Fashion Daur Ulang di Ekowisata Pantai Mangrove Wanatirta

COWASJP.COMKOLABORASI Pentahelix dalam mengembangkan pariwisata Kulonprogo terlihat dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Minggu (18/2). Lima unsur Pentahelix berkolaborasi dalam kegiatan yang digelar di kawasan ekowisata mangrove Wanatirta, Jangkaran, Temon, Kulonprogo ini.

Kegiatan "Reresik Pantai" dan Sehari Pelatihan Daur Ulang ini digagas komunitas pegiat lingkungan Perkumpulan Yogyakarta Green and Clean (YGC). "Selain pelatihan, juga kami gelar fashion show mengenakan baju Daur Ulang. Fashion show-nya di kawasan wisata pantai Hutan Mangrove," jelas Ketua Panitia Peringatan HPSN 2018 Sariman Iman, Selasa (12/2).

Serangkaian acara ini melibatkan Akademisi, Bisnis, Community, Government (pemerintah) dan Media. Kalangan akademisi diwakili oleh sejumlah pendidik di Kulonprogo yang telah berkomitmen mengerahkan siswa-siswanya dalam kegiatan ini. "Ada yang menjadi peragawatinya, ada yang siap bersih-bersih sampah pantai dan sebagainya," jelas Sariman.

Dari kalangan bisnis, dukungan muncul dari PT Holcim, dari komunitas selain Perkumpulan YGC ada pula Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Kulonprogo, maupun petani Pasir Mendit dan Pramuka Saka Pariwisata Kulonprogo.

daur-ulang-1.jpg

Kegiatan ini juga mendapat support dari Kantor Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3E Jawa) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Serta dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulonprogo. "Dinas Pariwisata Kulonprogo juga sempat menghubungi, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut lagi," tandas Sariman yang juga Ketua JPSM Kota Jogja.

Kegiatan menyambut HPSN 2018 bertema "Sayangi Bumi Bersihkan dari Sampah" ini diawali dengan "Gropyokan Sampah" atau Reresik Kawasan Pantai. Hasil Gropyokan Sampah dipilah dan ada yang dibuat briket. 

Kemudian acara Fashion Show dengan menampilkan peragawati cilik asal Kota Jogja dan para pelajar anggota Saka Pariwisata Kulonprogo. Selesai acara fashion show dilanjutkan dengan aneka pelatihan daur ulang, klinik ecobrick, pembuatan kompos dan pembuatan Shibori.

daur-ualng2.jpg

Untuk semua jenis pelatihan ini, peserta sama sekali tidak dipungut beaya alias gratis. Peserta hanya mengganti biasa bahan praktik. "Misalnya praktik membuat bunga dari kresek. Maka peserta bisa mendapatkan bahan-bahannya seperti pot, oase, tangkai, putik, kelopak daun dari kresek setrika 2 buah dan kresek setrika untuk 1 bunga, hanya dengan mengganti Rp 5 ribu saja," urai Sariman.

Atau untuk pelatihan Shibori, mendapat kain mori setengah meteran dua potong, dan cairan pewarna dengan mengganti Rp 18.000 saja. "Peserta bisa membuat dua kain Shibori. Nantinya satu kain kita pakai untuk mempercantik kawasan Wanatirta, satunya bisa dibawa pulang peserta. Di atas kain Shibori ini ada keterangan tulisan siapa pembuatnya," tambah Ida Ariastuti, pelatih Shibori dari Perkumpulan YGC.

Komitmen Perkumpulan YGC menggelar peringatan HPSN di Pantai Pasir Mendit atau Ekowisata Mangrove Wanatirta adalah ikut menghidupkan destinasi wisata pelopor Wisata Mangrove ini. "Ini tempat wisata yang tidak hanya untuk sekadar plesiraan. Tapi ada unsur edukasinya. Apalagi, petani pengelola dan tokoh konservasinya mendapat penghargaan Kalpataru tingkat nasional tahun 2017," kata Ketua Perkumpulan YGC Istiadji Subekti.

daur-ulang3.jpg

Ternyata, tambah Istiadji, komitmen ini gayung bersambut. Dukungan datang dari JPSM Kulonprogo maupun tokoh konservasi Mangrove penerima Kalpataru, Saptono Tanjung. "Kami ingin peringatan HPSN tidak terjebak dalam seremoni saja. Tapi ada action yang berlanjut. Alhamdulillah, Pak Saptono Tanjung punya ide yang sama agar gerakan ini terus berlanjut setelah ini," tandas Istiadji.

Kegiatan Reresik Pantai tahun ini bukan kegiatan pertama Perkumpulan YGC di kawasan wisata. YGC juga pernah melakukan Reresik Kawasan Wisata Kaliurang, Sleman (Februari 2017) dan Reresik Kawasan Kotabaru, Jogja (Oktober, 2017). (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda