Tafakur Ramadhan (26)

Searching Gelombang Malakiah dan Ilahiah

ILUSTRASI: Foto Istimewa

COWASJP.COMALHAMDULILLAH, kita syukuri seluruh rangkaian perjalanan ibadah Ramadan sampai hari ke-26 ini. Karena sesungguhnya Allah bakal melimpahkan karunia dan rahmat-Nya lebih banyak lagi kepada hamba-hamba yang pandai bersyukur. Semoga kesyukuran kita semakin mendekatkan kita kepada Sang Maha Pemurah, memperoleh Ridha-Nya.

Hari-hari ini para shaimin – pelaku puasa – sedang terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang semakin khusyuk beribadah menjelang akhir Ramadan. Kualitas puasanya, shalatnya, dzikirnya, tadarus Al Qur’annya, dan kedermawanannya, semakin ditingkatkan. Tapi, ada pula yang mulai tergoda oleh berbagai persiapan menjelang lebaran. Dan kemudian ‘kekhusyukannya’ beralih kepada kue-kue lebaran, baju baru, mobil baru, dan segala pernak-pernik kegiatan mudik. Atau, ada juga kelompok yang ‘biasa-biasa’ saja menyikapi akhir-akhir Ramadan.

Rasulullah berpesan, agar hari-hari di akhir Ramadan diisi dengan kegiatan yang membuat kita semakin khusyuk beribadah kepada-Nya. Inilah saat-saat krusial dimana ‘gelombang jiwa’ kita sedang berada dalam keadaan optimal untuk disambungkan dengan ‘gelombang ilahiah’. Proses berpuasa selama sebulan ini diharapkan telah berdampak signifikan dalam membersihkan diri kita lahir batin.

Secara lahiriah, puasa selama hampir sebulan ini telah menyebabkan triliunan sel tubuh dan otak kita mengalami 'tuning up' secara 'autophagy' menjadi jauh lebih sehat. Dan secara batiniah, proses latihan mengendalikan diri lewat puasa, ditambah shalat, dzikir dan tadarus Al Qur’an telah membuat jiwa kita menjadi lebih jernih untuk berinteraksi dengan Allah secara lebih intensif.

Inilah hari-hari dimana umat Islam sedang ‘memantaskan diri’ untuk bertemu Jibril dan para malaikat yang mengiringinya atas izinTuhannya. Tidak secara fisikal memang, melainkan dalam interaksi gelombang jiwa yang bertabur hikmah. Sebagai petunjuk dari Sang Maha Pemurah untuk hamba-hamba yang berserah diri hanya kepada-Nya. Di malam Al Qadr yang sangat mulia. 

Kapan itu terjadi? Entahlah. Kepada siapa bakal terjadi? Entahlah. Hanya Dia yang mengetahui siapa saja yang pantas menerimanya, dan kapan bakal dikaruniakan. Tugas kita hanyalah 'memantaskan diri' untuk menerimanya. Menyamakan frekuensi jiwa dengan frekuensi ilahiah. Ibarat, kita sedang mencari gelombang pemancar stasiun radio dengan cara memutar knop gelombang di pesawat radio kita masing-masing.

Karena, sesungguhnya, sederhana saja mekanisme terjadinya perpindahan informasi itu. Asal frekuensi gelombangnya sama, bakal terjadi resonansi. Yakni, berpindahnya energi getaran dari satu benda ke benda lain yang memiliki frekuensi sama. Persis seperti yang terjadi antara stasiun pemancar dengan pesawat radio kita.

Bayangkanlah ketika kita mau mendengarkan lagu-lagu atau berita dari sebuah stasiun radio. Apa yang kita lakukan? Cukup mencari gelombang stasiun pemancar itu. Katakanlah, di frekuensi 100 FM. Maka, jika frekuensi pesawat radio kita masih berada di frekuensi 90, 91, 92 … 99, radio kita belum bisa tersambung dengan informasi dari stasiun pemancarnya. Tetapi, begitu pesawat radio kita sudah berada di frekuensi 100 FM, semua program siaran dari stasiun pemancar itu akan keluar di radio kita. Seluruhnya..!

Jadi, sedemikian sederhananya. Jika ‘gelombang jiwa’ kita bisa mencapai frekuensi tertentu dimana getarannya 'matching' dengan gelombang ilahiah atau minimal ‘gelombang malakiah’, kita akan bisa menerima berbagai informasi penuh hikmah itu. Itulah yang terjadi di akhir-akhir Ramadan ini pada orang-orang yang berhasil ‘memantaskan diri’ mencapai frekuensi suci. Menerima taburan hikmah di malam Al Qadr yang sangat istimewa.

Maka, PERTANYAAN yang mesti Anda jawab kali ini adalah:
1. Dimanakah Allah berfirman bahwa orang-orang yang beriman itu, ketika berinteraksi dengan Allah, hatinya bakal bergetar-getar?

2. Menurut Anda, apakah yang bakal terjadi pada orang-orang yang berhasil memperoleh petunjuk Allah di bulan Ramadan ini?

Selanjutnya, PEMENANG edisi ke-25, berdasar pada jawaban yang masuk di facebook dan Agus Mustofa eLibrary adalah: Abuya Abuya 

1. Dimanakah Allah menginformasikan bahwa hanya orang-orang yang mensucikan diri saja yang bisa ‘menyentuh’ Al Qur’an sebagai sumber hikmah?

Jawaban: Terdapat di QS. AL-WAQIAH AYAT 97 ~ “Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.”

2. Lantas, apa kaitannya kita diperintahkan ‘berpuasa’ dengan turunnya ‘hikmah Al Qur’an’ di akhir-akhir Ramadan ini?

Jawaban: Ada korelasi yg sangat erat antara orang-orang yg berpuasa dengan Lailatul Qadar, dimana orang-orang yg betul-betul melaksanakan puasa dengan baik, berkualitas yg berefek kesucian jiwa (ruh) dan raganya, akan bertemu ruh-ruh (para malaikat) dan Jibril, pembawa hikmah.

Selamat, Anda memeroleh hadiah buku Tasawuf Modern berjudul: "MENGARUNGI ‘ARSY ALLAH". Silakan hubungi 0878 5433 5454 untuk alamat pengiriman hadiahnya. Salam.

ADA CUPLIKAN VIDEO & HADIAH BUKU SETIAP HARI

http://agusmustofa.com/

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda