Membantu Tidak Harus Kaya Dulu

Aqua Dwipayana (kanan) saat bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah (Jateng) Hamid Ponco Wibowo (kiri). (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COMBANYAK yang mengatakan, untuk bisa memberi harus kaya dulu, minimal kebutuhan sendiri sudah terpenuhi. Memang benar, hanya yang berkelebihan yang bisa memberi. Bukan semata-mata kelebihan materi, tapi yang penting ‘’kelebihan’’ dan keluasan jiwa. Tanpa harus menunggu kaya tapi tetap bisa memberi. Dengan segala kesederhanaan yang dimiliki tetap bisa membantu orang lain.

Saya punya pengalaman dengan seorang teman bernama Aqua Dwipayana. Kebetulan kami sama-sama wartawan Jawa Pos, saya di Semarang, Aqua di Malang. Suatu saat saya harus pergi ke Malang untuk menghadiri wisuda adik saya di sebuah perguruan tinggi di Malang.

Sebagai karyawan Jawa Pos, saya mampir di kantor biro yang ada di Jalan Arjuno. Di kantor itu saya bertemu dengan Aqua untuk kali pertama, meskipun saya sudah mengenal dia melalui beberapa tulisannya. Di kalangan wartawan merupakan hal yang biasa, sudah saling mengenal tulisannya tapi belum bertemu langsung.

Kesan pertama saya, Aqua sangat ramah dan hormat kepada yang lebih tua. Dalam waktu singkat kami langsung akrab dengan aneka pembicaraan, kebanyakan soal pekerjaan. Ketika saya mengatakan akan menghadiri wisuda adik saya, dengan spontan dia menawarkan diri untuk mengantar saya. Tentu saja saya gembira mendapat tawaran itu. Kami berboncengan motor bebek butut miliknya menuju kampus.

Bahkan dia mengatakan, ‘’Ke mana saja Cak Nun pergi saya siap mengantar,’’ katanya. Oh, baik sekali orang ini, Ketika banyak orang yang mementingkan diri sendiri, dia justru menyediakan diri membantu orang lain dengan apa yang dimiliki.

Sampai sekarang saya tidak bisa melupakan diantar Aqua naik motor bebek bututnya ke berbagai lokasi di Malang. Ternyata untuk membantu orang tidak harus mampu dan kaya. Aqua memberi contoh kongkret. Ini bukan soal materi, tapi soal keluasan jiwa yang siap membantu siapa saja.

aqua-dan-husnun.jpg

Aqua Dwipayana (kanan) saat menghadiri undangan Dhimam Abror di Jakarta.

Kini dengan kondisi yang jauh berbeda, Aqua sudah menjadi motivator yang hebat dengan undangan berbicara dari seluruh Indonesia. Dia sudah tidak tinggal lagi di rumah kos yang pengap, tidak lagi naik motor bebek butut, tapi sudah menjadi Aqua yang hebat dengan penghasilan yang tinggi.

Apakah Aqua berubah ? Ternyata tidak. Dia masih tetap dengan kebiasaannya membantu orang lain. Sebagai motivator dengan tarif puluhan juta per jam, dia masih tetap seperti dulu, hangat dan akrab, tidak membedakan teman.

Padahal, pergaulannya di level tinggi, mulai dari pejabat TNI dan Polri, para pengusaha dan petinggi BUMN. Harta yang melimpah tidak menjadikan dia congkak, karena keluasan jiwanya. Justru dengan segala kelebihan yang dimiliki, dia semakin leluasa untuk membantu orang lain. Setiap tahun dia memberangkatkan umrah puluhan orang dengan biaya pribadi. Anehnya, diantara yang berangkat umrah itu orang yang baru dikenalnya. 

Rumahnya di Yogyakarta menjadi jujugan banyak temannya yang mau liburan di kota tersebut. Bukan hanya rumah sebagai tempat menginap, mobil dan sopir siap mengantar berwisata ke mana saja. Jadi, sebenarnya tak ada alasan untuk menunda membantu orang lain.

Berbagi kepada orang lain tidak harus menunggu kaya. Tak ada harta bisa membantu tenaga atau pemikiran. Aqua sudah memberikan contoh bagaimana membantu orang lain dalam keadaan terbatas dan tidak terbatas. Membantu orang lain tidak akan membuat miskin, justru sebaliknya, akan semakin kaya. Aqua buktinya. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda