Seni Rupa Alternatif Pendidikan Berkarakter

Pengaktualan Kesenian Rakyat: Wayang Tobos

COWASJP.COMMENENGOK dari belakang wayang tobos sering dimainkan oleh sekelompok pengamen jalanan dengan iringan gamelan apa adanya. Mereka ngamen keliling ke tempat-tempat atau desa-desa di kota Bojonegoro, Jawa Timur (tahun 60-an sampai 70-an).

Dengan ngamen wayang tobos mereka selalu membawakan lakon (cerita) tentang kejadian hangat-hangatnya pada saat itu, seperti antri beli minyak tanah, beras, tentang begal ( maling ), walak-waliknya zaman dan sebagainya. Juga mengandung nasehat, pasemon (sindiran), kritik dan sebagainya, serta menyebarkan nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap kehidupan manusia. Dengan hal tersebut tidak jarang pula wayang tobos jadi hiburan di hari khitanan, pernikahan, dan hajatan lainnya.

BACA JUGA: Penggerak dan Penggagas Kelompok Seni Rupa Bermain

Permainan wayang tobos bermacam-macam. Ada yang dimainkan dengan satu dalang dan ada pula yang lebih. Dalam permainan wayang tersebut sangat membutuhkan respon dari penonton dan keterlibatan yang punya hajat, sama-sama memainkan wayang lebih menarik atau hidup dalam membawakan cerita atau lakon. Niscaya terjadi respon yang penuh improvisasi, jadi lebih menarik dan menyentuh penonton.

saeful.jpg

Figur wayang tobos berbentuk manusia dengan berbagai karakter, seperti orang jahat, tamak, kalem, pengecut, penjilat, arif bijaksana, pemarah, penyabar dan seterusnya. Sedang istilah wayang tobos dari masyarakat Bojonegoro sendiri, artinya kardus, mengambil nama dari jenis bahan wayang tersebut, digambar dengan cat minyak dan dilapisi pernis. 

Jadinya wayang tobos, bentuknya pipih seperti wayang kulit. Lebih jauh wayang tobos tak ubahnya seperti wayang krucil atau suluh, yang biasa dipakai pemerintah untuk penyuluhan progam pada masyarakat dan dapat pula dijadikan alat propaganda oleh siapa pun.

Permainan wayang tobos, hidup tidaknya tidak hanya tergantung pada kemampuan dalang memainkan wayang, juga membutuhkan pengetahuan yang luas atau banyak, disertai pengalaman atau daya serap yang kuat menangkap realitas (peristiwa) yang sedang diangkat atau sedang hangat-hangatnya pada saat itu. Tidak lupa pula termasuk kemampuan improvisasi membuat daya tarik pada siapa pun ingin terlibat dengan tontonan tersebut. Tentunya  membikin lebih menarik terhadap kisah yang diangkat dalam aksi tersebut.

Dalam perkembangan zaman, wayang tobos mengalami kepunahan, karena dianggap tidak menarik lagi atau sudah tidak dibutuhkan oleh masyarakat di tengah-tengah perkembangan ekonomi yang menggembirakan di bawah pemerintahan orde baru (orba) di tahun 80-an sampai 90-an.

Dengan perkembangan ekonomi tersebut wayang tobos semakin tidak dikenal atau hilang dari ingatan masyarakat, bisa juga dianggap membosankan, lantas mencari hiburan yang baru tentunya yang lebih menarik dari wayang tobos.

saeful1.jpg

Di pengujung abad 20 Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) Kalitidu, Bojonegoro, menggerakan anak-anak membuat serta memainkan wayang tobos. Mereka memperlakukan wayang tobos tak jauh beda dengan pendahulunya, yaitu sering membawakan cerita yang terjadi di lingkungannya, seperti kegemaran masyarakat berjudi sampai menelantarkan kebutuhan anak-anaknya sekolah, penebangan liar di hutan, penambangan pasir di Kali Bengawan dan sebagainya.

Melalui gerakan tersebut secara langsung maupun tidak langsung pada anak-anak memberi pengalaman pandai bercerita tentang berbagai watak manusia, menajamkan kecerdasan dan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Niscaya dengan demikian terjadi proses pematangan sebagai manusia yang memiliki kepribadian dan mandiri.

Dengan aksi yang mereka lakukan, pada awalnya banyak masyarakat sekitar kurang suka, karena banyak di antara mereka merasa tersindir. Sehingga apa yang dilakukan anak-anak bagi mereka dianggap tidak benar dan tidak sopan.

Meskipun demikian anak-anak tetap melakukan kegiatan tersebut, membuat tontonan terus menerus dari desa ke desa di kotanya dan beberapa kali di luar kota. Sampai pada akhirnya gerakan mereka menuai banyak simpati dan semakin banyak pula anak-anak yang ikut.

Lebih kongkrit gerakan mereka mendapat respon dari berbagai kalangan masyarakat, sering mendapat undangan untuk hajatan, juga pernah mendapat undangan dari Biennale Yogya 2005 dengan karya seni rupa instalasi dan performance "sekolah modal omplong" dan karya seni rupa instalasi "tembok maut" Biennale Yogya 2007.

Namun sayang pada undangan Biennale Yogya 2007, anak-anak KSRB yang merencanakan performance berintegrasi dengan seni rupa instalasi "tembok maut" karya Saiful Hadjar gagal. Akhirnya dimainkan oleh Saiful Hadjar sendiri sebagai pembina mereka. 

saeful3.jpg

Anak-anak gagal performance di Biennale tersebut,  karena pada saat itu hujan deras sampai menenggelamkan rumah mereka, sehingga orang tuanya merasa keberatan anak-anaknya diajak berpergian jauh.

Aksi wayang tobos KSRB tak ubahnya mirip seperti yang dilakukan Soeharman (Mance), seorang dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Bengkel Muda Surabaya (BMS) dengan nama "wayang kampung" di Surabaya.

Tak lama kemudian oleh Soeharman dibawa ke Solo, meneruskan aksi wayangnya (terbuat dari kulit) bersama rekan-rekannya di kota tersebut. Sampai dari nama "wayang kampung" diambil alih oleh teman-temannya berubah menjadi nama "wayang kampung sebelah."

Kembali ke wayang tobos KSRB Kalitidu, Bojonegoro, sangat menarik bila masih bersikukuh pada niat awal, sebagai gerakan kebudayaan. Apa yang mereka lakukan bisa dikatakan terobosan, lebih tepat disebut pengaktualan kesenian rakyat sebagai gerakan kebudayaan, tentunya menghadapi persoalan kehidupan di lingkungannya.

Di tengah-tengah munculnya kapitalis rakus konspirasi dengan penguasa mengabaikan impian atau keinginan rakyat kecil. Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu arogansi kekuasaan yang membahayakan kedaulatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bertolak dari niatan awal membuat wayang tobos sebagai  gerakan kebudayaan, niscaya konsekuensinya bermuara pada pemberian penyadaran, pencerahan dan pendidikan, tidak lain merupakan sebuah proses pematangan memanusiakan manusia mandiri  dan berkepribadian.

Yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap tatanan kehidupan alam semesta menyangkut segala isinya, tidak lepas menjaga tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dari segala bentuk upaya penghancuran nilai-nilai kemanusiaan, lingkungan dan segala isi alam semesta. 

Dengan demikian aksi wayang tobos tidak hanya dilakukan di ruang tertutup (terbatas), juga bisa dilakukan di ruang terbuka. Selain itu sangat mungkin digunakan jadi parlemen jalanan. Jelasnya wayang tobos KSRB jangan sampai terjebak sebagai kebutuhan seremonial, tak beda sebagai hiburan semata untuk pelengkap perayaan yang hura-hura. (*) 

Penulis adalah Saiful Hadjar, penggagas dan penggerak KSRB, tinggal di Surabaya.

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda