Kisah Lain tentang NZ

Surga Pariwisata yang Pancasilais

ILUSTRASI: Peternakan biri-biri di NZ. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COMPensiunan wartawan harian Jawa Pos Erwan Widyarto tertarik menulis pengalamannya saat tugas di Selandia Baru setelah membaca catatan Yulfarida Arini. Berikut di bawah ini tulisan wartawan senior yang tinggal di Yogyakarta tersebut.

***

SAYA dan Yulfa (Yulfarida Arini) sering menyebut diri sebagai "alumni New Zealand (NZ)." Hanya karena kami punya "nasib" yang sama pernah mendapat tugas liputan ke Negeri yang indah tersebut. Bedanya, Yulfa liputan tentang dunia pendidikan, saya liputan pariwisata. Yulfa tahun 1996, saya setahun kemudian, Juli 1997.

Menyimak perjalanan Bung Aqua dan Ananda Ero, serta tulisan Yulfa tentang NZ, saya pun ingin berbagi sedikit pengalaman saat 14 hari di Selandia Baru (NZ). Saya datang atas undangan NZ Tourism Board (Badan Promosi Pariwisata Selandia Baru). Menjelajahi North Island (pulau yang di Utara) hingga South Island (pulau di Selatan). NZ memang terdiri dari dua pulau besar Utara dan Selatan.

BACA JUGABelajar Ketulusan ke Negeri Kiwi​

Itinerary dan run down kegiatan selama di Negeri James Cook tersebut sudah disiapkan oleh NZTB. Pesawat dari Denpasar menuju Auckland menggunakan Air New Zealand. Tiket First Class. Layanan memuaskan selama dalam penerbangan dengan menu "kosher food" alias makanan halal.

Begitu mendarat di Auckland saya sudah ditunggu penjemput dari NZTB. Satu gepok voucher hotel, tiket pesawat untuk ke South Island, voucher makan di restoran-restoran top, tiket cruise, naik helikopter, dan sejumlah tiket masuk tempat wisata diserahkan ke saya. 

Lalu dengan Limousine, dari bandara kami diantar ke hotel. Sambutan yang luar biasa. Hangat dan penuh kekeluargaan. Penghormatan terhadap tamu yang sangat baik. Saya sangat merasakan bagaimana negeri ini sangat siap hidup dari "jasa melayani tamu" alias wisatawan.

Warganya Hangat dan Aman
Kehangatan warga masyarakat tidak dibuat-buat. Saya merasakan saat berhubungan dengan sopir taksi, petani, dan peternak biri-biri maupun tukang kunci mobil. Saya menyebutnya sikap mereka sangat Pancasilais kendati mereka tidak punya Pancasila.

Sopir taksi tak memalak penumpang dengan argo kudanya. Mengantar penumpang "secepatnya." Artinya selalu mencari jalur tercepat dan tidak "muter-muter" dulu. Bahkan, saya bisa "numpang dulu bayarnya kemudian." Gara-gara tidak ada uang receh untuk ongkos, sopir itu mau dibayar beberapa jam kemudian usai saya "mendapatkan" uang kecil. Sopir menemui saya lagi di tempat saya turun. 

Kehangatan warga saya rasakan karena saya semalam menginap di rumah petani peternak biri-biri (Farmstay). Sepasang kakek nenek dengan 150 ribu biri-biri. Konsep Farmstay ini mirip dengan yang kini dikembangkan Kemenpar di bawah kendali Arief Yahya: homestay Desa Wisata.

erwan.jpg

Penulis, Erwan Widyarto (tengah) bersama Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti (kiri) Sultan Hamengku Buwono X (kanan).

Saya tinggal dan mengikuti aktivitas sang kakek di Desa Scottsdale. Datang siang menjelang sore, ngobrol tentang keseharian dan keluarga mereka. Anak mereka tiga. Satu di ibukota, Auckland, yang lainnya di Australia. 

Si nenek ngobrol sambil merajut. Membuat sepatu bayi dan baju hangat. "Untuk cucu saya," kata nenek saat saya tanya. 

Si kakek terus bercerita seputar peternakan biri-biri dan olahraga kesukaannya. Bola? Bukan. Sama sekali tak paham bola. Kakek berusia 63 tahunan itu menyukai kriket. Olahraga kesukaan di Selandia Baru dan Australia. 

Pagi harinya, saya pun diajak bermain kriket di samping rumah sebelum kemudian "bermain dengan biri-biri" yang jumlahnya ratusan ribu. "Sampai pohon yang di sebelah sana itu. Dan yang sebelah sana," ujar kakek menjawab pertanyaan saya mengenai batas "ranch" miliknya.

Tanah yang sangat luas mengingat pohon yang ditunjuk itu berada sangat jauh. Itu artinya, jarak rumah tetangga pun sejauh itu. "Kalau ngobrol kami pakai telepon rumah," jawab si nenek soal cara sosialisasi dengan tetangga.

Amankah rumah dengan jarak yang berjauhan dan ternak yang begitu banyak? "Kalau saya tinggal ke ibukota (Auckland) rumah tidak pernah saya kunci," kata kakek. Sudah sangat cukup menggambarkan soal keamanan barang hak milik.

Sangat Pancasilais bukan?

Bayar dengan Lukisan Sket
Belum lagi saat "bermain biri-biri" bersama kakek. Memindah dari satu "kotak kandang" ke kotak yang lain. Baju saya kotor terkena lumpur, tentu bercampur kotoran hewan. Harus dilaundry karena tak mungkin saya bawa baju kotor dan najis.

Celaka, saya tidak punya cadangan anggaran untuk beaya laundry. Saya nego. Saya bayar dengan lukisan sket saya yang saya buat saat di Christchurch. Deal. Ternyata mereka mau dan sketsa saya langsung dipasang di kamar tempat saya menginap. Sebuah penghormatan yang luar biasa. Kendati saya wisatawan dalam paket Farmstay, mereka menganggap sebagai keluarga sendiri. Bukan sebagai orang lain, orang asing (the other).

Hal yang sangat Pancasilais juga saya rasakan saat menjelang pulang ke Bandara di hari terakhir. Waktu masih pagi. Sekira pukul 06.00. Saya sudah harus menuju bandara untuk penerbangan pagi ke Denpasar. 

Celaka! Mobil yang mau dipakai untuk mengantar saya ke Bandara, kuncinya tertinggal di dalam, sedangkan pintu mobil terkunci dari luar. Saya panik. Takut ketinggalan pesawat. Beruntung sopir yang mau mengantar saya cukup tenang. Ia coba dengan berbagai cara untuk membuka pintu. Tetap tidak bisa. Waktu terus berjalan. 

Sopir pun mencari tukang kunci. Tapi sepagi itu belum ada yang buka. Dia telepon ke sana ke mari. Akhirnya satu tukang kunci berhasil dihubungi. Dia datang dengan membawa truk semacam mobil derek. Tapi ada tulisan "Ahli Kunci". Di kemudian saya benar2 sepakat menyebut dia bukan tukang tapi ahli. 

Dengan peralatan semacam lempengan magnet, ia pun beraksi. Dan jrettttt..... Pintu mobil pun bisa dibuka. Profesional sekali. Pasti mahal nih ongkosnya. Apalagi di waktu yang sangat darurat. Pada orang yang sengat kepepet. Turis lagi.

Ternyata, semua di luar dugaan saya. Dia tidak mau dibayar. "Kamu adalah turis. Kami wajib melayani tamu yang datang ke negeri kami. Have a nice day! See you again!" Begitu ucapnya saat saya mau kasih ongkos. Luar biasa!!!

Saya pun mengucapkan banyak terima kasih. Karenanya, mobil pengantar ke bandara bisa mengejar waktu. Semua sesuai jadwal. Dan saya pun meninggalkan Selandia Baru dengan sejuta kenangan. 

Silaturahimnya Begitu Luar Biasa
Kejadian-kejadian 20 tahun lalu itu, sepertinya baru kemarin terjadi. Masih jelas dalam ingatan saya. Kebaikan-kebaikan yang terpancar dari orang-orang di Selandia Baru itu tak pernah hilang. Menjadi energi positif yang terus berkembang. 

Saya menjadi ingat yang pernah disampaikan Bung Aqua. "Kebaikan itu membuat orang yang menerimanya tersenyum bahagia. Bahkan saat 20 tahun, atau lebih, ketika orang tersebut mengingatnya lagi."

Sayangnya, saya bukan Bung Aqua yang silaturahimnya begitu luar biasa. Nama-nama si kakek dan nenek, si tukang kunci, sopir taksi yang dulu saya hafal, kini lupa. Kartu nama Keluarga Kakek di Scottsdale pun hilang entah ke mana. Sehingga nomor kontak yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi, tak ada lagi. 

Maka, saat Bung Aqua Dwipayana dan Ananda Ero ke Selandia Baru bisa silaturahim ke berbagai pihak, saya hanya bisa berdoa semoga kebaikan2 yang saya terima di Selandia Baru menjadi amal bagi pelakunya. Karena saya tidak bisa nitip pesan ke orang2 yang dulu menemui saya. 

Kini, dengan ilmu silaturahim dari Bung Aqua, menjaga kontak dan hubungan dengan kawan-kawan lama ataupun orang yang baru ketemu, sangatlah penting. Semboyan "always connecting" menjadi kunci.

Pelajaran lain dari "Negeri Deretan Kartu Pos" --saking indahnya pemandangan di sana sehingga setiap jepretan kamera spt kartu pos-- itu adalah:  Kita punya Pancasila, tapi seringkali tidak Pancasilais hehehe *

>>>Dari Jakarta menjelang silaturahim ke teman2, saya ucapkan selamat belajar dari semua pengalaman yg dialami. Salam hormat buat keluarga ya. 07.30 02 02 2018

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda