Birul Walidain (2)

Sang Penghuni Langit

DESAIN GRAFIS: kemenperin.go.id.

COWASJP.COM – SEBUAH keajaiban yang luar biasa. Dia hanyalah seorang lelaki miskin. Seorang upahan penggembala domba dan onta. Dari sebuah daerah terpencil di Yaman. Tapi Rasulullah Saw. sendiri menyebutnya Sang Penghuni Langit. Seorang penghuni surga yang sangat mulia. 

Alkisah, dia begitu rindunya hendak berjumpa dengan Nabi. Hatinya risau bukan kepalang. Berhari-hari. Siang dan malam. Karena menghadapi rintangan yang begitu berat. Bagaimana dia bisa pergi, meninggalkan ibunya yang tua renta. Lumpuh dan sakit-sakitan pula.  

Ketika ada tetangganya yang datang dari Madinah, hatinya semakin sedih. Karena mereka telah bertemu Rasul sang utusan Allah. Sedangkan dirinya belum bisa bertemu. Cerita-cerita mereka tentang Muhammad Rasulullah begitu menarik hatinya. Termasuk cerita tentang Perang Uhud yang maha dahsyat itu. Yang membuat Nabi mengalami cedera. Bahkan giginya sempat patah karena dilempari dengan batu oleh musuh-musuhnya. Sehingga dia sendiri memukul giginya dengan batu. Sampai patah pula. Saking geram dan cintanya kepada Rasulullah. 

Suatu hari, karena rindu yang begitu memuncak. Seperti sudah tak tertahankan lagi. Ingin melihat sosok nabi secara langsung di depan matanya. Ingin mendengarkan suaranya secara berhadap-hadapan. Maka dia sampaikan jualah permohonannya kepada sang ibu. 

“Ibu, izinkanlah aku pergi beberapa waktu. Karena aku ingin berjumpa dengan Rasulullah,” katanya memohon. 

BACA JUGA: Pemuda yang Tampan Rupawan

Ibunya menghadapkan mukanya dengan sedih. Merasakan betapa besarnya rindu anaknya untuk bertemu Nabi. Dia sadari selama ini, kerinduan itu tak dapat terobati karena kewajiban sang anak merawat dirinya selama bertahun-tahun. 

.“Pergilah, Nak! Temuilah Rasulullah seperti keinginanmu. Bila sudah berjumpa dengan beliau, segeralah engkau pulang,” ucap ibunya dengan tegar.

Begitulah dia berangkat dengan berjalan kaki. Setelah menitipkan sang ibu kepada tetangga. Menempuh jarak yang sangat jauh. 

Sesampai di rumah Nabi, dia pun mengetuk pintu.Sayangnya, waktu itu Rasulullah tak ada. Karena beliau sedang pergi berperang bersama pasukannya. Dia disambut oleh Siti Aisyah. Isteri baginda Rasul. Karenanya dia kecewa, tentu saja. Ingin sekali rasanya dia menunggu sampai Rasulullah kembali pulang. Tapi bersamaan dengan itu, dia pun teringat ibunya yang sakit-sakitan. Sehingga dia pun pamit untuk kembali pulang ke Yaman.  

Sekembalinya dari medan perang, Rasulullah menanyakan tentang seorang tamu yang mencarinya kepada Siti Aisyah Ra. Menurut keterangan Ummul Mukminin itu, memang benar ada seorang pria yang mencari Nabi Saw. Tapi karena tidak dapat bertemu Nabi, dia segera pulang kembali ke Yaman. Karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Dia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Di depan isterinya dan beberapa sahabat, Rasulullah menerangkan. Bahwa tamu yang mencarinya itu adalah Uwais Al Qarni. Seorang pemuda yang sangat taat dan patuh kepada ibunya. Di samping juga sangat tekun beribadah. Kata Nabi, dia adalah “Sang Penghuni Langit”. Mendengar keterangan Nabi itu, Siti Aisyah dan para sahabat lainnya tertegun. Bagaimana ada orang yang disebut penghuni langit?

Tapi tak menunggu lama, Rasulullah melanjutkan ucapan beliau. “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah, dia mempunyai tanda putih di tengah talapak tangannya.”

Lalu Rasulullah Saw. menghadapkan mukanya kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khathab. Dan beliau berucap: “Suatu waktu nanti, bila kalian bertemu dengannya,  mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

SI PENGGENDONG ANAK SAPI

Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda miskin di sebuah desa di Yaman. Ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya sudah tua, lumpuh dan sakit-sakitan. Sedangkan sanak saudara yang lain tak ada. 

 Suatu kali, ibunya berkata, “Anakku! Mungkin tak akan lama lagi ibu bisa bersama denganmu. Karena itu ibu mohon, usahakanlah agar ibu dapat melaksanakan ibadah haji.”

Tentu saja, Uwais sangat terkejut mendengar permintaan ibunya itu. Selama ini, apa pun yang diminta sang ibu selalu dia upayakan sekuat kemampuannya. Tapi permintaan yang satu ini, sungguh sangat berat dan sulit untuk bisa dia kabulkan. Karena biasanya orang berangkat haji menggunakan unta. Selain itu, mereka juga membawa perbekalan yang banyak. Agar tidak kelaparan di jalan. 

uwais1.jpgFOTO: kemenperin.go.id

Lama Uwais termenung mendengar permintaan sang ibu. Apalagi dia ingat, jarang sekali orang tuanya itu meminta sesuatu kepadanya. Karena ibunya juga sadar, Uwais hanya seorang penggembala. Yang hanya mendapat upah sekadarnya dari para pemilik domba atau unta yang dia gembalakan. Semuanya hanya cukup untuk makan minum mereka berdua. Kalau pun ada sedikit kelebihan, itu pun sering dia berikan untuk membantu beberapa tetangganya yang juga miskin. 

Tapi sekarang sang ibu meminta diusahakan untuk dibawa ke Mekah dan Madinah. Untuk melaksanakan ibadah haji. Bagaimana mungkin, pikirnya. Hatinya sedih bukan kepalang. Berhari-hari permintaan itu tak henti menyeruak di benaknya. Sehingga dia terus berpikir keras. Sambil bermunajat kepada Sang Pencipta Alam Raya. Agar diberi kemudahan untuk meluluskan permintaan sang ibu. Yang bisa jadi adalah permintaan beliau yang terakhir kali. 

Uwais kemudian mendapat akal. Dia membeli seekor anak sapi. Dibuatkannya kandangnya di puncak bukit yang cukup jauh dari rumahnya. Karena itu dia harus menggendong anak sapi itu pulang dan pergi. Antara rumahnya dan kandang sapi. 

Melihat kelakuannya yang aneh, tidak sedikit orang mencemoohkan dirinya. “Uwais gila....Uwais gila,” begitu ucapan orang yang tiap hari melihat dirinya menggendong seekor anak sapi. Naik turun bukit yang tinggi. 

Meski begitu, Uwais tidak peduli. Tanpa henti dia terus melakukan kegiatannya menggendong anak sapi itu. Sampai delapan bulan kemudian. Saat anak sapi itu semakin besar dan berat badannya. Terakhir, diperkirakan sudah sampai 100 kg beratnya. 

Kegiatannya menggendong anak sapi selama delapan bulan tentu saja membuat badannya sehat. Otot-otot tangan dan kakinya pun tumbuh pesat. Dan kekuatan fisiknya jadi luar biasa tidak ada tandingan. 

Menjelang datangnya musim haji, dia pun mempersiapkan segalanya. Terutama beberapa perbekalan yang dibutuhkan selama dalam perjalanan. Jadilah Uwais memanggul  ibunya di pundaknya dari Yaman menuju Mekah dan Madinah. Saat itulah orang-orang di sekitarnya menyadari bahwa itulah tujuan Uwais menggendong anak sapi naik dan turun bukit. Setiap hari. Pagi dan sore. Dari rumah menuju bukit dan dari bukit menuruni jalan ke rumahnya. 

Sewaktu thawaf mengelilingi Ka’bah, Uwais melangkah dengan penuh semangat. Ibunya yang dia panggul di punggungnya tak henti meneteskan airmata melihat semangat Uwais. Ibunya terharu melihat Baitullah yang selama ini hanya hadir di dalam mimpinya.  

Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampunilah semua dosa ibuku,” kata Uwais. 

Ibunya heran mendengar doa Uwais. Lalu katanya, “Bagaimana dengan dosamu?” 

“Dengan terampuninya dosa Ibu, tentu ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Ungkapan Aisha Stacey

Seorang penulis Barat yang kemudian jadi muallaf, Aisha Stacey, mengaku sangat terkesan dengan kisah hidup Uwais Al Qarni. Karena itu dia menulis tentang pemuda miskin dari kabilah Qaran itu. Yang hidup bersama ibunya di sebuah desa terpencil, Murad, di Yaman. Dia hidup di zaman Nabi, tapi tak pernah sempat bertemu Rasulullah. Meski demikian, Nabi menyebutnya sebagai salah seorang sahabat beliau. 

uwais2.jpgAisha Stacey, penulis Barat yang kemudian jadi muallaf. Yang menulis tentang kisah Uwais Al Qarni. (FOTO: themuslimtimes.info)

Antara lain Aisha Stacey menulis: “Uwais al-Qarni proves to us that even if someone is not from the companions of Prophet Muhammad, yet he or she can have immense love for God and His Prophet. Uwais earned the praise of Prophet Muhammad and one of the greatest companions, Umar ibn al-Khattab.” (Uwais Al Qarni membuktikan kepada kita. Bahkan seandainya seseorang bukan dari kalangan sahabat Nabi Muhammad, dia tetap bisa memiliki rasa cinta yang besar kepada Allah dan Rasul. Uwais karena itu mendapatkan pujian dan penghormatan dari Nabi Muhammad dan salah seorang sahabat karibnya, Umar bin Khathab). 

Diceritakan oleh Aisha, sepeninggal wafatnya Nabi Muhammad Saw., Khalifah Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib tidak pernah lupa dengan pesan Rasulullah tentang Uwais Al Qarni. Agar mereka mencarinya dan meminta didoakan olehnya. 

Karena itu setiap musim haji, Umar maupun Ali selalu berusaha memeriksa jama’ah haji dari Yaman. Untuk menanyakan, apakah Uwais ada bersama rombongan mereka. 

Selama10 tahun, tidak pernah ada rombongan haji dari Yaman, yang membawa Uwais Al Qarni bersama mereka. Sampai suatu kali ditemukan Uwais ikut bersama rombongan haji itu.  

Khalifah Umar langsung menyalami lelaki yang disebut jama’ah sebagai Uwais itu. Dan Umar langsung membalikkan telapak tangannya. Untuk memastikan ada tanda putih di telapan tangan itu. Seperti diceritakan nabi dahulu. Dan memang dia menemukan adanya tanda putih itu. 

Untuk lebih meyakinkan lagi, Umar langsung bertanya, “Siapa nama anda?”

Lelaki  itu menjawab, “Abdullah.”

Umar tertawa. Setengah bercanda dia bertanya lagi, “Heheee....Saya juga Abdullah. Hamba Allah. Siapa nama anda yang sebenarnya?”

Dia menjawab, “Uwais Al Qarni?”

 “Apakah dari wilayah Murad dan kabilah Qaran?”

 “Ya.”

“Apakah anda pernah menderita penyakit kusta dan sekarang sudah sembuh, kecuali ada sebesar koin di bahu anda?”

“Ya.”

“Apakah anda memiliki seorang ibu, yang sangat anda hormati dan anda selalu menjaganya dengan baik?”

“Ya.”

Semua jawaban itu sangat menggembirakan hati Khalifah Umar bin Khathab. Karena itu dia menerangkan nasehat Nabi Muhammad kepada dirinya dan beberapa sahabat yang lain. 

Dikatakannya, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda, sebagaimana dipesankan Rasulullah sebelum beliau wafat.” 

Awalnya Uwais keberatan. Karena menurutnya, bagaimana mungkin Umar yang seorang Khalifah pemimpin umat Islam minta doa dan istighfar kepadanya? Dia kan hanya seorang lelaki miskin, yang tidak pernah berjumpa Rasulullah. Apalagi dapat menimba ilmu tentang Islam dari nabi akhir zaman itu. 

“Semestinya akulah yang meminta doa kepada engkau ya Amiral Mukminin,” katanya.

Tapi setelah terus didesak, Uwais pun mengangkat tangannya. Berdoa dan beristighfar untuk dirinya beserta Khalifah Umar dan Ali. 

Tapi yang lebih menarik dari semua itu adalah cerita saat Uwais wafat. Ketika umat Islam hendak memandikan jenazahnya, ternyata tampak banyak orang yang sedang memandikannya. Ketika akan dikafani, sudah banyak pula orang yang sedang mengkafaninya. Begitu juga ketika menyolatkannya, memakamkannya sampai menutup liang makam. Begitu banyak orang yang tampak mengerjakannya. 

Banyak yang berpendapat, penyelenggaraan jenazah Uwais dikerjakan oleh penduduk langit. Para malaikat Allah. Karena dia memang telah disebutkan nabi sebagai penghuni langit. 

Menurut Aisha Stacey: “Islam encourages kindness to parents especially the mother. Prophet Muhammad once advised a man intending to go on a military expedition to stay home instead and look after his mother. ‘Paradise lies beneath her feet,’  he said, implying that the gates of Paradise are open for those who cherish and respect their mothers.” (Islam menganjurkan agar berbuat baik kepada orang tua, khususnya ibu. Nabi Muhammad pernah mengingatkan seorang lelaki yang ingin pergi berperang, agar dia tetap tinggal di rumah untuk merawat ibunya. ‘Surga itu terbentang di bawah di telapak kaki ibu’ begitu sabda Rasul. Sambil mengingatkan bahwa pintu surga itu selalu terbuka untuk orang-orang yang menghargai dan menghormati ibunya. (*

Bandung, 01 Februari 2022.-

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda