Walikota Resmikan Soko Guru Industri PalaBoo®

Saat Walikota Bogor Bima Arya meresmikan dan menandatangani Kampung Pala sebagai kampung tematik, Prasasti Kampung Pala.

COWASJP.COM – Kampung Tematik sudah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia. Tema dan nama Kampung Tematik pun berbagai macam. Namun, Kampung Tematik yang sebenarnya pernah terjadi di Indonesia adalah di Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, yakni merupakan kampung buah pala yang sudah sangat terkenal dari masa ke masa. Sayangnya, ini terjadi pada masa penjajahan, setelah Belanda kali pertama menanam pohon pala di Sukabumi. 

Buah pala dari Kelurahan Loji sangat terkenal memiliki rendemen kimia alam tertinggi di dunia, mencapai 12-14 persen. Sedangkan, dari daerah asalnya di Pulau Ru, Kepulauan Ambon, buah pala ber-rendemen 8-9 persen. Buah pala ukuran terbesar di dunia berasal dari Pulau Papua, namun rendemen-nya hanya maksimal empat persen. Namun, sampai tahun 1980-an pohon pala di Loji, Kota Bogor, banyak ditebangi. Punah. Dibangun rumah.

Adalah Wiwik Puntorini pendiri CV Loji Laju Inovasi, selaku produsen Minuman Relaksasi yang pertama di dunia, merek PalaBoo® bersama Laznas Bank Syariah Mandiri bakal mengembalikan sejarah Kelurahan Loji menjadi kampung buah pala. Menjadi kampung tematik yang dinamai Arif Novantadi, mantan wartawan ekonomi-bisnis Jawa Pos,  dengan ‘’Kampung Pala’’ (sengaja ditulis dengan fond huruf Cooper Black, dan dimiringkan agar menjadi trade mark). 

Sehingga, ‘’Kampung Pala’’ ini merupakan kampung tematik berbasis buah pala (kembali) kali pertama di Indonesia. Dan, PalaBoo® bakal mengawali bahan bakunya dengan terlebih dahulu menanam pohon penghasil buah yang kelak diindustrikannya. Meski perlu waktu. Seiring pertumbuhan pohon palanya secara alamiah.

Kampung tematik merupakan salah satu inovasi pemerintah untuk mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk. Terutama pada peningkatan kualitas lingkungan rumah tinggal warga miskin dan prasarana dasar permukiman. Aktivitas itu melibatkan partisipasi aktif warga masyarakat setempat, sehingga mampu menjadi mata pencaharian pokok warga tersebut. Serta, melibatkan pihak terkait yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi untuk membangunnya agar berdaya guna tinggi. 

Mengapa buah pala?

Pada abad ke-7, buah pala mengalami masa jaya bersama Kerajaan Sriwijaya. Saat itu sering disebutkan ‘rempah-rempah’, namun ternyata didominasi buah pala. Komoditi ini semakin mendunia, terutama di kawasan Eropa. Ini sebabnya, Kerajaan Sriwijaya sangat harum namanya hingga kini karena dulu memiliki kekayaan setara dengan beberapa kerajaan di Eropa. Pada Revolusi Pala Pertama ini buah pala sebagai penyembuh dan penyehat tubuh manusia.

Pada abad ke-16, buah pala semakin menjelajah kisah sejarah berbagai bangsa di dunia. Diawali perdagangannya oleh para Saudagar Arab. Berbagai bangsa ikut terlibat. Sampai akhirnya Belanda memboyong bibit pala dari Pulau Ru, Kepulauan Ambon, ke Sukabumi, setelah kalah dari Portugis. Sampai membangun (kini) Istana Bogor untuk menjaga palanya, dengan kedok Rumah Peristirahatan Gubernur Jenderal-nya. Karena Revolusi Pala Kedua ini buah pala hingga kini dikonsumsi 33 negara se-dunia sebagai bahan baku utama obat.

Padahal, temuan format ramuan hasil inovasi teknologi PalaBoo® ini mampu mencetak hasil destilasi biji pala se-Bogor mencapai Rp 1,2 triliun/tahun. Itu dalam kondisi kapasitas produksi pala se-Bogor saat ini (2018). Angka sebesar itu kini masih di-angan-angan. Ini sebabnya, perlu dicetak Revolusi Pala Ketiga. Kita cetak Kampung Pala yang kelak bakal menjadi soko guru industri Minuman Relaksasi PalaBoo®. Insya Allah.

Syukur Alhamdulillah, Walikota Bogor DR. H. Bima Arya Sugiarto telah berkenan meresmikan Kampung Pala Senin, 12 Februari 2018. Dengan peresmian tersebut diharapkan pergerakan perdagangan buah pala kian marak dan makin menguat di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Uniknya, peresmian Kampung Pala ini merupakan kegiatan akhir Bima sebagai Walikota Bogor periode 2014-2019, untuk kemudian mencalonkan diri lagi untuk kepemimpinan berikutnya, 2019-2024. 

‘’Tanggal 15 Februari saya sudah cuti. Mau kampanye lagi,’’ kata Bima, saat ditemui penulis pada peresmian Kantor Kecamatan Bogor Barat, dua minggu sebelumnya. Ternyata, peresmian kampung tematik bertajuk Kampung Pala ini termasuk kegiatan terakhir Walikota Bima Arya karena malam harinya sudah mulai cuti sebagai walikota. Esoknya harinya mengikuti pemilihan nomor pencalonan untuk periode berikutnya di Komisi Pemilihan Umum.

Dan, sebenarnya pohon pala inilah yang merupakan ‘pohon emas’ yang bukan hanya istilah, namun benar-benar EMAS. Yakni, sebuah pohon yang mampu meng-emas-kan kondisi kesehatan tubuh manusia secara tuntas dan sempurna, juga meng-emas-kan kesejahteraan bangsa, seperti terjadi pada abad ke-7 yang diperankan Kerajaan Sriwijaya maupun pada abad ke-16 yang diawali para Saudagar Arab. 

Moga segera terlaksana Revolusi Pala ke-3. Betapa sangat makmurnya Warga Negara Indonesia. Bisa terlaksana secara sempurna, sudah pasti perlu peran ke-3, ke-4, ke-5, dan seterusnya, setelah PalaBoo® dan Laznas BSM. Allohuma aaamiiin. Ayo aktif dan pro-aktif bergabung. Berminat? Silakan berkomunikasi via arifnov.palaboo@gmail.com. Atau, whatapps: +62 8811.722.797. (*)

Pewarta :
Editor : Arif Novantadi
Sumber :

Komentar Anda