Seni Rupa Alternatif Pendidikan Berkarakter

Penggerak dan Penggagas Kelompok Seni Rupa Bermain

Foto-foto: istimewa

COWASJP.COMSENI rupa menjadi materi pendidikan berkarakter harus dipahami secara longgar, memberi peluang selebar-lebarnya untuk dimasuki kesenian lain (satra, musik, tari, teater) dan berbagai disiplin ilmu lainya. Aksi seni rupa menjadi gerakan kebudayaan bersifat integral,  memiliki fungsi 

keberkaitan dengan segala aspek kehidupan. Tentunya seni rupa tersebut siap bekerja sama dengan siapa pun.

BACA JUGAPengaktualan Kesenian Rakyat: Wayang Tobos

Seperti halnya aksi kebudayaan "seni rupa alternatif" di sepanjang Jalan Tunjungan-Surabaya, tepatnya dekat Hotel Majapahit (dulu: Orange), 19 September 2013 lalu, di siang bolong. Aksi tersebut bertajuk "in memoriam gema pahlawan." Sebuah gagasan yang berangkat dari rasa keprihatinan terhadap semakin redupnya jiwa kepahlawanan bangsa di tengah kondisi negeri memprihatinkan. Sebuah bangsa semakin tipis kepeduliannya terhadap segala persoalan kehidupan yang melanda negerinya.

suryadi1.jpg

Aksi ini dilakukan oleh mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, murid SMP Negeri 52 Surabaya, arek-arek kampung sekitar, LSM, Polisi, pihak Hotel Majapahit dan sebagainya.

Bentuknya membeber grafis digital printing (banner) berukuran 3 x 120 meter, karya Saiful Hadjar disertai drama kolosal, sutradara Zainuri dan dibantu Dodyk Supriyadi, mendapat perhatian masyarakat tanpa mengganggu kelancaran lalu lintas.

suryadi2.jpg

Lebih jelas lagi aksi mereka tidak lain mengingatkan insiden penyobekan bendera kolonial (merah putih biru) di Hotel Orange, memiliki nilai sejarah. Peristiwa 19 September 1945 itu cikal bakal gerakan pemuda di negeri ini yang tidak hanya memberi pengalaman pada pelakunya, juga memberi pencerahan dan perenungan pada penikmatnya, tentang jiwa-jiwa kepahlawanan, berkeringat, berairmata, dan berdarah-darah tanpa menghitung harta dan nyawanya untuk merebut kemerdekaan.

Dengan aksi tersebut tidak lain bukan hanya memberikan pendidikan berkarakter pada mahasiswa, murid, dan semua yang terlibat secara aktif maupun pasif, juga memberikan fungsi sebagai laboratorium realitas kehidupan untuk membangkitkan jiwa-jiwa kepahlawanan yang dibutuhkan negerinya. Menjadikan bangsa yang merdeka, tidak memiliki rasa takut dan kergantungan pada negara lain, sebuah estetika adalah etika manusia masa depan. (*)

Penulis adalah Saiful Hadjar, Seniman Surabaya

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda