Dilantik, Kepala Sekolah Ma'arif se-DIY Langsung Diminta Berjihad

Sekretaris PW Ma'arif DIY, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum. saat menyampaikan pesannya di hadapan kepala sekolah yang baru dilantik. (Foto: CoWasJP) Sekretaris PW Ma'arif DIY, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum. saat menyampaikan pesannya di hadapan kepala sekolah yang baru dilantik. (Foto: CoWasJP)

PARA kepala sekolah di lingkungan Sekolah Maarif diminta untuk mengomandoi jihad di sekolahnya. Alasannya, saat ini, telah terjadi perang stigma, perang ideologi, perang kualitas, hingga perang media sehingga kepala sekolah harus siap menghadapinya.

"Stigma terhadap sekolah-sekolah Ma’arif NU harus dipatahkan. NU harus dicitrakan sebagai sekolah yang memandaikan, mengayakan, dan bersih-rapi," tegas Sekretaris PW Ma'arif DIY, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum.

Perempuan yang akrab disapa  Itadz ini mengungkapkan permasalahan yang terjaring melalui angket dan observasi yang dilakukannya. Dan hasil angket tersebut perlu mendapat perhatian serius dari kepala sekolah yang baru dilantik. Permasalahan menyangkut 8 komponen utama dan dibentangkan analisisnya di hadapan para hadirin.

Terkait ideologi, lanjut Itadz, seluruh komponen NU (di bawah komando Kepala Sekolah) harus menginternalisasi ideologi Aswaja, yakni tawassuth (jalan tengah), tawazun (seimbang-selaras), tasamuh (toleran), dan i'tidal (tegak lurus).

Terkait perang kualitas, Doktor  Linguistik lulusan UGM ini, Kepala sekolah wajib memiliki kompetensi agar mampu membuat program, eksekusi, promosi, dan sumber-sumber yang memadai. Kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari peran Humas Sekolah yang tangguh, literat, cerdas, dan loyal terhadap Ma’arif. "Humas memegang peran penting bagi keberhasilan program sekolah," tandasnya.

Sekolah-Maarif-se-DIY..jpg

Seluruh sekolah di LP Ma’arif wajib mengomandoi 4 tujuan LP Ma’arif, yakni trust (kepercayaan), solidaritas, kualitas, dan produktivitas.  “Perjuangan harus dilakukan, perang harus dimenangkan,” tegasnya.

Itadz menyampaikan hal tersebut saat PW LP Ma'arif DIY melantik 25 Kepala Sekolah, Senin. Pelantikan langsung dilakukan oleh Ketua PW LP Ma'arif DIY, Prof. Dr. H. Sugiyono, M.Pd. Dari 25 SK yang diserahkan, 2 di antaranya nama baru, yaitu Arif Wihardi, S.Pd. yang menjabat sebagai Kepala SMA Pembangunan 3 Ponjong menggantiknan Setyo Budisantoso, S.E. dan Sunarno, S.Pd. yang menjabat Kepala SMA Ma'arif Yogyakarta menggantikan Drs.Sunyoto.

Pelantikan dilakukan di Aula Kanwil Kemenag DIY Lantai 3, didahului dengam pembacaan “Pakta Integritas Kepala Sekolah”.  Pelantikan disaksikan Kabag TU Kanwil Kemenag DIY, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, para pengurus PW LP Ma'arif DI Yogyakarta, pengurus PC LP Ma’arif, serta seluruh kepala sekolah atau madrasah SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA. SMK, dan SLB di lingkungan LP Ma’arif.

Menurut Sugiyono, pelantikan ini dimaksudkan memberi apresiasi kepada para pejabat lama yang pada periode sebelumnya berkinerja baik sekaligus dalam rangka memberi peluang kepada guru-guru muda yang enerjik dan progresif untuk menjadi kepala SMA/MA/SMK baru.

"Saat ini, kita fokus pada tiga hal utama, yakni  peningkatan jumlah siswa, peningkatan akreditasi, dan jumlah penyerapan lulusan," tandas Profesor dengan predikat penulis best seller buku-buku riset ini.

Diminta-Berjihad-pendidikan.erwan.jpg

Terkait penyerahan SK tersebut, Pengurus Wilayah NU DIY, Dr. H. Arif Rohman menyambut positif. Menurutnya, kepemimpinan dan manajerial kepala sekolah menempati peran yang sangat penting.

“Kami berpesan kepada para kepala SMA/MA/SMK yang baru dilantik untuk dapat memacu perubahan-perubahan dramatis di sekolah masing-masing. Semua kepala sekolah/madrasah harus mempunyai tradisi 4 K, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas,” jelas Arif.

Pada acara yang berlangsung pukul 08.00-15.00 WIB itu,  hadir juga Rahmat Raharja, M.Pd.I. untuk melakukan presentasi. Kepala SMK Ma’arif 1 Wates yang meraih Kitto Awward sebagai Kepala Sekolah Terhebat Nasional tahun 2017 itu menjelaskan bagaimana “Strategi Membesarkan Sekolah”. 

SMK Ma’arif 1 Wates pada mulanya adalah sekolah miskin, dijejal hutang, dan terseok-seok. “Periode I dan II saya menjabat, kami berjuang melunasi hutang, sewa rumah untuk sekolah, bahkan mengikhlaskan motor butut saya untuk praktik”, tandasnya. 

Acara Serah Terima Jabatan dan Sanctioning Kepala Sekolah itu ditutup oleh presentasi Drs. Mustangid, M.Pd. Kepala Sekolah senior ini menjelaskan bagaimana agar kepala sekolah pandai mencari bantuan, meraih dana, dan tidak melulu bergelut dengan keterbatasan keuangan.  “Kalau kita ubed (gigih), bantuan akan banyak kita raih,” tandasnya. (*)

Avatar
Jon Sukma1457 posts

REDAKSI COWAS JP

Berita Terkait
Komentar