Bermimpi Membangun Kampung Majapahit

Penulis (kanan) bersama isteri tercintanya. (Foto:Cowasjp.com)

COWASJP.COM – ockquote>

O l e h: SUKARDI

--------------------------

SEBANYAK 137 unit  rumah Majapahit rencananya akan dibangun di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pembangunan rumah dengan prototipe kuno itu bertujuan untuk mewujudkan  Kampung Majapahit

Tidak tanggung-tanggung untuk merealisasikan pembangunan Kampung Majapahit itu menelan anggaran Rp.7,4 miliar. Pembangunan  137 rumah kuno itu memang tidak berada pada satu lokasi, melainkan tersebar di 3 desa kawasan cagar budaya ini. Anggaran pembangunan Kampung Majapahit itu disiapkan melalui APBD Pemkab Mojokerto dan Pemprov Jatim tahun 2014.

Pembangunan Kampung Majapahit salah satunya berlangsung di Desa Bejijong. Menurut Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) pembangunan Kampung Majapahit Desa Bejijong, Samsul Arifin, di kampung yang terkenal dengan sentra pengrajin patung cor kuningan ini terdapat 94 rumah yang terasnya bakal dipugar menjadi rumah Majapahit.

Puluhan rumah itu terletak di sepanjang jalan utama desa yang menghubungkan By Pass Mojokerto dengan Candi Brahu. Jalan ini menjadi akses ke beberapa obyek wisata sejarah lainnya. Seperti Makam Siti Inggil, Maha Vihara Majapahit dan Candi Genton.

Pembangunan rumah Majapahit ini dikerjakan secara swakelola oleh desa melalui TPK masing-masing. Untuk membangun 94 rumah Majapahit, pihaknya mengaku telah menerima kucuran dana dari pemerintah senilai Rp 4,982 miliar.

Plafon anggaran setiap rumah Majapahit bervariasi menyesuaikan dengan ukurannya. Di Desa Bejijong rumah ini dibangun dengan ukuran antara 3 x 3,5 - 3 x 6,2 meter. Rata-rata setiap rumah dijatah Rp 50 juta. Sejak mulai dibangun November lalu, baru 1 rumah yang selesai dipugar.

"Pembangunan 94 rumah ini ditargetkan selesai akhir tahun 2015. Proses pengerjaannya membutuhkan waktu lama karena harus benar-benar sesuai desain yang ditetapkan bersama dengan pemerintah. Setidaknya setiap rumah butuh waktu pengerjaan 1 bulan lebih," paparnya.

Rumah Majapahit ini dibangun menggantikan teras rumah warga agar terlihat seragam dan menyerupai perkampungan pada zaman Majapahit. Desainnya rumah tergolong unik. Temboknya tersusun dari bata merah sehingga terlihat natural. Pondasi rumah tersusun dari batu dibuat tinggi hampir 1 meter. Desain bangunan ini melebar dengan dua daun pintu kembar, serta dua buah jendela pada sisi kiri dan kanan bangunan.

Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Diporabudpar) Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin menjelaskan, selain di Desa Bejijong, puluhan rumah majapahit juga dibangun di Desa Jatipasar dan Sentonorejo.

"Di Desa Sentonorejo 21 rumah, dan di Desa Jatipasar 22 rumah, keseluruhan 137 rumah. Anggaran totalnya Rp 7,38 miliar kita bagi untuk Desa Bejijong Rp 5 miliar, Jatipasar Rp 1,15 miliar dan Sentonorejo Rp 1,25 miliar," jelasnya.

Didik menambahkan, pembangunan kampung majapahit ini secara swakelola desa. Di setiap desa dibentuk 3 tim, yakni TPK, konsultan penrencanaan dan konsultan pengawas. Tim ini menangani secara penuh proses pembangunan, termasuk pengelolaan dananya.

ilustrasi-cowas-baru3SWsr.jpg

Ilustrasi cak gedhebug/cowasjp.com

Sementara terkait sumber dana, lanjut Didik dari APBD Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto tahun 2014. "Dari provinsi Rp 5,9 miliar, dari pemkab Rp 1,48 miliar. Dana tersebut dari kas daerah langsung ditransfer ke kas desa," imbuhnya. Pembangunan berlangsung sejak akhir November 2014. Sampai akhir tahun lalu, baru menyelesaikan 8 rumah. Tapi, hingga akhir 2015 baru  8 rumah sudah selesai dibangun. Antara lain 1 rumah masing-masing di Desa Bejijong dan Jatipasar, sedangkan 6 rumah lainnya di Desa Sentonorejo.

Sedangkan gaya arsitek dan  desain pembangunan rumah Majapahit bersumber dari kitab Negarakertagama. Desain Rumah Kampung Majapahit di Mojokerto, salah satunya berasal dari usulan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Usulan itu merujuk pada 3 sumber sejarah Majapahit. Yakni Kitab Negarakertagama, relief sejumlah candi dan penemuan artefak kuno.

"Kami dimintai usulan desainnya oleh Pemkab Mojokerto. Sumber datanya ada 3, yakni dari naskah Negarakertagama, data relief dan penemuan artefak kuno," ungkap Kasi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Trowulan, Widodo 

Widodo menjelaskan, relief-relief yang menggambarkan bentuk bangunan Rumah Majapahit pada masa lampau itu terdapat di sejumlah candi. Antara lain, Candi Minak Jinggo di Trowulan, Candi Jago di Malang, Candi Jawi di Pasuruan, dan Candi Penataran di Blitar.

"Dari data relief Candi Minak Jinggo, pola tata ruang perumahan zaman Majapahit berpagar. Perkampungan ini terdiri atas sejumlah perumahan yang dibatasi tembok pagar keliling," jelasnya.

Bentuk bangunan Rumah Majapahit, lanjut Widodo, menyerupai pendopo. Bangunan terbuka dengan tiang penyangga berjumlah 4, 6 sampai 8. Tiang penyangga itu terbuat dari kayu. Lantai rumah terbuat dari batu sungai yang ditutup dengan bata merah. Atap rumah berbentuk limas segitiga memanjang dari bahan kayu.

Desainnya Rumah Majapahit yang saat ini dibangun di Desa Bejijong, Jatipasar dan Sentonorejo sedikit berbeda dengan usulan BPCB Trowulan. Bangunan rumah ini dibuat tertutup.

Temboknya tersusun dari bata merah sehingga terlihat natural. Pondasi rumah tersusun dari batu dibuat tinggi hampir 1 meter. Desain bangunan ini melebar dengan dua daun pintu kembar yang terbuat dari kayu. Selain itu, terdapat dua buah jendela pada sisi kiri dan kanan bangunan.

Tapi pembangunan kampung Majapahit di Trowulan itu hingga kini masih jauh dari kenyataan dan masih sebatas mimpi. Meski sudah disiapkan dananya, tapi hingga kini masih menyisakan 127 unit rumah yang belum dibangun. Belum lagi merubah  mental calon penghuninya yang menjiwai kehidupan pada masa Majapahit lalu.

Karena untuk mewujudkan kampung Majapahit tidak cukup hanya menyiapkan sarana dan prasarananya saja, tapi gaya hidup masyarakatnya pada masa Majapahit tentunya harus disiapkan sejak dini. Masalahnya, rasanya belum lengkap jika kampung Majapahit itu dibangun tanpa dilengkapi dengan  membangun mental dan keberadaban masyarakat yang tinggal di kampung setempat.

(Dikutip dari berbagai sumber) 

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda