gua, beliau juga menyempatkan diri berguru kepada Syeikh Ushfur bin Ya’la bin Wain.

Berkat ketekunannya memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas di tengah kondisinya yang serba berkekurangan ini, Allah menjadikannya sebagai sosok yang do’anya selalu diistijabah.

Masyarakat Marakis kemudian mencarinya untuk sekadar minta do’a barokah kepada beliau.

Setelah sekian lama mengabdi kepada masyarakat, walaupun dengan penyakit yang dideritanya, sosok yang dikenal juga dengan ke-wara’an-nya ini menghadap panggilan Tuhannya pada tahun 593 H atau 1196 M dan dimakamkan di dekat kediaman beliau di gua tersebut.

Pusara beliau berada di kawasan Al-Harah bagian luar kawasan Bab Dakkalah, dan selalu dikunjungi baik peziarah lokal maupun mancanegara. Hanya saja jalan menuju ke pusara beliau ini melewati perkampungan warga yang kurang terawat. Di sudut-sudut jalan, suasananya agak kumuh.

3. Al-Qodhi ‘Iyadh  

Tokoh yang satu ini boleh dibilang multi talenta. Beliau di samping dikenal sebagai hakim, juga dikenal sebagai sosok yang pakar di bidang hadits dan ahli sejarah.

Dilahirkan pada 15 Sya’ban 465 H atau 28 Desember 1083 M dengan nama lengkap Iyadh bin Musa bin Iyadh bin ‘Amrun bin Musa bin Iyadh As-Sibti.

Leluhurnya berasal dari Qahthan Yaman yang beremigrasi ke daerah Sibtah yang masuk wilayah Ghornathah. Kondisi yang kurang nyaman di Ghornathah membuat keluarga Al-Qodhi Iyadh bermigrasi lagi ke kawasan Sibtah pada tahun 373 H atau 893 M.

Di daerah Sibtah ini, leluhur Al-Qodhi Iyadh bertempat tinggal sampai pada tiga generasi. Dan di Sibtah pula, Iyadh muda banyak berguru kepada ulama-ulama terkemuka di zamannya.

Pada usianya yang ke-31, Iyadh muda membulatkan tekadnya untuk mengembara ke negeri Andalusia yang sekarang bernama Spanyol di tahun 1113 M untuk menimba ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu Islam.

Di negeri Spanyol ini beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka seperti kepada Ibnu Attab, Ibnil Haj, dan Ibnu Rusydi. 

Setahun berikutnya beliau mengembara lagi ke daerah “Marsih” dan menemui Syeikh Abi Ali Al-Husein Al-Shodafi. Kepada ulama pakar hadits ini, Iyadh muda mendalami hadits Bukhori dan Muslim lengkap dengan ijazah sanad perawi-perawi hadits.

maroko1.jpgDi depan gedung Yayasan At-Talidi.

Begitu usianya sudah memasuki 32 tahun, beliau memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya untuk membagikan ilmu-ilmu yang didapat selama pengembaraannya di negeri Andalusia.

Sambil mengajar murid-muridnya, beliau juga dipercaya menjadi Qodhi (hakim) di wilayah Gharnathah pada tahun 531 H. Setelah 8 tahun menjadi hakim di Gharnathah, beliau berpindah tugas di daerah Sibtah – tanah kelahirannya – pada 539 H.

Kesibukannya sebagai hakim ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk juga mengkaji ilmu-ilmu hadits, baik yang riwayat maupun ilmu hadits dirayah. Bahkan beliau juga banyak mencurahkan pemikirannya di bidang kajian kesejarahan yang berada di Maroko.

Dari tangan beliau lahir karya-karya monumental di bidang hadits seperti “Al-ilma’ fi Dhabthir riwayah wataqyidis sima’, ikmalul mu’allim biwaaidi sholihi Muslim. Sedangkan di bidang sejarah, karya monumental beliau berupa kitab “Tartibul Madarik watanwirul Masalik lima’rifati a’lami madzahib Malik.”

Namun sayang, produktivitas menulis beliau berakhir dengan terbunuhnya beliau oleh tangan-tangan dhalim Ibnu Numarta pada 544 H. Pembunuhan ini disebabkan oleh penolakan beliau untuk mengakui Ibnu Numarta sebagai Imam Mahdi.

Penolakan itu harus dibayar dengan dibunuhnya beliau dengan cara dipanah pada sekujur tubuh beliau. Pusaranya berada di daerah Marakis di kawasan Hay Haillanah dan sampai sekarang ramai dikunjungi oleh peziarah baik warga Marakis maupun mancanegara.

4. Abul Abbas As-Sibti

Dilahirkan dengan nama lengkap Ahmad bin Ja’far Al-Khazraji As-Sibti. Kata As-Sibti yang terselip di belakang namanya menunjukkan kalau beliau berasal dari Sibtah sebagaimana Al-Qodhi Iyadh.

Beliau dilahirkan pada 542 H atau 1129 M sudah dalam keadaan yatim dan dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja, Sang Ibundanya harus banting tulang membesarkan Ahmad kecil.

Kondisi ekonomi yang sangat terpuruk itu membuat Sang Ibunda As-Sibti harus pandai-pandai memutar otak demi sesuap nasi untuk anaknya. Kondisi yang semakin parah ini membuat Sang Ibu As-Sibti dengan amat terpaksa menyuruh As-Sibti bekerja di salah satu penjahit di dekat rumahnya.

Jadilah Ahmad As-Sibti muda bekerja sebagai penjahit dengan gaji yang pas-pasan. Setelah berlangsung cukup lama, As-Sibti lari dan meninggalkan tempat pekerjaannya ini. Sang Ibunda dibikin resah karena tidak jelas rimbanya.

Setelah berhari-hari Ibunda As-Sibti mencari keberadaan anaknya, ternyata As-Sibti kedapatan sedang mengaji di rumah Syeikh Abi Abdillah Al-Fakhor. Ibundanya memarahi Ahmad bahkan sempat akan memukul As-Sibti karena meninggalkan tempat kerjanya tanpa seizin Ibundanya.

Ditanyailah Sang Ibunda As-Sibti oleh Al-Fakhor, “Kenapa ibu memarahi anakmu yang sedang mengaji ini?”

Sang Ibunda menjawab, “Ya Syeikh, kami ini keluarga tidak mampu, untuk biaya hidup saja kami menyuruh anakku ini untuk bekerja supaya dapat pemasukan, kenapa malah berada di sini?”

Syeikh Al-Fakhor tersenyum seraya maerasa iba kalau melepas As-Sibti untuk bekerja lagi. Akhirnya beliau siap mengganti upah As-Sibti dalam setiap bulannya dengan syarat As-Sibti tetap mengaji kepada beliau. Akhirnya Sang Ibunda menyetujui permintaan Syeikh Al-Farokh.

Setelah 20 tahun menetap di Sibtah, beliau tergugah untuk melanglang buana ke negeri Marakis yang dulunya dikenal sebagai kota ilmu pengetahuan dan peradaban. Dengan tekad bulat, akhirnya beliau sampai juga di Kota Marakis dan langsung menemui ulama-ulama terkemuka pada waktu itu.

Setelah dirasa cukup dalam pengembaraannya mencari ilmu, akhirnya beliau membangun padepokan pesantren di kawasan Pegunungan “Jiliz” yang banyak dihuni oleh kabilah Khaz’ah. Di padepokannya ini beliau mendidik ratusan muridnya yang datang dari berbagai negeri di Maroko.

Ajarkan Gemar Bershodaqah

Selama mendidik murid dan masyarakatnya, Abul Abbas As-Sibti mengajarkan mereka untuk gemar bershodaqah. Prinsip hidup yang beliau pegang teguh tentang shodaqah ini sudah terkenal di seantero Marakis.

Salah satu murid beliau yang bernama Ibnu Zayyat berkata, “Saya selalu datang ke majlis Abu Abbas, dan saya melihat ajaran beliau itu tidak jauh-jauh dari soal shodaqah. Bahkan aku pernah mendengar beliau mengatakan, bershodaqahlah kamu, niscaya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan.”

Dalam pandangan As-Sibti, bahwa segala problematika hidup akan dapat diselesaikan dengan shodaqah dan segala problematika hidup dan datangnya musibah dikarenakan adanya sifat bakhil.
Karena itulah, setiap harinya beliau selalu berjalan ke pasar dengan menjumpai banyak orang yang kemudian beliau berikan bantuan, sekaligus pada saat bersamaan, beliau mengingatkan banyak orang di pasar itu agar tidak meninggalkan sholat.

Kebaikan orang sholeh yang ahli shodaqah ini berhenti setelah Allah memanggilnya pada hari Senin 3 Jumadil Akhir 601 H dalam usia 59 tahun dan dimakamkan di kawasan Bab-Taghazut Marakis. Pusaranya sampai hari ini masih banyak diziarahi oleh masyarakat Maroko dan sekitarnya. (Bersambung) 

Penulis adalah H.M. Ramly Syahir, Lc, Pengasuh Ponpes Ulil Albab, Brumbungan Lor, Gending, Probolinggo, dan mantan wartawan Jawa Pos 1992 – 2000.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda